Nasehat Bagi Wanita yang Terlambat Menikah


Pertanyaan:

Saya ingin meminta saran kepada syaikh bahwa saya dan teman – teman senasib telah ditakdirkan untuk tidak merasakan nikmat nikah, sementara umur hampir menginjak masa putus harapan untuk menikah. Padahal Alhamdulillah saya dan teman – teman senasib memiliki akhlak yang cukup dan berpendidikan sarjana dan inilah nasib kita, Alhamdulillah. Yang membuat kaum lelaki tidak mau melamar kita disebabkan kondisi ekonomi yang kurang mendukung karena pernikahan di daerah kami dibiayai oleh kedua mempelai. Saya memohon nasehat syaikh untuk kami ?

Jawaban:

Nasehat saya untuk yang terlambat menikah hendaknya selalu berdo’a kepada Allah dengan penuh harapan dan keikhlasan, dan mempersiapkan diri untuk siap menerima lelaki yang shalih. Apabila seseorang jujur dan sungguh-sungguh dalam do’anya, disertai dengan adab do’a dan meninggalkan semua penghalang do’a, maka do’a tersebut akan terkabulkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. “ (Al-Baqarah : 186).

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Dan Tuhanmu berfirman: Berdo’alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu” (Al-Mukmin : 60).

Dalam ayat tersebut Allah menggantungkan terkabulnya do’a hamba-Nya setelah dia memenuhi panggilan dan perintah-Nya. Saya melihat, tidak ada sesuatu yang baik kecuali berdo’a dan memohon kepada Allah serta menunggu pertolongan dari-Nya.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya): “Ketahuilah sesungguhnya pertolongan diperoleh bersama kesabaran dam kemudahan selalu disertai kesulitan dan bersama kesulitan ada kemudahan.”

Saya memohon kepada Allah untuk kalian dan yang lainnya agar dimudahkan oleh Allah dalam seluruh urusannya dan semoga segera mempertemukan kalian dengan laki-laki yang shalih yang hanya menikah untuk kebaikan dunia dan agamanya.

BAGAIMANA MUSLIMAH BERHIAS


Oleh : Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

1. Hukum Memakai Pemerah Bibir (Lipstik)

2. Hukum Wanita Memakai Make-Up Untuk Suaminya

3. Bolehkah Wanita Memakai Sepatu Yang Bertumit Tinggi ?

4. Hukum Wanita Memotong Rambut Di Atas Pundak

5. Memakai Celak Bagi Wanita Dan Juga Bagi Lelaki?

1.Pertanyaan

Secara khusus, apa hukum memakai pemerah bibir (lipstik)?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menjawab, “Tidak mengapa memakai pemerah bibir. Karena hukum asal sesuatu itu halal sampai jelas keharamannya. Lipstik ini bukan dari jenis wasym/tato (Sementara untuk tato ini terdapat keterangan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melaknat wanita yang membuat tato dan wanita yang minta ditato (HR. Al-Bukhari dan Muslim)., karena wasym itu menanam salah satu warna di bawah kulit. Perbuatan ini diharamkan, bahkan termasuk dosa besar. Akan tetapi bila lipstik tersebut jelas memberikan madharat bagi bibir, membuat bibir kering dan kehilangan kelembabannya, maka terlarang. Pernah disampaikan kepada saya, lipstik tersebut terkadang membuat bibir pecah. Bila memang pasti hal yang demikian, maka seorang insan dilarang melakukan perkara yang dapat memadharatkan dirinya.” (Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 35)

2.Pertanyaan

Apakah diperkenankan seorang wanita memakai make-up untuk suaminya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu menjawab, “Seorang istri berhias untuk suaminya dalam batasan-batasan yang disyariatkan, merupakan perkara yang memang sepantasnya dilakukan oleh seorang istri. Karena setiap kali si istri berhias untuk tampil indah di hadapan suaminya, jelas hal itu akan lebih mengundang kecintaan suaminya kepadanya dan akan lebih merekatkan hubungan antara keduanya. Hal ini termasuk tujuan syariat. Bila make-up itu memang mempercantik si wanita dan tidak memadharatkannya, tidaklah mengapa dipakai dan tidak ada dosa. Namun masalahnya, saya pernah mendengar make-up tersebut bisa berdampak buruk pada kulit wajah, serta mengubah kulit wajah si wanita di kemudian hari menjadi rusak sebelum masanya rusak disebabkan usia. Karena itu saya menyarankan agar para wanita bertanya kepada dokter tentang hal tersebut. Bila memang demikian dampak/efek samping make-up, maka pemakaian make-up bisa jadi haram atau minimalnya makruh. Karena segala sesuatu yang mengantarkan manusia pada keburukan dan kejelekan, hukumnya haram atau makruh.

Kesimpulannya dalam masalah make-up ini, kami melarangnya bila memang make-up tersebut hanya menghiasi wajah sesaat, tetapi membuat madharat yang besar bagi wajah dalam jangka lama. Karena itulah kami menasihatkan kepada para wanita agar tidak memakai make-up disebabkan madharatnya yang pasti.” (Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 11-12, 35-36)

3.Pertanyaan

Marak di kalangan remaja putri kebiasaan memotong rambut hingga pundak dalam rangka berdandan. Demikian pula memakai sepatu bertumit sangat tinggi dan bermake-up. Lantas apa hukum dari perbuatan-perbuatan tersebut?

Pertanyaan berikutnya, apa hukum memakai celak bagi wanita dan juga bagi lelaki?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Al-’Allamah Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu memberikan fatwa dalam masalah di atas, “Potongan rambut wanita bisa jadi modelnya menyerupai potongan rambut laki-laki dan bisa jadi tidak. Bila sekiranya modelnya seperti potongan rambut laki-laki maka hukumnya haram dan termasuk dosa besar, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang tasyabbuh/menyerupai laki-laki (HR. Al-Bukhari, Kitab Al-Libas, bab Al-Mutasyabbihina bin Nisa’ wal Mutasyabbihat bir Rijal)

Bila modelnya tidak sampai menyerupai laki-laki, maka ulama berbeda pendapat hingga menjadi tiga pendapat. Di antara mereka ada yang mengatakan boleh, tidak mengapa. Di antaranya ada yang berpendapat haram. Pendapat yang ketiga mengatakan makruh. Yang masyhur dari madzhab Al-Imam Ahmad rahimahullahu adalah perbuatan tersebut makruh.

Sebenarnya, memang tidak sepantasnya kita menerima segala kebiasaan dari luar yang datang pada kita. Belum lama dari zaman ini, kita melihat para wanita berbangga dengan rambut mereka yang lebat dan panjang. Tapi kenapa keadaan mereka pada hari ini demikian bersemangat memendekkan rambut mereka? Mereka telah mengadopsi kebiasaan yang datang dari luar negeri kita. Saya tidaklah bermaksud mengingkari segala sesuatu yang baru. Namun saya mengingkari segala sesuatu yang mengantarkan perubahan masyarakat dari kebiasaan yang baik menuju kepada kebiasaan yang diambil dari selain kaum muslimin.

Adapun sandal ataupun sepatu yang tinggi, tidak boleh digunakan apabila tingginya di luar kebiasaan, mengantarkan pada tabarruj, dan (dengan maksud) mengesankan si wanita tinggi serta menarik pandangan mata lelaki. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Janganlah kalian bertabarruj sebagaimana tabarrujnya orang-orang jahiliah yang awal.” (Al-Ahzab: 33)

Maka, segala sesuatu yang membuat wanita melakukan tabarruj, membuat ia tampil beda daripada wanita lainnya, dengan maksud berhias, maka haram, tidak boleh dilakukannya.

Tentang pemakaian make up, tidak mengapa bila memang tidak memberi madharat atau membuat fitnah.

Masalah bercelak ada dua macam:

Pertama: Bercelak dengan tujuan menajamkan pandangan mata dan menghilangkan kekaburan dari mata, membersihkan mata dan menyucikannya tanpa ada maksud berdandan. Hal ini diperkenankan. Bahkan termasuk perkara yang semestinya dilakukan (bagi lelaki maupun wanita, pen.) Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mencelaki kedua mata beliau, terlebih lagi bila bercelak dengan itsmid (Celak jenis tertentu).

Kedua: Bercelak dengan tujuan berhias dan dipakai sebagai perhiasan. Hal ini dituntut untuk dilakukan para wanita/istri, karena seorang istri dituntut berhias untuk suaminya. Adapun bila lelaki memakai celak dengan tujuan yang kedua ini maka harus ditinjau ulang masalah hukumnya. Saya sendiri bersikap tawaqquf (tidak melarang tapi tidak pula membolehkan, pen.) dalam masalah ini. Terkadang pula dibedakan dalam hal ini antara pemuda yang dikhawatirkan bila ia bercelak akan menimbulkan fitnah, maka ia dilarang memakai celak, dengan orang tua (lelaki yang tidak muda lagi) yang tidak dikhawatirkan terjadi fitnah bila ia bercelak.” (Majmu’ah As’ilah Tuhimmu Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 8-11)

Dalam masalah sepatu bertumit tinggi, Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Ifta’ yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Al-Walid Abdul Aziz ibn Abdillah ibnu Baz rahimahullahu memfatwakan, “Memakai sepatu bertumit tinggi tidak boleh, karena dikhawatirkan wanita yang memakainya berisiko jatuh. Sementara seseorang diperintah secara syar’i untuk menjauhi bahaya berdasarkan keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

Janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian kepada kebinasaan.” (Al-Baqarah: 195)

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ

Janganlah kalian membunuh jiwa kalian.” (An-Nisa’: 29)

Selain itu, sepatu bertumit tinggi akan menampakkan tubuh wanita lebih dari yang semestinya (lebih tinggi dari postur sebenarnya, pen.). Tentunya yang seperti ini mengandung unsur penipuan. Dengan memakai sepatu bertumit tinggi berarti menampakkan sebagian perhiasan yang sebenarnya dilarang untuk ditampakkan oleh wanita muslimah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ

Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami-suami mereka atau bapak-bapak mereka atau bapak-bapak mertua mereka (ayah suami) atau anak-anak laki-laki mereka atau anak-anak laki-laki dari suami-suami mereka atau saudara-saudara laki-laki mereka atau anak-anak laki-laki dari saudara laki-laki mereka (keponakan laki-laki dari saudara lelaki) atau keponakan laki-laki dari saudara perempuan mereka atau di hadapan wanita-wanita mereka.” (An-Nur: 31) [Fatwa no. 1678, Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 17/123-124]

NASEHAT KEMATIAN


 

Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Al-Bara` bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu berkisah,

“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengantar jenazah seorang dari kalangan Anshar. Kami tiba di pemakaman dan ketika itu lahadnya sedang dipersiapkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk. Kami pun ikut duduk di sekitar beliau dalam keadaan terdiam, tak bergerak. Seakan-akan di atas kepala kami ada burung yang kami khawatirkan terbang. Di tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu ada sebuah ranting yang digunakannya untuk mencocok-cocok tanah.
Mulailah beliau melihat ke langit dan melihat ke bumi, mengangkat pandangannya dan menundukkannya sebanyak tiga kali. Kemudian bersabda,
“Hendaklah kalian meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari adzab kubur,” diucapkannya sebanyak dua atau tiga kali, lalu beliau berdoa,
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur,” pinta beliau sebanyak tiga kali.
Setelahnya beliau bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba yang mukmin apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya para malaikat dari langit. Wajah-wajah mereka putih laksana mentari. Mereka membawa kain kafan dan wangi-wangian dari surga. Mereka duduk dekat si mukmin sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut ‘alaihissalam hingga duduk di sisi kepala si mukmin seraya berkata,
“Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ruh yang baik itu pun mengalir keluar sebagaimana mengalirnya tetesan air dari mulut wadah kulit. Malaikat maut mengambilnya.
(Dalam satu riwayat disebutkan: Hingga ketika keluar ruhnya dari jasadnya, seluruh malaikat di antara langit dan bumi serta seluruh malaikat yang ada di langit mendoakannya. Lalu dibukakan untuknya pintu-pintu langit. Tidak ada seorang pun malaikat yang menjaga pintu malaikat kecuali mesti berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si mukmin diangkat melewati mereka).

Ketika ruh tersebut telah diambil oleh malaikat maut, tidak dibiarkan sekejap matapun berada di tangannya melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah putih.
Mereka meletakkan/membungk us ruh tersebut di dalam kafan dan wangi-wangian yang mereka bawa. Dan keluarlah dari ruh tersebut wangi yang paling semerbak dari aroma wewangian yang pernah tercium di muka bumi.
Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik. Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya,
“Siapakah ruh yang baik ini?”
Para malaikat yang membawanya menjawab,
“Fulan bin Fulan,”
disebut namanya yang paling bagus yang dulunya ketika di dunia orang-orang menamakannya dengan nama tersebut.
Demikian, hingga rombongan itu sampai ke langit dunia. Mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut.
Lalu dibukakanlah pintu langit. Penghuni setiap langit turut mengantarkan ruh tersebut sampai ke langit berikutnya, hingga mereka sampai ke langit ke tujuh.


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Tulislah catatan amal hamba-Ku ini di ‘Illiyin dan kembalikanlah ia ke bumi karena dari tanah mereka Aku ciptakan, ke dalam tanah mereka akan Aku kembalikan, dan dari dalam tanah mereka akan Aku keluarkan pada kali yang lain.”

Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah.
Maka sungguh ia mendengar suara sandal orang-orang yang mengantarnya ke kuburnya ketika mereka pergi meninggalkannya.
Lalu ia didatangi dua orang malaikat yang sangat keras hardikannya, keduanya menghardiknya, mendudukkannya lalu menanyakan padanya,
“Siapakah Rabbmu?”
Ia menjawab, “Rabbku adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ditanya lagi, “Apa agamamu?”
“Agamaku Islam,” jawabnya.
“Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malaikat lagi
“Dia adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,” jawabnya
“Apa amalmu?” pertanyaan berikutnya
“Aku membaca Kitabullah, lalu aku beriman dan membenarkannya,” jawabnya.

Ini adalah fitnah/ujian yang akhir yang diperhadapkan kepada seorang mukmin.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkannya sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
يُثَبِّتُ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي اْلآخِرَةِ

“Allah menguatkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang tsabit/kokoh dalam kehidupan dunia dan dalam kehidupan akhirat.” (Ibrahim: 27)

Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan,
“Telah benar hamba-Ku. Maka bentangkanlah untuknya permadani dari surga. Pakaikanlah ia pakaian dari surga, dan bukakan untuknya sebuah pintu ke surga!”

Lalu datanglah kepada si mukmin ini wangi dan semerbaknya surga serta dilapangkan baginya kuburnya sejauh mata memandang.
Kemudian ia didatangi oleh seseorang yang berwajah bagus, berpakaian bagus dan harum baunya, seraya berkata,
“Bergembiralah dengan apa yang menggembirakanmu.
Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.”
Si mukmin bertanya dengan heran,
“Siapakah engkau? Wajahmu merupakan wajah yang datang dengan kebaikan.”
“Aku adalah amal shalihmu. Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu melainkan seorang yang bersegera menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan lambat dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kebaikan,” jawab yang ditanya

Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu surga dan sebuah pintu neraka, lalu dikatakan,
“Ini adalah tempatmu seandainya engkau dulunya bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala menggantikan bagimu dengan surga ini.”

Maka bila si mukmin melihat apa yang ada dalam surga, ia pun berdoa,
“Wahai Rabbku, segerakanlah datangnya hari kiamat agar aku dapat kembali kepada keluarga dan hartaku.”
Dikatakan kepadanya, “Tinggallah engkau.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan penuturan beliau tentang perjalanan ruh.
Beliau bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba yang kafir (dalam satu riwayat: hamba yang fajir) apabila akan meninggalkan dunia dan menuju ke alam akhirat, turun kepadanya dari langit para malaikat yang keras, kaku, dan berwajah hitam.
Mereka membawa kain yang kasar dari neraka. Mereka duduk dekat si kafir sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut hingga duduk di sisi kepala si kafir seraya berkata,

“Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Ruh yang buruk itu pun terpisah-pisah/ berserakan dalam jasadnya, lalu ditarik oleh malaikat maut sebagaimana dicabutnya besi yang banyak cabangnya dari wol yang basah, hingga tercabik-cabik urat dan sarafnya.
Seluruh malaikat di antara langit dan bumi dan seluruh malaikat yang ada di langit melaknatnya. Pintu-pintu langit ditutup. Tidak ada seorang pun malaikat penjaga pintu kecuali berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ruh si kafir jangan diangkat melewati mereka.
Kemudian malaikat maut mengambil ruh yang telah berpisah dengan jasad tersebut, namun tidak dibiarkan sekejap mata pun berada di tangan malaikat maut melainkan segera diambil oleh para malaikat yang berwajah hitam lalu dibungkus dalam kain yang kasar.
Dan keluarlah dari ruh tersebut bau bangkai yang paling busuk yang pernah didapatkan di muka bumi. Kemudian para malaikat membawa ruh tersebut naik.
Tidaklah mereka melewati sekelompok malaikat kecuali mesti ditanya,
“Siapakah ruh yang buruk ini?”
Para malaikat yang membawanya menjawab,
“Fulan bin Fulan,”
disebut namanya yang paling jelek yang dulunya ketika di dunia ia dinamakan dengannya.
Demikian, hingga rombongan itu sampai ke langit dunia, mereka pun meminta dibukakan pintu langit untuk membawa ruh tersebut, namun tidak dibukakan.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat:
لاَ تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلاَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Tidak dibukakan untuk mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak akan masuk ke dalam surga sampai unta bisa masuk ke lubang jarum.” (Al-A’raf: 40)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
‘Tulislah catatan amalnya di Sijjin, di bumi yang paling bawah.’
Lalu ruhnya dilemparkan begitu saja.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian membaca ayat:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

“Dan siapa yang menyekutukan Allah maka seakan-akan ia jatuh tersungkur dari langit lalu ia disambar oleh burung atau diempaskan oleh angin ke tempat yang jauh lagi membinasakan.” (Al-Hajj: 31)

Si ruh pun dikembalikan ke dalam jasadnya yang dikubur dalam bumi/tanah.
Lalu ia didatangi dua orang malaikat yang sangat keras hardikannya.
Keduanya menghardiknya, mendudukkannya dan menanyakan kepadanya,
“Siapakah Rabbmu?”
Ia menjawab, “Hah… hah… Aku tidak tahu.”
Ditanya lagi, “Apa agamamu?”
“Hah… hah… Aku tidak tahu,” jawabnya.
“Siapakah lelaki yang diutus di tengah kalian?” tanya dua malaikat lagi.
Kembali ia menjawab, “Hah… hah… aku tidak tahu.”

Terdengarlah suara seorang penyeru dari langit yang menyerukan,
“Telah dusta orang itu.
Maka bentangkanlah untuknya hamparan dari neraka dan bukakan untuknya sebuah pintu ke neraka!”

Lalu datanglah kepadanya hawa panasnya neraka dan disempitkan kuburnya hingga bertumpuk-tumpuk/ tumpang tindih tulang rusuknya (karena sesaknya kuburnya).
Kemudian seorang yang buruk rupa, berpakaian jelek dan berbau busuk mendatanginya seraya berkata,
“Bergembiralah dengan apa yang menjelekkanmu.
Inilah harimu yang pernah dijanjikan kepadamu.”

Si kafir bertanya dengan heran,
“Siapakah engkau?
Wajahmu merupakan wajah yang datang dengan kejelekan.”

“Aku adalah amalmu yang jelek.
Demi Allah, aku tidak mengetahui dirimu ini melainkan sebagai orang yang lambat untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun sangat bersegera dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalasmu dengan kejelekan,” jawab yang ditanya.

Kemudian didatangkan kepadanya seorang yang buta, bisu lagi tuli.
Di tangannya ada sebuah tongkat dari besi yang bila dipukulkan ke sebuah gunung niscaya gunung itu akan hancur menjadi debu.
Lalu orang yang buta, bisu dan tuli itu memukul si kafir dengan satu pukulan hingga ia menjadi debu. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengembalikan jasadnya sebagaimana semula, lalu ia dipukul lagi dengan pukulan berikutnya.
Ia pun menjerit dengan jeritan yang dapat didengar oleh seluruh makhluk, kecuali jin dan manusia. Kemudian dibukakan untuknya sebuah pintu neraka dan dibentangkan hamparan neraka,
maka ia pun berdoa,
“Wahai Rabbku! Janganlah engkau datangkan hari kiamat.”

(HR. Ahmad 4/287, 288, 295, 296, Abu Dawud no. 3212, 4753, dll, dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Abi Dawud dan Ahkamul Jana`iz hal. 202)

Meringankan sakaratul maut

Tiada saat paling menyakitkan dalam kehidupan kita kecuali saat kita menghadapi Sakratul-maut (kesakitan saat maut).

Diriwayatkan dari Al-Hasan bahwa suatu ketika Rasulullah (S.A.W.) menyebut-nyebut kematian, cekikan, dan rasa pedih. Beliau bersabda, “Sakitnya sama dengan tiga ratus tusukan pedang.” (Ibn Abi’l-Dunya, K. Al-Maut, Zabiidii, X.260)

Suatu ketika Beliau (S.A.W.)  pernah ditanya tentang pedihnya kematian. Dan Beliau menjawab, “Kematian yang paling mudah ialah serupa dengan sebatang pohon berduri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang terkoyak?”(Ibn Abi’l-Dunya, K. Al-Maut, Zabiidii, X.260)

Demikianlah sedikit gambaran tentang saat kita dicabut nyawanya nanti. Nyawa kita dan jasad kita sudah seperti batang berduri yang menancap di kain sutera. Apabila batang berduri tersebut dicabut tentunya akan merusak kain sutera yang menempel padanya.

Rasulullah (S.A.W.) pun pernah berdoa untuk meringankan Sakratulmaut untuk dirinya. Nabi (S.A.W.) bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya engkau telah mencabut nyawa dari urat-urat, tulang hidung dan ujung-ujung jari. Ya Allah, tolonglah aku dalam kematian, dan ringankanlah dia (Sakratulmaut) atas diriku.” (Ibn Abi’l-Dunya, K. Al-Maut, Zabiidii, X.260)

Salah satu cara untuk meringankan Sakratulmaut.

Dalam buku Fiqh-Us-Sunnah karangan Sayyid Sabiq, disebutkan Rasulullah (S.A.W.) pernah bersabda: “Sadaqah meredakan kemarahan Allah dan menangkal (mengurangi) kepedihan saat maut (Sakratulmaut).”

Rasulullah (S.A.W.) juga pernah bersabda, “Sadaqah dari seorang Muslim menigkatkan (hartanya) dimasa kehidupannya. Dan juga meringankan kepedihan saat maut (Sakratulmaut), dan melauinya (sadaqah) Allah menghilangkan perasaan sombong dan egois.  (Fiqh-us-Sunnah vol. 3, hal 97)

Allah berfirman: “Dan datanglah sakaratul-maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (Al-Qur’an 50:19)

77 Cabang Iman


Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Iman itu memiliki tujuh puluh cabang (riwayat lain tujuh puluh tujuh cabang) dan yang paling utama ialah Laa ilaaha illa Allah, dan yang terendah ialah mebuang duri dari jalan. Dan malu juga merupakan salah satu cabang iman.” (Ashhabus Sittah).

Banyak ahli hadits yang menulis risalah mengenai cabang iman di antaranya ialah : Abu Abdillah Halimi rah a dalam Fawaidul Minhaj, Imam Baihaqi rah a dalam Syu’bul Iman, Syaikh Abdul Jalil rah a dalam Syu’bul Iman, Ishaq bin Qurthubi rah a dalam An Nashaih, dan Imam Abu Hatim rah a dalam Washful Iman wa Syu’buhu.

Para pensyarah kitab Bukhari rah a menjelaskan serta mengumpulkan ringkasan masalah ini dalam kitab-kitab tersebut. Walhasil pada hakikatnya iman yang sempurna itu mempunyai 3 (tiga) bagian :

  1. Tashdiq bil Qalbi, yaitu meyakini dengan hati,
  2. Iqrar bil Lisan, mengucapkan dengan lisan, dan
  3. Amal bil Arkan, mengamalkan dengan anggota badan.

Cabang iman terbagi lagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu yang berhubungan dengan :

1)      Niat, aqidah, dan amalan hati;

2)      Lidah; dan

3)      Seluruh anggota tubuh.

  1. Yang Berhubungan dengan Niat, Aqidah, dan Hati

1)      Beriman kepada Allah, kepada Dzat-Nya, dan segala sifat-Nya, meyakini bahwa Allah adalah Maha Suci, Esa, dan tiada bandingan serta perumpamaannya.

2)      Selain Allah semuanya adalah ciptaan-Nya. Dialah yang Esa.

3)      Beriman kepada para malaikat.

4)      Beriman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para Rasul-Nya.

5)      Beriman kepada para Rasul.

6)      Beriman kepada takdir yang baik maupun buruk, bahwa semua itu dating dari Allah.

7)      Beriman kepada hari Kiamat, termasuk siksa dan pertanyaan di dalam kubur, kehidupan setelah mati, hisab, penimbangan amal, dan menyeberangi shirat.

8)      Meyakini akan adanya Syurga dan Insya Allah semua mukmin akan memasukinya.

9)      Meyakini neraka dan siksanya yang sangat pedih untuk selamanya.

10)  Mencintai ALLAH

11)  Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah termasuk mencintai para sahabat, khususnya Muhajirin dan Anshar, juga keluarga Nabi Muhammad saw dan keturunannya.

12)  Mencintai Rasulullah saw, termasuk siapa saja yang memuliakan beliau, bershalawat atasnya, dan mengikuti sunnahnya.

13)  Ikhlash, tidak riya dalam beramal dan menjauhi nifaq.

14)  Bertaubat, menyesali dosa-dosanya dalam hati disertai janji tidak akan mengulanginya lagi.

15)  Takut kepada Allah.

16)  Selalu mengharap Rahmat Allah.

17)  Tidak berputus asa dari Rahmat Allah.

18)  Syukur.

19)  Menunaikan amanah.

20)  Sabar.

21)  Tawadhu dan menghormati yang lebih tua.

22)  Kasih saying, termasuk mencintai anak-anak kecil.

23)  Menerima dan ridha dengan apa yang telah ditakdirkan.

24)  Tawakkal.

25)  Meninggalkan sifat takabbur dan membanggakan diri, termasuk menundukkan hawa nafsu.

26)  Tidak dengki dan iri hati.

27)  Rasa malu.

28)  Tidak menjadi pemarah.

29)  Tidak menipu, termasuk tidak berburuk sangka dan tidak merencanakan keburukan atau maker kepada siapapun.

30)  Mengeluarkan segala cinta dunia dari hati, termasuk cinta harta dan pangkat.

2. Yang Berhubungan dengan Lidah

31)  Membaca kalimat Thayyibah.

32)  Membaca Al Quran yang suci.

33)  Menuntut ilmu.

34)  Mengajarkan ilmu.

35)  Berdoa.

36)  Dzikrullah, termasuk istighfar.

37)  Menghindari bicara sia-sia.

3. Yang berhubungan dengan Anggota Tubuh

38)  Bersuci. Termasuk kesucian badan, pakaian, dan tempat tinggal.

39)  Menjaga shalat. Termasuk shalat fardhu, sunnah, dan qadha’.

40)  Bersedekah. Termasuk zakat fitrah, zakat harta, member makan, memuliakan tamu, serta membebaskan hamba sahaya.

41)  Berpuasa, wajib maupun sunnah.

42)  Haji, fardhu maupun sunnah.

43)  Beriktikaf, termasuk mencari lailatul qadar di dalamnya.

44)  Menjaga agama dan meninggalkan rumah untuk berhijrah sementara waktu.

45)  Menyempurnakan nazar.

46)  Menyempurnakan sumpah.

47)  Menyempurnakan kifarah.

48)  Menutup aurat ketika shalat dan di luar shalat.

49)  Berkorban hewan, termasuk memperhatikan hewan korban yang akan disembelih dan menjaganya dengan baik.

50)  Mengurus jenazah.

51)  Menunaikan utang.

52)  Meluruskan mu’amalah dan meninggalkan riba.

53)  Bersaksi benar dan jujur, tidak menutupi kebenaran.

54)  Menikah untuk menghindari perbuatan keji dan haram.

55)  Menunaikan hak keluarga dan sanak kerabat, serta menunaikan hak hamba sahaya.

56)  Berbakti dan menunaikan hak orang tua.

57)  Mendidikan anak-anak dengan tarbiyah yang baik.

58)  Menjaga silaturrahmi.

59)  Taat kepada orang tua atau yang dituakan dalam agama.

60)  Menegakkan pemerintahan yang adil

61)  Mendukung jemaah yang bergerak di dalam kebenaran.

62)  Mentaati hakim (pemerintah) dengan syarat tidak melanggar syariat.

63)  Memperbaiki mu’amalah dengan sesama.

64)  Membantu orang lain dalam kebaikan.

65)  Amar makruh Nahi Mungkar.

66)  Menegakkan hukum Islam.

67)  Berjihad, termasuk menjaga perbatasan.

68)  Menunaikan amanah, termasuk mengeluarkan 1/5 harta rampasan perang.

69)  Memberi dan membayar utang.

70)  Memberikan hak tetangga dan memuliakannya.

71)  Mencari harta dengan cara yang halal.

72)  Menyumbangkan harta pada tempatnya, termasuk menghindari sifat boros dan kikir.

73)  Memberi dan menjawab salam.

74)  Mendoakan orang yang bersin.

75)  Menghindari perbuatan yang merugikan dan menyusahkan orang lain.

76)  Menghindari permainan dan senda gurau.

77)  Menjauhkan benda-benda yang mengganggu di jalan.

BURUNG BERBULU INDAH


ALLOH ITU INDAH DAN MENYUKAI KEINDAHAN….

SUBHANALLOH………..SUBHANLLOH………SUBHANALLOH

Hornbill by PadinPhotography.

Spoiler for burung:
Spoiler for burung:
Spoiler for burung:
Spoiler for burung:
Spoiler for burung:
Spoiler for burung:
Spoiler for burung:

Yellow bird eating by Zahari Photography.

Spoiler for burung:

come fly with me by tunachilli.

Spoiler for burung:
Spoiler for burung:

Spoiler for burung:

Peacock in Oviedo by Sekitar (away til march).

Spoiler for burung:

Barred-eagle Owl Close-up by tropicaLiving.

Spoiler for burung:

Bird in Bali by guiguibu91.

Spoiler for burung:
Spoiler for burung:
Spoiler for burung:

Lookin' good by Lina-Sydney.

Spoiler for burung:
Spoiler for burung:

http://farm3.static.flickr.com/2744/4107438007_d38c885611.jpg

Warna - Warni by ~DocBudie~ [Toba Series-Part 2].

Green Parrot (Eclectus Parrot) by ~DocBudie~ [Toba Series-Part 2].

cenderawasih | bird of paradise by perakman.

Eagle / Helang by Firdaus™.

PIKIRKAN SEBELUM CERAI


ALTERNATIF PEMECAHAN PROBLEMATIKA SUAMI ISTRI SEBELUM TALAK

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Islam tidak menetapkan talak kecuali sebagai alternatif terakhir untuk mengatasi problema suami istri. Islam telah menetapkan langkah-langkah pendahuluan sebelum memilih talak. Kami mohon perkenan Syaikh untuk membahas tentang cara-cara pemecahan yang digariskan Islam untuk mengatasi perselisihan antara suami istri sebelum memilih talak (bercerai).

Jawaban
Allah telah mensyariatkan perbaikan antara suami istri dan menempuh cara-cara yang dapat menyatukan kembali mereka dan menghindari akibat buruk perceraian. Di antaranya adalah pemberian nasehat, pisah ranjang dan pukullah yang ringan jika nasehat dan pisah ranjang tidak berhasil, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.[An-Nisa : 34]

Setelah cara itu, jika tidak berhasil juga, maka masing-masing suami dan istri mengutus hakam (penengah) dari keluarga masing-masing saat terjadi persengketaan antara keduanya. Kedua hakam ini bertugas mencari solusi perdamaian bagi kedua suami istri tersebut, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.[An-Nisa : 35]

Jika cara-cara tadi telah ditempuh namun perdamaian tidak kunjung terjadi, sementara perselisihan terus saja berlanjut, maka Allah mensyari’atkan bagi suami untuk mentalak (istrinya), jika penyebabnya berasal darinya, dan mensyariatkan bagi istri untuk menebus dirinya dengan harta jika suaminya tidak menceraikannya jika sebabnya berasal darinya, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya’. [Al-Baqarah : 229]

Karena bercerai dengan cara yang baik adalah lebih baik dari pada terus menerus dalam perselisihan dan persengketaan sehingga tidak tercapainya maksud-maksud pernikahan yang telah ditetapkan syari’at.

Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karuniaNya. Dan adalah Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Bijaksana”. [An-Nisa : 130]

Benarlah apa yang diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ketika istri Tsabit bin Qais Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu menyatakan tidak bisa melanjutkan rumah tangga dengannya karena tidak mencintainya, dan ia bersedia menyerahkan kembali kebun kepadanya yang dulu dijadikan sebagai mahar pernikahannya, beliau menyuruh Tsabit untuk menceraikannya, maka Tsabit pun melaksanakannya. Demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab shahihnya. Hanya Allahlah pemberi petunjuk. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan atas Nabi kita Muhammad semua keluarga dan para sahabatnya.

[Majalah Ad-Da'wah, edisi 1318, Syaikh Ibnu Baz]

SELANJUTNYA BACA DI…

Nikah

Kapan Wanita Dinyatakan Tertalak ? Dan Apa Hikmah Dalam Perceraian ?

Isteri Meminta Talak Karena Suami Meninggalkan Shalat

Talak Tiga Dengan Satu Ucapan, Hukum Menceraikan Isteri Hamil

Jika Kamu Tinggal Bersama Keluargamu, Maka Kamu Bukan Isteriku Lagi (Tertalak)

Isteri Meminta Talak Karena Suami Pemabuk

Sebab Terjadinya Talak, Kedudukan Hadits Sesuatu Yang Halal Yang Paling Dibenci Allah Adalah Talak

Talak Hanya Diketahui Suami Sendiri, Mewakilkan Dalam Mentalak Isteri

Isteri Meminta Talak Karena Suami Pecandu Narkoba, Impoten Dan Mandul

Hukum Talak Yang Bisa Di Rujuk, Sahkah Rujuk Yang Dilaksanakan Setelah Haid Ketiga Tapi Belum Mandi?

10 Berita Kematian Hati


1. Kalian telah mengetahui, telah mengerti siapa Allah itu, tetapi kalian tidak menunaikan hak Nya.

2. Kalian telah membaca Al Qur’an tetapi tidak mengamalkannya.

3. Kalian mengaku cinta Rasulullah, tetapi meninggalkan sunnanya.

4. Kalian mengaku bermusuhan dengan syetan tetapi kalian taat dan bersekutu dengannya.

5. kalian menyatakan ingin masuk syurga, tetapi tidak mau beramal untuknya.

6. kalian mengatakan ingin selamat dari neraka, tapi kalian melemparkan diri sendiri kedalamnya.

7. Kalian mengatakan bahwa mati itu pasti, tapi kalian tidak siap-siap menghadapinya.

8. Kalian sibuk dengan aib saudaramu, sehingga kalian tidak sempat melihat aib sendiri.

9. Kalian telah makan nikmat Tuhan mu, tapi kalian tidak bersyukur kepada Nya.

10. Kalian telah mengubur orang-orang mati tapi kalian tidak mengambil pelajaran daripadanya.

Al-Khulu’, Gugatan Cerai Dalam Islam



Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi

Sakinah, mawaddah dan kasih sayang adalah asas dan tujuan disyariatkannya pernikahan dan pembentukan rumah tangga. Dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” [Ar-Rum : 21]

Namun kenyataannya banyak terjadi dalam kehidupan berkeluarga timbul masalah-masalah yang mendorong seorang isteri melakukan gugatan cerai dengan segala alasan. Fenomena ini banyak terjadi dalam media massa, sehingga diketahui khalayak ramai. Yang pantas disayangkan, mereka tidak segan-segan membuka rahasia rumah tangga, hanya sekedar untuk bisa memenangkan gugatan,. Padahal, semestinya persoalan gugatan cerai ini harus dikembalikan kepada agama, dan menimbangnya dengan Islam. Dengan demikian, kita semua dapat ber-Islam dengan kaffah (sempurna dan menyeluruh).

PENGERTIAN GUGATAN CERAI
Gugatan cerai, dalam bahasa Arab disebut Al-Khulu. Kata Al-Khulu dengan didhommahkan hurup kha’nya dan disukunkan huruf Lam-nya, berasal dari kata ‘khul’u ats-tsauwbi. Maknanya melepas pakaian. Lalu digunakan untuk istilah wanita yang meminta kepada suaminya untuk melepas dirinya dari ikatan pernikahan yang dijelaskan Allah sebagai pakaian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”[Al-Baqarah : 187]

Sedangkan menurut pengertian syari’at, para ulama mengatakan dalam banyak defenisi, yang semuanya kembali kepada pengertian, bahwasanya Al-Khulu ialah terjadinya perpisahan (perceraian) antara sepasang suami-isteri dengan keridhaan dari keduanya dan dengan pembayaran diserahkan isteri kepada suaminya [1]. Adapaun Syaikh Al-Bassam berpendapat, Al-Khulu ialah perceraian suami-isteri dengan pembayaran yang diambil suami dari isterinya, atau selainnya dengan lafazh yang khusus” [2]

HUKUM AL-KHULU’
Al-Khulu disyariatkan dalam syari’at Islam berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim’ [Al-Baqarah : 229]

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma.

“Isteri Tsabit bin Qais bin Syammas mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata ; “Wahai Rasulullah, aku tidak membenci Tsabit dalam agama dan akhlaknya. Aku hanya takut kufur”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Maukah kamu mengembalikan kepadanya kebunnya?”. Ia menjawab, “Ya”, maka ia mengembalikan kepadanya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, dan Tsabit pun menceraikannya” [HR Al-Bukhari]

Demikian juga kaum muslimin telah berijma’ pada masalah tersebut, sebagaimana dinukilkan Ibnu Qudamah [3], Ibnu Taimiyyah [4], Al-Hafizh Ibnu Hajar [5], Asy-Syaukani [6], dan Syaikh Abdullah Al-Basam [7], Muhammad bin Ali Asy-Syaukani menyatakan, para ulama berijma tentang syari’at Al-Khulu, kecuali seorang tabi’in bernama Bakr bin Abdillah Al-Muzani… dan telah terjadi ijma’ setelah beliau tentang pensyariatannya. [8]

KETENTUAN HUKUM AL-KHULU[9]
Menurut tinjauan fikih, dalam memandang masalah Al-Khulu terdapat hukum-hukum taklifi sebagai berikut.

[1]. Mubah (Diperbolehkan).
Ketentuannya, sang wanta sudah benci tinggal bersama suaminya karena kebencian dan takut tidak dapat menunaikan hak suaminya tersebut dan tidak dapat menegakkan batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ketaatan kepadanya, dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya” [Al-Baqarah : 229]

Al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan ketentuan dalam masalah Al-Khulu ini dengan pernyataannya, bahwasanya Al-Khulu, ialah seorang suami menceraikan isterinya dengan penyerahan pembayaran ganti kepada suami. Ini dilarang, kecuali jika keduanya atau salah satunya merasa khawatir tidak dapat melaksanakan apa yang diperintahkan Allah. Hal ini bisa muncul karena adanya ketidaksukaan dalam pergaulan rumah tangga, bisa jadi karena jeleknya akhlak atau bentuk fisiknya. Demikian juga larangan ini hilang, kecuali jika keduanya membutuhkan penceraian, karena khawatir dosa yang menyebabkan timbulnya Al-Bainunah Al-Kubra (Perceraian besar atau Talak Tiga) [10]

Syaikh Al-Bassam mengatakan, diperbolehkan Al-Khulu (gugat cerai) bagi wanita, apabila sang isteri membenci akhlak suaminya atau khawatir berbuat dosa karena tidak dapat menunaikan haknya. Apabila sang suami mencintainya, maka disunnahkan bagi sang isteri untuk bersabar dan tidak memilih perceraian. [11]

[2]. Diharamkan Khulu’, Hal Ini Karena Dua Keadaan.
a). Dari Sisi Suami.
Apabila suami menyusahkan isteri dan memutus hubungan komunikasi dengannya, atau dengan sengaja tidak memberikan hak-haknya dan sejenisnya agar sang isteri membayar tebusan kepadanya dengan jalan gugatan cerai, maka Al-Khulu itu batil, dan tebusannya dikembalikan kepada wanita. Sedangkan status wanita itu tetap seperti asalnya jika Al-Khulu tidak dilakukan dengan lafazh thalak, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian kecil dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata” [An-Nisa : 19] [12]

Apabila suami menceraikannya, maka ia tidak memiliki hak mengambil tebusan tersebut. Namun, bila isteri berzina lalu suami membuatnya susah agar isteri tersebut membayar terbusan dengan Al-Khulu, maka diperbolehkan berdasarkan ayat di atas” [13]

b). Dari Sisi Isteri
Apabila seorang isteri meminta cerai padahal hubungan rumah tangganya baik dan tidak terjadi perselisihan maupun pertengkaran di antara pasangan suami isteri tersebut. Serta tidak ada alasan syar’i yang membenarkan adanya Al-Khulu, maka ini dilarang, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Semua wanita yang minta cerai (gugat cerai) kepada suaminya tanpa alasan, maka haram baginya aroma surga” [HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad, dan dishahihkan Syaikh Al-Albani dalam kitab Irwa’ul Ghalil, no. 2035] [14]

[3]. Mustahabbah (Sunnah) Wanita Minta Cerai (Al-Khulu).
Apabila suami berlaku mufarrith (meremehkan) hak-hak Allah, maka sang isteri disunnahkan Al-Khulu. Demikian menurut madzhab Ahmad bin Hanbal. [15]

[4]. Wajib
Terkadang Al-Khulu hukumnya menjadi wajib pada sebagiaan keadaan. Misalnya terhadap orang yang tidak pernah melakukan shalat, padahal telah diingatkan

Demikian juga seandainya sang suami memiliki keyakinan atau perbuatan yang dapat menyebabkan keyakinan sang isteri keluar dari Islam dan menjadikannya murtad. Sang wanita tidak mampu membuktikannya di hadapan hakim peradilan untuk dihukumi berpisah atau mampu membuktikannya, namun hakim peradilan tidak menghukuminya murtad dan tidak juga kewajiban bepisah, maka dalam keadaan seperti itu, seorang wanita wajib untuk meminta dari suaminya tersebut Al-Khulu walaupun harus menyerahkan harta. Karena seorang muslimah tidak patut menjadi isteri seorang yang memiliki keyakinan dan perbuatan kufur. [16]

Wallahu a’lam

MENTALAK ISTRI SEDANG MABUK ATAU MARAH YANG SANGAT

Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Seseorang telah mentalak istrinya sebanyak tiga kali dalam waktu yang berbeda, talak pertama jatuh pada saat sedang mabuk, benci dan marah yang sangat. Adapun talak yang kedua dan ketiga jatuh sedang dalam keadaan sangat marah. Apakah talak tersebut dianggap jatuh padahal masing-masing masih saling mencintai ? Dan apakah sudah tidak ada kesempatan untuk rujuk lagi ?

Jawaban
Orang tersebut mengatakan bahwa dia telah menjatuhkan talak kepada istrinya sebanyak tiga kali, talak pertama jatuh pada saat sedang mabuk dan marah yang tidak terkendali. Adapun talak kedua dan ketiga jatuh dalam keadaan sangat marah, apakah istri dianggap telah tertalak tiga. Saya balik bertanya : “Apakah dia berniat mentalaknya atau tidak ?”.

Orang yang mentalak istri dalam keadaan mabuk, para ulama berbeda pendapat, sebagian mereka mengatakan bahwa talak orang yang sedang mabuk tidak dianggap jatuh sebab dilakukan dalam keadaan tidak sadar. Dan sebagiannya mengatakan bahwa talaknya dianggap jatuh sebagai sanksi atas kejahatannya.

Menurut saya, pendapat yang kuat adalah talak dalam keadaan mabuk tidak dianggap jatuh sebab orang mabuk tidak sempurna akalnya dan tidak sadar terhadap apa yang diucapkannya. Adapun sanksi tersebut bukan pada tempatnya sebab sanksi orang mabuk adalah didera, jika mengulanginya lagi terus hingga empat kalinya dibunuh, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa yang minum khamar, maka deralah, jika minum lagi maka deralah dan jika minum lagi maka deralah dan kemudian jika minum lagi maka bunuhlah”.

Di dalam hadits diatas disebutkan bahwa orang yang mengulangi mabuk ke empat kalinya maka harus dibunuh. Para ulama berbeda pendapat tentang hadits di atas, apakah mansukh (dihapus hukumnya) atau tidak ? Sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa hadits tersebut telah mansukh dan sebagian yang lainnya menyatakan tidak mansukh akan tetapi diberi batasan khusus.

Menurut saya, hadits ini tidak mansukh akan tetapi diberi batasan, artinya seseorang tidak bisa berhenti dari minum khamar kecuali dengan dibunuh, maka ia harus dibunuh. Dan apabila bisa berhenti tanpa harus dibunuh, maka tidak perlu harus dikenakan sanksi pemubunuhan. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa pemabuk harus dibunuh secara mutlak, artinya kapan saja seseorang telah didera sebanyak tiga kali akibat minum khamar, dan jika tertangkap yang keempat kalinya, maka mutlaq dibunuh tanpa ada alternatif lain. Pendapat ini, adalah pendapat madzhab Dhahiri seperti Ibnu Hazm dan para penganutnya.

Jumhur ulama berpendapat bahwa hadits tersebut mansukh. Akan tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa suatu hadits mansukh kecuali telah memenuhi dua syarat.

Pertama : Jika kedua dalil tidak mungkin bisa disatukan karena makna keduanya saling berlawanan.

Kedua : Dapat diketahui bahwa dalil nasikh (yang menghapus hukum) datang lebih akhir daripada dalil yang mansukh. Apabila ada kemungkinan dua dalil dapat disatukan, maka harus diambil dua-duanya demi menghindari penolakan dari salah satu dalil tersebut, dan jika tidak mungkin melakukan naskh maka sebaiknya berhenti untuk tidak menggunakan dua dalil tersebut, sebab menerapkan naskh dalam hal ini tidak lebih baik daripada meniadakan keduanya.

Adapun talak kedua yang jatuh pada saat sedang marah memiliki hukum yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kemarahan, sebab marah memiliki tiga tingkatan : biasa, sedang dan puncak kemarahan.
Pertama : Marah biasa yaitu seseorang masih dapat mengendalikan dirinya, akalnya dan ucapannya. Artinya ucapan tersebut masih dianggap sebagai tindakan yang wajar sebagaimana orang yang tidak marah.

Kedua : Marah sedang yang tidak sampai pada puncak kemarahan akan tetapi seseorang tidak kuasa mengendalikan diri sehingga terucap dari mulutnya ucapan talak.

Ketiga : Puncak kemarahan sehingga seseorang sama sekali tidak sadar terhadap sesuatu yang diucapkannya dan tidak tahu sedang berada dimana. Ini mungkin terjadi pada seseorang yang mempunyai perasaan yang sensitif sehingga tatkala marah tidak sadar apa yang diucapkan dan tidak bisa mengendalikan dirinya serta tidak tahu lagi berada dimana sehingga tidak bisa mengenal istri dan orang yang berada di sekitarnya.

Tingkatan marah yang pertama, dianggap seperti orang marah pada umumnya, dan masih terkena beban hukum.

Tingkatan marah yang terakhir seluruh ulama sepakat bahwa orang yang marah sangat yang kehilangan kesadaran dan ingatan, maka ucapannya dianggap seperti ucapan orang gila dan tindakannya dianggap sia-sia karena tidak memiliki keseimbangan lagi.

Adapun tingkatan marah yang kedua yaitu seseorang tahu apa yang diucapkan akan tetapi tidak kuasa menahan diri dan seakan-akan faktor luar yang memaksa untuk mengucapkan kalimat talak, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Dan pendapat yang benar bahwa talak dalam keadaan seperti itu tidak dianggap jatuh berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Talak tidak dianggap jatuh karena ighlaq (dipaksa atau marah)..”

Jika talak dianggap tidak jatuh karena dipaksa, begitu pula dalam keadaan marah, sebab orang yang marah seperti itu seakan-akan ada faktor luar yang memaksanya untuk mengucapkan talak akan tetapi paksaan tersebut muncul dari dalam.

[Durus wa Fatawa Haramul Makkiy, Syaikh Utsaimin, juz 3/258-260]

[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Mar’atil Muslimah, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita-2, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan, Penerjemah Zaenal Abidin Syamsudin Lc, Penerbit Darul Haq]

APA ITU DAKWAH


Quantum Dakwah dan Tarbiyah

Re-Orientasi  Dakwah dan Tarbiyah

Dakwah berasal dari kata akar da’a yad’u wa da’watan yang terdiri dari tiga huruf dal,’ain dan alif. Apabila ditukar kepada masdar ( kata terbitan) ia berubah menjadi ( da’wah). Ertinya adalah seruan,panggilan, ajakkan dan segala kata yang semakna dengan itu. Di dalam kamus bahasa “ da’wah” ialah panggilan untuk berhimpun,mengajak makan dan minum atau dorongan ke arah mengikuti mana-mana cara,jalan,aliran atau yang seerti dengannya.Di dalam al-Quran dakwah dinisbahkan kepada dakwah ilallah yang bermaksud dakwah yang kita serukan itu mengajak manusia menuju ke arah pengabdian diri kepada allah. Dengan lain kata dakwah itu adalah proses tahawwul wa taghayyur. (Merubah  & menukar )

Sebelum membicarakan persoalan Quantum Dakwah dan Tarbiyah elok kita mencermati dan memahami beberapa perkara berkaitan dakwah agar keaslian dakwah yang kita warisi ini diperkukuhkan, inovasi dan kreativiti dakwah dikembangkan.

Hakikat Pertama : Mafhum Dakwah

Syeikh Dr. Taufik al-Wa’ei mendefinisikan bahawa “dakwah ialah proses menghimpunkan manusia di atas kebaikan dan membimbing mereka mengenali kebenaran dengan melaksanakan manhaj Allah di atas muka bumi secara lisan dan praktikal, menyeru mereka melaksanakan makruf dan mencegah kemungkaran, memandu dan memimpin mereka ke jalan lurus dan bersabar serta berpesan-pesan dengan kesabaran dalam melaksanakan tanggungjawab dakwah”.

Dalam definisi ini ada beberapa pokok penting yang boleh dibuat rumusan iaitu :

  1. Dakwah adalah proses tajmik, irsyad dan qiyadah. ( kumpul,bimbing dan pimpin ). Bererti dakwah tidak terhenti dengan proses penyampaian tetapi menuntut kepada takween                   ( pembentukan).
  2. Dakwah adalah proses mengeluarkan manusia dari batil menuju kepada al-haq( kebenaran).Dan ini mendefinisikan dakwah adalah proses merubah manusia dari buruk kepada baik kepada lebih baik.
  3. Visi dakwah ialah memastikan pelaksanaan  manhaj allah di muka bumi dan peneguhannya.
  4. Tabiat dakwah memerlukan kesabaran dan sentiasa tawasi bis sabr sebagai indikator kejayaan dakwah. Tanpa sabar tidak mungkin dakwah akan dimenangkan.
  5. Dakwah ialah proses penegakan makruf dan pembasmian mungkar. Ruang kemakrufan dibesarkan dan ruang kemungkaran dihilang.
  6. Dakwah itu melibatkan dua pihak iaitu pelaksana dakwah ( Dai’e) samada secara individu atau jamaah dan sasaran dakwah ( mad’u) yang terdiri dari pelbagai lapisan masyarakat mengunakan uslub tertentu bagi mencapai objektif dakwah.

Hakikat Kedua : Dakwah berdiri di atas Fiqh

Dalam melaksanakan proses dakwah kita memerlukan fiqh ( kefahaman). Ini yang kita namakan sebagai fiqh dakwah.Di dalam tajuk fiqh dakwah dari himpunan Risalah al-‘Ain  penulis memberikan dua maksud Fiqh Dakwah iaitu :

  1. Kefahaman yang mendalam terhadap hukum syarak yang bersifat amali yang di ambil dari dalil-dalil tafsili dengan tujuan untuk menarik manusia beriman kepada allah, apa yang dibawa oleh para rasul, membenar dan mentaati segala perintahnya.
  2. Kajian kaedah dan asas ilmu untuk melaksanakan apa yang diperintahkan allah.

Dari mafhum ini, fiqh dakwah ialah kajian berkaitan kewajipan dakwah,amal jamaie, ciri-ciri jamaah islam,asas-asas Islam, hudnah,harb,tahaluf, piagam amal jamaie,sejarah harakah, pendirian dan ijtihad dalam isu-isu siasi dan sosial, polisi-polisi gerakan islam, manhaj, landasan, tujuan, kandungan, sasaran, strategi, metod, intipati dan segala sesuatu yang secara mutlak termasuk di dalam istilah manhaj dakwah.Termasuk juga dalam kerangka fiqh dakwah ialah menguasai pengurusan dakwah dan siasah dakwah.Muhammad Ahmad Ar-Rasyid di dalam al kitab Maasar membahagikan siasah dakwah kepada tiga iaitu siasah Kharijiah,siasah dakhiliyyah dan siasah tarbawiyah.

Fiqh Dakwah merupakan salah satu cabang ilmu yang diakui muktabar kerana tanpanya operasi dakwah tidak dapat dijayakan dengan cemerlang,kurang interaktif dan ramai manusia lari dari seruan dakwah.Kepentingan menguasai fiqh dakwah adalah sama penting kita menguasai fiqh al-ahkam.

Syeikh Jum’ah Amin telah menulis buku Fiqh Dakwah yang boleh kita jadikan rujukan dalam memahami perkara berkaitan dakwah. Begitu juga tulisan Dr. Abdul Karim Zaidan ( Usul Dakwah), buku- buku Fathy Yakan, Maududi (Tazkiratud-duat),Mustafa Mahsyur , silsilah Ihya Fiqh Dakwah ( Muhammad Ahmad Ar-Rasyid), tulisan Yusuf al-Qardawiy ( as-sohwah islamiah),silsilah Mamaratul Haq, Rasail al-‘Ain, Fi Dzilal,Majmuah Rasail, Hudhaibi ( duat la qudat),Syeikh Jasim Muhalhil ( lil du’at faqat / addakwah islamiah),El- Bahi El-Khauli (Tazkirat Duat ), Muhammad Abu Faris dan lain-lain lagi.

Menguasai fiqh dakwah bermaksud kita perlu juga menguasai fiqh syarak dan memantapkannya dengan menguasai fiqh sunan, fiqh maqasid, fiqh muwazanat, fiqh awlawiyat,fiqh ikhtilaf,fiqh waqi’. Ustaz Anis Matta menyatakan fiqh dakwah adalah metodologi untuk mempertemukan kebenaran dengan ketepatan.

Fiqh dakwah berdiri di atas ilmu syarak, landasan-landasan usul fiqh dan kaedah-kaedah fiqhiyah untuk memastikan tujuan syarak dilaksanakan dengan  mengambil kira dharuriyat, hajiyat dan tahsinat.Perlu ada daurah-daurah pemantapan ulum syariyah kepada para kader dakwah kerana manhaj dakwah kita adalah manhaj salafussolih, manhaj arrasul dan bersifat rabbani.

Hakikat Ketiga : Visi dan Misi Dakwah

Visi dakwah kita ialah memastikan terlaksananya ubidiyah lillah iaitu manhaj allah ditegakkan dimuka bumi ini. Dalam konteks ini, dakwah kita adalah proses membina peradaban, projek ketamadunan (rujuk buku tulisan Dr Abd. Hamid al-Ghazali Haula Asasiyat Masruk Islami li Nahdatil al-Ummah).

Imam Al-Bana menggariskan agenda grand design dakwah kita di dalam risalah Ta’lim iaitu :

  1. Islahul nafs. ( membaiki diri )
  2. Takween Bait Muslim (membentuk keluarga Islam )
  3. Irsyadul Mujtamak. ( memimpin masyarakat )
  4. Tahrirul watan ( membebaskan negara )
  5. Islahul hukumah ( reformasi kerajaan )
  6. I’adah Al-kiyan ad-dauli ( mengembalikan eksistensi negara)
  7. Ustaziyatul alam ( mahaguru dunia )

Maka  dalam memastikan grand design dakwah kita berjaya, kita mesti melaksanakan grand strategy dakwah secara gerakan cultural dan structural. Miswan Thahadi menyatakan  gerakan cultural ialah penglibatan para da’ie ke pelbagai lapisan masyarakat dalam mentransformasi diri menuju suasana sosio-budaya yang islami. Ini bermakna para daie bergerak bersama masyarakat untuk terlibat membangun pelbagai aspek kehidupan:ekonomi,budaya,social,pendidikan dan sebagainya.Ini berlaku secara bottom-up.

Manakala strategi structural pula ialah  penyebaran para kader-kader dakwah ke dalam lembaga-lembaga legislative,eksekutif ,penggubalan polisi  dalam kerangka melayani,membangun dan memimpin umat melalui mekanisme konstitusional.Tujuannya ialah membangunkan system,membuat polisi-polisi dalam rangka taghyir ummah. Ini berlaku secara up-down. Kedua-dua strategi ini perlu mengepak kuat,saling berkomunikasi bagi mancapai visi  dan misi dakwah. Untuk memobalisasikan perkara ini , ia mesti dipelopori dan dipimpin oleh  gerakan Islam.

Pengalaman Ikhwan dalam melaksanakan strategi ini boleh dijadikan landasan kajian dalam tajuk irsyad mujtamak. Pengalaman muassis awal Syeikh Hasan al-Bana dalam membina binaan dakwah di Mesir sehingga dilanjut oleh para pimpinannya selepasnya sehingga IM menjadi satu arus kuat di dunia. Termasuk juga pengalaman penyertaan IM Jordan di dalam kerajaan, pengalaman tajammuk Islah di Yaman, begitu juga pengalaman terkini Hamas di Palestin sebagai satu kerajaan berdepan dengan Zionis Israel.

Hakikat Keempat : Tonggak-tonggak dakwah

Dakwah yang ingin kita bawa sepertimana yang ditegaskan oleh Imam Hasan al-Bana ialah menyeru kepada jalan allah, kepada  Islam yang tulen (islamiah somimah). Dalam risalah dakwatuna, al-Bana menyatakan bahawa dakwah kita ialah islamiah bi kulli maaaniha – Islam dengan sepenuh pengertiannya.Begitu juga katanya di dalam risalah Muktamar ke- 5 : “fikratul ikhwan muslimin tadhummu kulla maani islahiyyah” (fikrah ikhwan merangkumi seluruh maksud pengislahan).Dakwah kita ialah dakwah kepada islam yang syumul . ( rujuk rukun al-Fahm dalam usul 1- risalah Taalim ).

Dalam mengemudi dakwah, kita perlu memahami tonggak-tonggak dakwah atau pilat-pilar dakwah. Hasan al-Bana menyatakan bahawa “ sesungguhnya,kewajipan kita,di mana di tangan kita terdapat cahaya lentera dan ubat- adalah bangkit untuk membaiki dan mengajak orang lain menuju pembaikan. Jika berhasil, itulah keberhasilan yang sebenar-benarnya. Namun jika tidak, sesungguhnya kita sudah menyampaikan risalah dan melaksanakan amanah…cukuplah wujud mereka yang mahu memikul risalah dan melaksanakan tugas dakwah sebagai tonggak-tonggak keberhasilan. Dengan tonggak-tongak itu mereka yakin, mereka ikhlas dan dijalannya mereka jihad..”

Pilar-pilar dakwah (arkanud dakwah) ini dinyatakan dalam tiga kunci :

  1. Ilmu
  2. Tarbiyah
  3. Jihad

Ilmu : ilmu bagi seorang dai’e meliputi ilmu tentang maddatud dakwah ( tajuk & intipati dakwah), ilmu tentang manhaj dakwah dan ilmu tentang tabiatuddakwah.

Tarbiyah pula ialah wasilah menyiapkan para kader,aktivis,daie yang akan menjadi tulang belakang dakwah.Tarbiyah ialah proses merubah kognitif kepada aplikatif ( membentuk perilaku islami ). Tarbiyah ialah proses mengembangkan aspek kebaikan dan membuang aspek jahiliyah di dalam individu. Tarbiyah juga bermaksud pemeliharaan, penambahbaikan, pertumbuhan kebaikan, menjaga fitrah, mengembang bakat dan potensi, mengarah potensi ke arah kebaikan dan kesempurnaan dan secara bertahap. Tarbiyah adalah menyamai satu kepayahan dan kesulitan. Tarbiyah itu sifatnya integrasi dan komprehensif. Tarbiyah dalam kefahaman kita melahirkan rijal yang memiliki muwasofat 10, melaksanakan wajibat arkanul baiah dan mengimplimentasikan maani 10 rukun dalam kehidupan sehingga layak menjadi rijal dakwah

Rijal dalam pemahaman kita : “ inna zhuhurad din bi dhuhuri ummatihi, wa inna zhuhurar ummah bizhuhuri rijaliha, wa inna zhuhurar rijaliha bi zhuri aqidatihim wa fikratihim wa khuluqihim” . (sesungguhnya kebangkitan Deen itu dengan kebangkitan umatnya, kebangkitan umat pula dengan kelahiran rijalnya, dan sesungguhnya kebangkitan rijal-rijalnya dengan kebangkitan (baik) aqidah,fikrah dan akhlaknya ).

Sesungguhnya tarbiyah bukanlah segala-galanya tetapi segala-galanya tidak akan pernah jadi baik tanpa tarbiyah.

Jihad adalah bagian yang tidak boleh dipisahkan dengan dakwah dan tarbiyah. Hanya dengan jihad yang sebenarnya semua proses transformasi dan perubahan berjalan baik dan akan tercapai sasaran-sasaran dakwah. Al-Bana menyatakan “ tiada dakwah tanpa jihad dan tidak ada jihad tanpa pengorbanan”. Jihad ialah pencurahan seluruh tenaga dan upaya,seluruh potensi, seluruh jiwa dan raga untuk menegakkan kalimah allah di muka bumi. Jihad ini disantuni Nabi S.A.W di dalam sabdanya dengan maksud : “ barangsiapa yang mati, sedangkan dia tidak berjihad, atau tidak ada niat berjihad, maka dia mati dalam kemunafikan”. Dalam hadis lain ia mati sebagai mati jahiliyah.

Perkataan”yaqhzu” tidak terhad kepada perang fizik tetapi juga dalam konteks komtemporari telah meluas seperti perang media, perang siber, budaya, ekonomi dan sebagainya.

Jihad itulah menjadi slogan dakwah kita “ al-jihad sabiluna”. Jihad dalam mafhum yang luas meliputi jihad qital, jihad ta’limi, jihad ilmu, jihad siasi.Tanpa jihad maka hanya omong kosong dan mimpi di siang hari.Hanya sang daie mujahid mampu menjayakan agenda dakwah.Daie Mujahid membawa ruh jihad di mana-mana ia berada, di mimbar-mimbar masjid, mimbar – mimbar parlimen, di desa dan bandar , di ceruk rantau gunung ganang, di lembaga dan jabatan sehingga tumbuh pohon-pohon dan dahan-dahan dakwah. (boleh rujuk risalah Jihad al-Bana, syarah rukun Jihad / Zaadul Maad Ibnul Qayyim-bab Jihad / al- Jihad fil Islam – Muhammad Naim Yaasin atau Dr. Abdullah Qadiri al-Ahdal).

Hakikat Kelima : Dhawabit dan Qawaid Dakwah ( Prinsip & Kaedah )

Dakwah kita adalah dakwah yang bersumberkan al-Quran dan Hadis. Sudah tentu dakwah kita berdiri di atas satu prinsip yang jelas, rabbani dan tulen.Oleh itu, dakwah kita mesti terikat dengan prinsip syarak   ( dhawabit syarie ) – lihat buku dakwah islamiah faridhah syariyyah – Dr. Sodiq Amin).

Dalam berdakwah juga memerlukan kaedah sebagai mana kaedah-kaedah dalam usul fiqh atau Qawaid Fiqhiyyah.Ulama-ulama silam seperti As-Suyuti ( Al-Asybah wan Nadhoir ), al-Qarafi ( al-Furuq ) Majalah al-ahkam al-‘adliyyah  adalah buku-buku yang membicarakan perkara berkaitan Qawaid Fiqhiyyah. Tradisi ini dilanjut dan dikembangkan oleh ulama semasa seperti Dr. Fathi Duraini di dalam bukunya Manahij Usuliyyin ( Usul Fiqh ), Syeikh Mustafa Zarqa ,Ali Nadawi, Dr. Muhamad al-Burno  ( al-Qawaid al-Fiqhiyyah) dan lain-lain lagi. Dalam kontek dakwah, Dr, Jum’ah Amin, Dr. Hammam Saeed telah menulis buku berkaitan kaedah-kaedah  dalam fiqh dakwah.

Antara 10 kaedah fiqh dakwah Syeikh Juma’ah Amin ialah :

Kaedah 1 ; Al-qudwah qabla dakwah ( menjadi qudwah sebelum berdakwah )

Kaedah 2 : Ar-Ta’lif qabla ta’rif ( menjinak dan mengikat hati sebelum memperkenalkan )

Kaedah 3 : At-ta’rif qabla taklif (memperkenalkan sebelum member tugas )

Kaedah 4 : At-tadarruj fi taklif ( bertahap dalam memberikan tugasan )

Kaedah 5 : At-taisir la ta’sir ( memudah bukan memayah)

Kaedah 6 : Al-Usul qabla furu’ ( memulakan yang pokok sebelum cabang )

Kaedah 7 : At-targhib qabla tarhib ( member harapan bukan ancaman)

Kaedah 8 : At-tafhim la al-talqin ( memberi kefahaman bukan menyampaikan semata-mata)

Kaedah 9 : at-tarbiyah la at-ta’riyah ( pendidikan bukan menelanjangi keburukan)

Kaedah 10 : Tilmizu imam la tilmiz kitab ( murid kepada guru bukan murid kepada buku)

Manakala Dr. Hammam Abd. Rahim Saeed di dalam bukunya ( Qawaid Dakwah ilallah ) pula menulis dengan pendekatan motivasi dan memberikan dorongan semangat agar para da’ie sentiasa optimistik dalam memberikan  al’atho ad-da’wi ( sumbangan dakwah ).Kaedah-kaedah ini digali dari asas-asas syarak dan seerah nabawiyah, kisah para sahabat dan salafussolih. Ia  memberikan ledakan baru dalam memperkayakan fiqh dakwah. Antara kaedah-kaedah yang dinyatakan di dalam bukunya :

Kaedah 1 : Dakwah di jalan allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akhirat

Kaedah 2 : Semoga dengan usaha kamu seseorang memperolehi hidayah lebih baik dari unta merah

Kaedah 3 : Pahala diperolehi semata-mata dengan berdakwah dan tidak dikira  dengan penerimaan manusia

Kaedah 4: Daie hendaklah menjadi   sebagai mubaligh ( penyampai dakwah) dan berusaha mencapai

al-balagh. ( kepetahan & kefasihan dalam berdakwah )

Kaedah 5 : Da’ie memberikan segala usaha dakwah demi menuntut ganjaran rabbani

Kaedah 6 : Dai’e adalah cermin bagi dakwah  dan modelnya.

Kaedah 7 : Berbicaralah dengan manusia menurut kadar pemikiran mereka

Kaedah 8 : Ujian adalah sunnatullah

Kaedah 9 : Lapangan dakwah adalah luas , hendaklah dai’e memilih yang sesuai untuk dakwahnya

Kaedah 10 : Masa adalah unsur penting  dan kejayaan dakwah

Kaedah 11 : Dakwah adalah seni dan kepemimpinan, perancangan dan pemantauan.

Kaedah 12 : Dakwah merupakan satu tasawwur besar Jihad dari segi matlamat dan kesan

Kaedah 13: Dakwah adalah perniagaan  mulia ,tidak boleh dijual dengan habuan dunia, habuan dunia merosakkan maruah sang Dai’e .

Kaedah 14 : Mengenalai mad’u faktor utama mempengaruhinya

Kaedah 15 : Komtemporari, memahami kondisi umum adalah sebab-sebab kejayaan dakwah.

Kaedah 16 : Perpecahan, fitnah, uzlah dan jamaah..halangan di jalan dakwah

Kaedah 17 : Kefahaman yang betul adalah jalan amal yang betul

Kaedah 18 : Kefahaman yang memandu dan kefahaman yang wajib

Kaedah 19 : Menyeru kepada makruf dan mencegah kemungkuran merupakan kefardhuan umat

Kaedah 20 : Menyalahi maksud dan tujuan al-Quran lebih bahaya dari meninggal dan mengabaikan  al-Quran

Kaedah 21 : Amal umum adalah asas amal khusus sebagai penarik dokongan dakwah.

Kaedah-kaedah adalah sebahagian dari maksud Quantum dakwah dan Tarbiyah. Kaedah-kaedah ini akan memberikan energi baru dalam mengaplikasikan dakwah.Ia pasti menjadikan dakwah asyik, mengghairahkan dan menarik minat mad’u serta membentuk wilayah pengaruh (region of influence).Saya akan membicarakan pada sesi seterusya.

Mari kita renungi ungkapan Imam Hasan al- Bana :

Hazihi dakwah la yasluh laha illa man ahaathoha min kulli jawanibiha..”

Dakwah ini tidak akan sesuai dan serasi kecuali dengan orang yang memahami dan menguasai dakwah dari segala aspeknya.Mana mungkin orang yang tidak memiliki apa-apa mampu memberi dan menyumbang pada orang lain bak kata pepatah “ Faqidus syai la ‘yukti” ( orang yang tiada apa-apa,tidak akan memberi..)

Wahai kader dan aktivis dakwah ISMA..jangan jemu berdakwah..jangan mudah pasrah dan lelah…kalian obor harapan ummah…

Indahnya Foto-foto Senja (Sunset) Terindah [Asli Indonesia]


INI DIA GAN KUMPULAN FOTO YANG DIAMBIL SAAT SENJA HARI. NAH…FOTO2 INI ASLI DIJEPRET DI INDONESIA. BENER2 INDAH GAN…


salah satu suasana di daerah kab.Jeneponto Sulawesi Selatan, dimana daerah ini masyarakatnya benyak memelihara ternak, terlihat seorang gembala sapi yang setia menemani hewan ternaknya


Senja yang cantik di Bunaken dimanfaatkan untuk berperahu sambil memancing.


bersama sang mentari yang pulang ke peraduannya… gembala itu pun pulang juga melintasi padang pasir parangkusumo…


Menjelang senja, demi mendapatkan nafkah bagi keluarganya sejumlah pekerja masih sibuk memindahkan barang di atas kapal.


beberapa wisatawan sedang naik dokar dan menikmati keindahan sunset di pantai Parangkusumo.


Mereka menawarkan jasa plesir dengan perahu kepada turis di Anyer, saat senja datang dinikmati dulu …


aktivitas nelayan di perbatasan Indonesia-Malaysia di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalbar…. Foto di ambil saat saya berpetualang kesana….


walaupun penuh sesak orang tapi pantai losari ga kelihangan keindahannya


bahkan seekor monyet pun menikmati indahnya senja di Pecatu Bali


pasangan muda-mudi yang sedang menikmati senja. pacaran pas sunset, emang moooy…


Mengisi waktu istirahat (surface interval time) sebelum penyelaman malam (night dive), Ardi Doel dan Benediktus Dikdik dari Unit Selam Unpar unjuk kemampuan ber-capoeira.


Suasana pantai kala senja, selalu menjadi tempat rekreasi yang murah meriah bagi anak-anak di kota Kupang, NTT.


akrobat salto dilakukan oleh seorang laki2 saat bermain sepakbola pantai di senja hari


Sepasang manusia menikmati senja…



Sekelompok Nelayan di Pantai Kaliantan Lombook Timur yang pulang dari melaut saat senja


Bocah-bocah pantai merayakan senja dengan bermain bola.


Menjelang saat detik detik matahari menghilang dari horizon ditemani sekelompok anak2 yg riang gembira sehabis bermain di sore hari

indahnya negeriku

Previous Older Entries Next Newer Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 118 pengikut lainnya.