::PSIKOLOGI DAKWAH::.


 

Assalamualaikum Sahabat,
Saya tertarik untuk mengetahui dengan lebih mendalam lagi mengenai‘psikologi dakwah’..
~ Bagaimana nak fahami maksud psikologi dakwah?
~ Bagaimana nak aplikasikan pengetahuan mengenai psikologi dakwah ini supaya sampai kepada mad’u yang sangat disayangi kerana Allah?
~ Bagaimana nak meletakkan psikologi menyeru kepada kebaikan ini pada tempatnya yang betul?
-kalau siapa-siapa yang ingin berkongsi maklumat, silakan saja-
Sebagai khalifah Allah di muka bumi ini, tidak akanku pernah mengabaikan manusia lain dalam menuju keredhaan Allah, InsyaAllah……..
ingin sama-sama masuk syurga,
ingin sama-sama menikmati keindahan syurga firdausi,
ingin merasai kelazatan cinta Allah ,
ingin mengecapi kebahagiaan di dunia dan juga di akhirat ….
Moga Allah perkenankannya..
Sebagai seorang daie, wasilah yang terbaik untuk berdakwah adalah mengenali mad’u itu mengikut karakter mereka tanpa mengubah apa-apa yang boleh membuatkan akhlak kita turut terpesong….
Ingatlah, tugas kita adalah untuk menyeru manusia itu kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran..
Apabila sudah mengenali dan memahami bagaimana perangai, akhlak, tingkah laku, cara berfikir dan gaya hidup sang mad’u itu, senang untuk kita mengajak mereka mengikuti jalan yang betul, jalan kebenaran, jalan yang diredhai Allah..
 
“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (As-Shaff:2)
 
Alhamdulillah, dalam sedang ‘explore’ dan membelek-belek setiap tab dalam mozila firefox ini, saya ada terjumpa bahan yang menghuraikan mengenai psikologi dakwah…Alhamdulillah.
Antaranya :
 
      Tujuan Psikologi Dakwah
Oleh karena psikologi dakwah mempedomani kegiatan dakwah, maka tujuan psikologi dakwah adalah: memberikan pandangan tentang mungkinnya dilakukan perubahan tingkah laku atau sikap mental psikologis sasaran dakwah sesuai dengan pola/pattern kehidupan yang dikehendaki oleh ajaran agama yang didakwahkan/diserukan oleh aparat dakwah/da’i.
 
Maksud Psikologi Dakwah
      Secara harfiah, psikologi artinya ‘ilmu jiwa’ berasal dari kata yunani psyce ‘jiwa’ dan logos ‘ilmu’. Akan tetapi yang dimaksud bukanlah ilmu tentang jiwa. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sebagai gambaran dari keadaan jiwanya. Adapun dakwah merupakan usaha mengajak manusia agar beriman kepada Allah Swt dan tunduk kepada-Nya dalam kehidupan di dunia ini, dimanapun ia berada dan bagaimana pun situasi serta kondisinya.
Dengan demikian, psikologi dakwah adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia yang merupakan gambaran dari kejiwaannya guna diarahkan kepada iman takwa kepada Allah Swt. Bila disederhanakan bisa juga dengan pengertian, dakwah dengan pendekatan kejiwaan.
 Dakwah psikologi atau dakwah yang dilakukan dengan pendekatan jiwa memang sangat penting, turunnya ayat Al Quran secara bertahap merupakan suatu bukti bahawa pendekatan kejiwaan merupakan sesuatu yang tidak boleh diabaikan, begitu pula dengan berbagai peristiwa dakwah yang dialami oleh Rasul Saw. Mislanya dalam turunnya ayat dilarangnya minum khamar, Allah membuat tiga tahapan:
- peringatan tentang mudharat-nya (Qs. 2: 219)
- pelarangan sholat dalam keadaan mabuk (4:43)
- perintah menjauhi khamar (5:90) 
  
Pusat Perhatian Psikologi Dakwah
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pusat perhatian psikologi terhadap terhadap proses dakwah sekurang-kurangnya meliputi empat hal:
1. Analisa terhadap seluruh komponen yang terlibat dalam proses dakwah kepada da’I, psikologi dakwah melacak sifat-sifatnya dan mempertanyakan; mengapa da’i A berhasil mempengaruhi orang-orang yang didakwahi sedang da’i B kok tidak. Tentang mad’u (dn juga da’i) sebagai manusia, sifat-sifatnya dan faktor-faktor apa (internal dan eksternal) yang mempengaruhi perilaku komunikasinya.
2. Bagaimana pesan dakwah menjadi stimulus yang menimbulkan respon mad’u
3. Bagaimana proses penerimaan pesan dakwah oleh mad’u, faktor-faktor apa (personal dan situasional) yang mempengaruhinya.
4. Bagaimana dakwah dapat dilakukan secara persuasive, yaitu proses mempengaruhi dan mengendalikan perilaku mad’u dengan pendekatan psikologis atau dengan menggunakan cara berpikir dan cara merasa mad’u.
 
         Dari penjelasan tentang psikologi dakwah di atas dapat kita lihat bahwa erat sekali hubungan antara psikologi dengan dakwah :
 
-  Karena ketika seseorang berdakwah (da’i) maka ia perlu bahkan harus mengetahui kondisi psikologis obyek yang didakwahi (mad’u) agar apa yang disampaikan nantinya dapat tersampaikan dengan baik. Karena dakwah itu sendiri merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi orang lain agar mau merubah tingkah lakunya dan mengikuti sesuai dengan yang disyari’aykan oleh agama (islam).
- Dalam mempengaruhi orang lain agar orang lain dapat mengikuti apa yang kita inginkan maka kita harus melakukan beberapa pendekatan, dan bisa dibilang pendekatan psikologis adalah pendekatan yang paling penting dan yang paling berpengaruh apakah nantinya orang lain (mad’u) itu dapat menerima apa yang disampaikan oleh Da’i dan menjalankannya.
- Perlu kita ketahui juga bahwasannya tujuan utama dari dakwah adalah bagaimana nantinya seorang mad’u dapat atau mau menjalankan apa yang disampaikan oleh seorang da’i, bukan hanya sekedar dipahami, direnungkan dan dirasakan saja.dan bagaimana agar seorang mad’u benar-benar menjalankan apa yang disampaikan oleh da’i dengan penuh kesedaran dari dirinya sendiri.
 
Dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Sebagai dai tentu saja kita ingin mencapai kesuksesan dalam mencapai tugas dakwah. Salah satu bentuk keberhasilan dalam dakwah adalah berubahnya sikap kejiwaan seseorang. Dari tidak cinta Islam menjadi cinta, dari tidak mau beramal saleh menjadi giat melakukannya, dari cinta kemaksiatan menjadi benci dan tertanam dalam jiwanya rasa senang terhadap kebenaran ajaran Islam, begitulah seterusnya.
 
Karena dakwah bermaksud mengubah sikap kejiwaan seorang mad’u, maka pengetahuan tentang psikologi dakwah menjadi sesuatu yang sangat penting. Dengan pengetahuan tentang psikologi dakwah ini, diharapkan kita dapat melaksanakan tugas dakwah dengan pendekatan kejiwaan. Rasul Saw. Dalam dakwahnya memang sangat memperhatikan tingkat kesiapan jiwa orang yang didakwahinya dalam menerima pesan-pesan dakwah.
                                                                                                      (Sumber dari Internet)
p/s : Moga dengan perkongsian ini, dapat memberi kefahaman serba sedikit mengenai psikologi dakwah yang telah disusun cantik oleh islam, dengan mengikut kehendak syarak.{sama-samalah kita melakukannya}
 
#Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya kerana Allah swt#

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 121 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: