Syi’ah pecah dengan sunni karena Mencari Kebenaran dan Berpegang Teguh pada al-Quran dan Sunnah


imam ali dan persatuan umat islamArus kejahatan telah menguasai dunia Islam. Kebenaran tidak lagi dapat mengibarkan benderanya, tidak ada tangan yang diulurkan untuk melakukan perbaikan, tidak ada suara yang dapat diteriakkan guna menyingkap kejahatan orang-orang zalim. Kemarin, Abu Sufyan melakukan upaya tipu muslihat untuk membunuh Nabi Muhammad Saw agar risalah ilahiah terkuburkan untuk selama-lamanya. Namun semua usaha tersebut tidak diinginkan oleh Allah bahkan Allah berkehendak untuk menyempurnakan cahaya-Nya.

Sekarang, Muawiyah bin Abu Sufyan dengan memanfaatkan penyimpangan yang terjadi semenjak peristiwa Saqifah berusaha menyempurnakan apa yang telah dimulai oleh ayahnya dalam rangka menghancurkan Islam. Potensi kebodohan, kesesatan yang dimilikinya membantunya untuk menyiapkan rencana untuk membunuh hatinya umat Islam, penyambung lidah kebenaran, pembawa bendera Islam dan yang menghidupkan syariat Islam.

Kesesatan yang telah lama menuntun kaki mereka sekali lagi menyeret merek untuk mematikan cahaya hidayah dan melanggengkan kegelapan demi menyiapkan penyelewengan dan kejahatan. Tangan-tangan setan itu kemudian berjabatan tangan dengan Ibnu Muljam di kegelapan malam. Pedang itu menebas kepala seorang yang telah lama membelakangi dunia dan mengarah ke rumah Allah dalam keadaan sujud. Ia kemudian dibiarkan begitu saja.

Sekelompok orang-orang sesat telah berkumpul untuk membunuh Imam Ali bin Abi Thalib, tidak sulit untuk mengatakan bahwa penggeraknya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan. Kesepakatan mereka adalah membunuh Imam Ali bin Abi Thalib ketika ia pergi melaksanakan salat subuh. Hal itu dikarenakan tidak satu pun dari mereka yang berani berhadap-hadapan dengan singa Allah.

Pada waktu itu malam kesembilan belas dari bulan Ramadhan. Imam Ali bin Abi Thalib banyak melakukan perenungan dengan melihat angkasa. Ia senantiasa mengulang-ulang perkataan, ‘Engkau tidak berbohong dan tidak pernah membohongi orang lain. Malam ini adalah waktu yang engkau janjikan’. Imam Ali bin Abi Thalib menghabiskan malamnya dengan berdoa dan bermunajat kepada Allah swt. Setelah itu beliau keluar dari rumah menuju masjid untuk menunaikan salat subuh. Sesampainya di masjid beliau membangunkan orang-orang yang terbiasa beribadah di situ dan kemudian tertidur. Beliau mengucapkan, ‘Salat… salat…’.

Setelah itu Imam Ali bin Abi Thalib menunaikan salatnya. Ketika beliau tengah asyik bermunajat kepada Allah, tiba-tiba seorang penjahat celaka bernama Abdurrahman bin Muljam dengan bersuara lantang mengucapkan semboyan kelompok Khawarij ‘Hukum adalah milik Allah bukan milikmu’, setelah itu ia mengayunkan pedangnya tepat mengenai kepala Imam Ali bin Abi Thalib yang mengakibatkan kepalanya merengkah akibat bacokan tersebut. Merasakan sabetan pedang di kepalanya Imam Ali bin Abi Thalib langsung mengucapkan kata, ‘Aku menang demi Tuhan pemilik Ka’bah’.

Setelah itu terdengar suara riuh di dalam masjid. Orang-orang cepat berlari menuju Imam Ali bin Abi Thalib. Mereka mendapatkannya terjatuh di mihrabnya. Mereka kemudian membawanya pulang ke rumahnya sambil kepalanya diikat sementara masyarakat dari belakang mengikuti sambil menangis. Orang-orang berhasil menangkap Ibnu Muljam. Imam Ali bin Abi Thalib berwasiat kepada anak tertuanya Hasan dan juga kepada anak-anaknya yang lain serta keluarganya agar berlaku baik dengan tawanan. Ia kemudian berkata, ‘Jiwa dibalas dengan jiwa. Oleh karenanya bila aku mati maka kalian harus mengqisasnya dan bila aku hidup maka aku akan mengambil keputusan sesuai dengan pendapatku’.

Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib
Imam Ali bin Abi Thalib menasihati kedua anaknya Hasan dan Husein dan seluruh keluarganya dengan wasiat umum. Ia berkata:

‘Aku berwasiat kepada kalian berdua untuk bertakwa kepada Allah. Jangan kalian mengikuti dunia sekali pun dunia menginginkan kalian. Jangan bersedih terhadap sesuatu yang hilang dari tangan kalian. Berkatalah tentang kebenaran dan beramal untuk mendapat balasan dari Allah. Jadilah penolong untuk orang mazlum dan bersikap keras terhadap orang zalim. Berbuatlah sesuai dengan yang diperintahkan dalam Al-Quran. Serta jangan takut di cemooh oleh orang dalam jalan Allah’.

Luka beliau yang parah tidak memberikan waktu lagi untuknya. Imam Ali bin Abi Thalib telah mendekati ajalnya. Akhir ucapan yang keluar dari bibirnya sebelum ajal menjemputnya adalah firman Allah swt, ‘Seperti ini mestinya orang-orang yang beramal baik mesti berbuat’. Kemudian ruhnya yang suci naik menuju surga yang dijanjikan.

Penguburan dan pidato pujian terhadap Imam Ali bin Abi Thalib Imam Hasan dan Husein yang melakukan segala prosesi penguburan ayah mereka Imam Ali bin Abi Thalib mulai dari mandi, pengkafanan dan pengebumian. Setelah itu Imam Hasan melakukan salat terhadap ayahnya diikuti oleh sejumlah keluarga dan sahabat-sahabat. Setelah selesai melakukan salat kemudian mereka membawanya ke tempat peristiwaannya yang terakhir. Imam Ali bin Abi Thalib dimakamkan di kota Najaf dekat kota Kufah. Semua pelaksanaan selesai pada malam hari.

Setelah proses penguburan selesai, Sha’sha’ah bin Shuhan berdiri kemudian berpidato memuji Imam Ali bin Abi Thalib. Ia berkata:

‘Wahai Abu Al-Hasan! Engkau sekarang lebih baik. Engkau lahir dengan baik, kesabaranmu kuat, jihad dan perjuanganmu sungguh agung, engkau berhasil dengan pandanganmu, engkau untung dalam perdaganganmu. Engkau menemui penciptamu dan Ia menerimamu dengan kabar gembira-Nya serta engkau diapit oleh para malaikat. Engkau sekarang berada di samping Musthafa Saw dan semoga Allah memuliakanmu berada di samping Muhammad Saw. Engkau telah bergabung sama dengan derajat saudaramu Muhammad Saw. Engkau minum dari gelasnya. Sekarang kau memohon kepada Allah agar memberikan kepada kami agar dapat mengikuti jejakmu. Berbuat sesuai dengan perilakumu. Mengikuti orang yang engkau ikuti. Memusuhi orang yang memusuhimu. Semoga Allah mengumpulkan kami dalam golongan orang-orang yang mencintaimu. Engkau telah meraih sesuatu yang belum pernah diraih oleh seorang pun. Engkau telah merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh seorang pun. Engkau telah berjuang dengan sungguh-sungguh di samping saudaramu Muhammad Saw. Engkau telah menegakkan agama Allah dengan sunguh-sungguh. Engkau telah menegakkan Sunah Nabi dan menekan dengan keras fitnah sehingga Islam dan iman dapat tegak. Aku mengucapkan salawat dan salam yang paling utama dan terbaik buatmu’.

Ia kemudian melanjutkan, ‘Sesungguhnya Allah telah memuliakan derajatmu. Engkau adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah Saw dari sisi keturunan dan yang paling awal memeluk agama Islam. Orang yang paling dalam keyakinan dan yang hatinya paling kuat imannya. Orang yang paling keras berjuang demi agama Islam. Orang yang paling besar sahamnya dalam kebaikan. Oleh karenanya jangan dicegah pahalanya untuk sampai kepada kami dan kami tidak akan rendah sepeninggalmu. Demi Allah! Kehidupanmu adalah kunci dari pintu-pintu kebaikan dan penutup kejelekan dan kejahatan. Hari ini adalah terbukanya pintu kejelekan dan kejahatan serta tertutupnya pintu-pintu kebaikan. Seandainya manusia sebelumnya menerima pandanganmu niscaya mereka akan cukup segala-galanya. Sayangnya mereka lebih memilih mencintai dunia dari pada akhirat’.

Beberapa kalangan memandang bahwa jalan yang mengarah pada persatuan Islam dan kedekatan di antara mazhab-mazhab dapat dicapai hanya dengan melekatkan diri pada persamaan Islami serta menghilangkan perbedaan sektarian dan asal-usul.

Pada bagian berikutnya, tulisan ini akan menyentuh kemunculan sikap berlebih-lebihan (ghuluw), serta pemalsuan, penyusupan, dan distorsi riwayat (hadis). Artikel ini akan membuahkan kesimpulan yang merujuk pada topik utama dari rangkaian tulisan ini dengan catatan bahwa Ahlul Bait telah memancangkan fondasi yang kokoh untuk membangun persatuan [umat Islam]. Kualitas-kualitas umum dari otoritas spiritual semacam itu dalam perdebatan teologis, sosial, politis, dan hukum mereka merupakan bentuk ketulusan moral dan kasih sayang mereka; sebagaimana tujuan mereka untuk selalu menuntun ke arah kebenaran ultim.

Tulisan ini merupakan bagian dari rangkaian artikel yang akan mengulas sikap para Imam Syiah sekaitan dengan persatuan umat Islam. Artikel ini mengawalinya dengan mendefinisikan makna “Persatuan Umat Islam” dan dilanjutkan dengan menjelaskan sejumlah karakteristik persatuan dimaksud; khususnya sebagaimana dijumpai dalam al-Quran dan Sunah. Kemudian, karya tulis ini memaparkan sejumlah metode praktis untuk mencipta persatuan dan mencegah perpecahan, dengan menyuguhkan teladan dari keluarga suci Nabi Saw.

Makna Persatuan Islam
Dalam penggunaannya secara umum, istilah wahdah dan itihad bermakna “persatuan, kebersamaa, solidaritas, konvergensi, kebulatan suara, unifikasi, satu tujuan, komunitas, dan bersepakat terhadap suatu masalah”. Salah satu karakteristik dari gerakan membangun persatuan adalah bahwa ia bekerja di sepanjang alur atau arah yang tunggal dengan maksud mencapai tujuan yang [juga] tunggal. Kedua istilah tersebut -yakni, wahdah dan itihad- dalam pengertian yang telah disebutkan merupakan antonym (lawan kata) dari istilah semacam “keberagaman”, “penyebaran”, “perselisihan”, “perpecah-belahan”, “sektarianisme”, dan “divergensi”. Karena itu, persatuan mengubah perpecahan menjadi solidaritas, divergensi menjadi konvergensi, penyebaran menjadi pengumpulan, dan opini beragam menjadi opini tunggal; serta spesifikasi dari tujuan umum dan telah disepakati demi menentukan jalan yang membawa ke arahnya.

Seseorang dihadapkan dengan berbagai jalan dan kemungkinan seraya berupaya menggambarkan sebuah model yang dapat diperankan bagi persatuan Islam. Alasannya adalah bahwa kalangan ulama dan reformis modern, serta para pengikutnya dari berbagai mazhab dan teologi keislaman cenderung mengusung pandangan khasnya masing-masing sekaitan dengan konsep ini. Sebagai contoh, banyak ulama pada hari ini yang menganggap persatuan Islam pada satu atau lebih dimensi sosio-politisnya sebagai sebentuk persatuan yang saling menguntungkan satu sama lain. Sebagian lain menekankan pentingnya komunalitas (persamaan) Islami dan mengoreksi kesalahpahaman religius, dan ini disebut dengan “menciptakan kebersamaan di antara mazhab-mazhab pemikiran” (taqrib madhahib), atau dalam istilah yang lebih tepat “menciptakan kebersamaan di antara para pengikut mazhab-mazhab tersebut”.

Pada kenyataannya, jenis persatuan yang benar dan diharapkan adalah yang menerapkan keduanya, baik dimensi sosio-politisnya maupun ideologi keagamaannya. Ini merupakan sebentuk persatuan abadi yang dibangun di atas fondasi yang kokoh berupa pendekatan keimanan dari berbagai mazhab—ini merupakan pendekatan fondasional antara prinsip-prinsip dan pilar-pilar dari mazhab-mazhab tersebut dan bukan sekadar kedangkalan yang melahirkan kebersamaan di antara segelintir ulama dari beberapa mazhab.

Beberapa kalangan memandang bahwa jalan yang mengarah pada persatuan Islam dan kedekatan di antara mazhab-mazhab dapat dicapai hanya dengan melekatkan diri pada persamaan Islami serta menghilangkan perbedaan sektarian dan asal-usul. Sebagian lain berbicara tentang konvergensi mazhab-mazhab atau memilih salah satunya [sebagai titik peleburan]. Namun, sebagian lain menyatakan bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai persatuan adalah dengan kembali ke masa khulafa rasyidin dan para penerusnya (kaum salaf) seraya menghidupkan kembali gaya hidup mereka. Adapun sebagian kelompok lainnya mengungkapkan pandangannya, bahwa Islam semestinya menghapus seluruh mazhab pemikiran tersebut, termasuk pihak-pihak yang berupaya membangun persatuan dengan cara menggiring selainnya memeluk mazhabnya.[1]

Masing-masing ulama tersebut, terlepas dari simpati yang mereka miliki terhadap komunitas Islam sebagai suatu keseluruhan, bersandar pada pandangan religius dan politis yang [hanya] berlaku dalam mazhab pemikiran mereka sendiri. Ini dengan sendirinya menjadi bukti tak terbantah bahwa pandangan-pandangan mereka berikutnya bukan hanya mustahil, melainkan bahkan senyatanya kian mempertajam perbedaan. Setiap mazhab pemikiran Islam berdiri tegak di atas serangkaian prinsip dan derivat keyakinannya (ijtihad); hal yang sama juga berlaku pada setiap ulama fikih atau teologi, dan keinginan untuk mempertahankan mazhabnya, tentu saja, merupakan sesuatu yang sangat wajar. Bagaimana pun, campur tangan dari elemen-elemen sektarian tertentu serta melibatkan mereka dalam perbincangan seputar persatuan tidak akan membawa kita ke mana-mana—semua itu hanya menghasilkan definisi yang keliru mengenai persatuan serta dukungan yang tidak layak ke arahnya.

Bentuk persatuan Islam yang efektif dan benar-benar diharapkan adalah yang menekankan pentingnya manfaat dan tujuan pendekatan antar keyakinan religius dan yang berasal dari kalangan yang memiliki banyak kesamaan ketimbang perbedaan mazhab. Kaum Muslim, misalnya, mengimani Tuhan yang Maha Esa, mengakui utusan-Nya, dan mengusung Kitab samawi yang sama, yang disebut dengan al-Quran. Tujuan utama mereka adalah keberhasilan hidup di dunia dan akhirat, juga kedekatan dengan Allah Swt.

Dengan mengikuti metode yang lebih sesuai dan lebih intelek -yang mengakar di jalan Ahlul Bait dan dibangun di atas sumber-sumber keagamaan yang kongkrit- harapan persatuan niscaya dapat diwujudkan. Karakteristik dari persatuan semacam itu mencakup hal-hal berikut:

1. Persatuan Islam yang didambakan menegaskan bahwa kaum Muslim, terlepas dari ragam ideologi politik, fikih, dan teologisnya, merupakan umat yang satu. Elemen-elemen mendasar dari umat semacam ini adalah penerimaan terhadap prinsip-prinsip umum seperti keesaan Allah Swt, kenabian, kebangkitan, serta keyakinan dan komitmen terhadap rangkaian hukum dan praktik keagamaan yang diakui seluruh Muslim. Berkat penerimaan terhadap prinsip-prinsip tersebut, tak satu pun perbedaan-perbedaan sepele serta ragam pandangan fikih, teologis, dan sejarah yang mampu mengancam kesatuan umat.

Kalangan yang menyimpang dan para pelaku bidah, seperti kaum ghulat (ekstrimis) dan nawashib (musuh-musuh Ahlul Bait) -dengan menyertakan sikap cermat terhadap makna dan contoh dari kedua kelompok tersebut- senantiasa ditolak oleh masyarakat Islam. Mereka telah dipandang keluar dari lingkaran Islam oleh kedua mazhab utama (Sunni dan Syiah) serta dipisahkan dari kaum Muslim lainnya. Karena itu, mazhab pemikiran Islam diperbolehkan untuk melindungi dan membela keunikan mazhab mereka -tentunya, ini hanya jika masing-masing memiliki keunikan legitimate yang dapat dipertahankan dengan keyakinan qurani yang kokoh, yang merupakan bagian dari persamaan-persamaan dan prinsip-prinsip pemikiran Islam yang definitif. Kalangan pendamba persatuan yang sebenarnya harus menarik garis antara elemen-elemen fondasional religius dan kualitas-kualitas kemazhaban, tanpa menghiraukan seberapa kuatnya semua itu dapat dipertahankan. Kekhasan teologis dan yurisprudensial yang unik dari mazhab pemikiran mereka, bahkan jika semua itu menyebabkan kesempurnaan, perluasan, dan peningkatan pemahaman, serta kedekatan terhadap kebenaran, seyogianya tidak dimasukkan dalam prinsip-prinsip agama yang definitif. Ini hanya dikhususkan pada kasus keimanan yang tidak terlalu penting, seperti keabadian al-Quran atau kontroversi sejarah lainnya, termasuk isu-isu seputar takdir, keadilan, dan kekudusan. Mereka yang memfokuskan dirinya pada isu-isu minor tersebut dan saling menolak satu sama lain atau menuduh satu sama lain sebagai kafir agaknya tidak mempertimbangkan apakah mereka sendiri adil atau suci.

2. Persatuan Islam meniscayakan bahwa perdebatan intelektual dengan mazhab pemikiran lain harus mengacu pada tolok ukur perdebatan yang etis, sikap toleran, dan nilai-nilai moral. Masing-masing mazhab, seraya tetap bersikukuh dengan keyakinannya, harus memperlakukan dan berbicara dengan selainnya secara santun. Dalam persatuan semacam itu, alih-alih mencap pihak lain sebagai korup, salah paham terhadap pandangan selainnya, saling menghina satu sama lain, dan meributkan detail masalah-masalah minor, justru yang terjadi adalah [muncul dan menguatnya] sikap menghargai pandangan [pihak lain], menghormati perasaan dan agama, serta kemauan untuk memaafkan selainnya. Tidak ada celah untuk melukai perasaan atau kepercayaan religius seseorang; dan tidak ada celah untuk melemahkan mazhab religius tertentu dalam upaya untuk memaksa para pengikutnya berpindah mazhab -semuanya atas nama mencapai persatuan Islam.

3. Tipe persatuan umat Islam yang sesungguhnya dan benar-benar didamba adalah yang berdasarkan pada sumber-sumber dan prinsip-prinsip religius. Ini seyogianya dipandang sebagai kewajiban agama yang mengakar dalam keinginan individu. Persatuan bersyarat -yakni, persatuan sementara yang menekankan kebutuhan-kebutuhan dalam rentang waktu tertentu atau [dikarenakan] ancaman yang ada atau masih bersifat potensial (yang juga dapat disebut dengan ‘persatuan taktis’ atau ‘persatuan politis’)- hanya akan menempatkan api dalam sekam. Sekalipun individu-individu dari sebuah kelompok tertentu -yang dipandang “musyrik”, “murtad”, “kafir”, “penghuni neraka”, “lebih najis dari anjing”- ditolerir dalam jangka waktu tertentu dikarenakan adanya sejumlah manfaat yang bersyarat, dukungan mereka tetap tidak akan dapat diperoleh. Sebaliknya, mengingat kemunafikan inheren dalam bentuk persatuan ini, kebencian terhadap kelompok lain akan semakin meningkat. Apa yang dibutuhkan adalah sebuah persatuan yang kuat dan permanen, yang ketika para ulama dari pelbagai mazhab Islam secara resmi mengakui pihak lain berada dalam lingkaran Islam -terlepas dari perbedaan-perbedaan dalam tingkatan-tingkatan mereka- sebagai “Muslim”, “mukmin”, dan “kalangan yang selamat”. Mereka jangan sampai memandang bahwa merekalah satu-satunya kalangan yang beriman dan bahwa versi sejarah dan ideologi yang mereka anut menjadi tolok ukur yang memisahkan antara keimanan dan kekafiran. Resistensi dan perbedaan di antara mazhab-mazhab Islam tidak selamanya, dan memang tidak, sebanding dengan resistensi dan perbedaan agama dan aturan-aturan praktis. Terbuka kemungkinan secara intelektual untuk bekerjasama dengan selainnya, menyeru mereka pada kebajikan, serta mencegah mereka dari kemungkaran.

4. Dalam persatuan Islam yang didamba-dambakan, kaum beriman dari suatu kelompok seyogianya tidak sampai menyebabkan pihak tertentu menganggap mereka berpura-pura, bersikap jahat, atau tidak dapat diterima. Tolong camkan persoalan penting ini, bahwa kalangan yang meyakini dirinya mampu melihat Allah Swt pada Hari Pembalasan tidak mesti digolongkan ke dalam mazhab Mujassamah (korporealis) atau Mushabbah (antromorfis). Mereka yang meyakini quiditas dari esensi dan sifat Ilahi tidak mesti digolongkan ke dalam mazhab Mu’aththilah (kalangan yang menolak mengimani Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan). Kalangan yang menolak karakter esensial kebajikan dan keburukan tidak sampai menganggap Allah Swt sebagai sosok sewenang-wenang. Demikian pula, tidaklah adil untuk menyatakan bahwa seseorang yang mengungkapkan perasaan cintanya terhadap keluarga Nabi Saw dengan cara mencium dan menunjukkan penghormatan terhadap makam suci mereka atau yang mengecam keras dan menjauhi musuh-musuhnya, adalah musyrik dan halal dibunuh.

5. Para pendamba persatuan (dan bukan semata-mata persatuan yang superfisial) tidak pernah menghentikan upaya mereka sekaitan dengan pelbagai marabahaya dan kesulitan yang terdapat dan terjadi di tengah masyarakat Islam. Mereka tak kunjung menyurutkan langkah sekaitan dengan keragaman pandangan teologis dan fikih. Sebaliknya, mereka memfokuskan diri pada jenis-jenis opini, konfrontasi, kesalahpahaman, dan baru-baru ini, hasutan untuk merangsang sensitifitas religius. Menurut Syahid Muthahhari ra, ancaman terhadap kaum Muslim yang berasal dari kesalahpahaman yang tidak masuk akal di antara kedua belah pihak jauh lebih berbahaya ketimbang yang berasal dari perbedaan-perbedaan religius yang bersifat aktual. Perbedaan-perbedaan religius di antara kaum Muslim bukanlah faktor yang menghambat persatuan; bukan pula faktor yang mengendala terbangunnya persaudaraan di bawah spirit qurani “orang-orang beriman sungguh bersaudara.” (QS. al-Hujurat [49]: 10) Tuhan yang disembah mereka semua adalah esa dan mereka semua menegaskan hal itu: “Tiada Tuhan selain Allah.” Mereka semua mengimani kenabian Muhammad Saw dan bahwa rantai kenabian berakhir bersamanya. Mereka semua meyakini bahwa agamanya adalah agama terakhir. Mereka semua menjadikan al-Quran sebagai kitab samawinya, membacanya, dan menganggapnya sebagai konstitusinya. Mereka mengerjakan shalat dengan menghadap kiblat yang sama dan mengumandangkan azan. Setiap tahun, mereka semua berpuasa dalam satu bulan tertentu, bulan Ramadhan. Mereka merayakan hari Idul Fitri dan Idul Adha. Mereka melaksanakan ibadah haji dengan cara yang sama serta berkumpul bersama di Rumah Allah. Mereka mencintai dan menyanjung keluarga Nabi Saw. Semua itu sudah cukup untuk menciptakan jalinan kalbu di antara mereka dan mengobarkan rasa persaudaraan Islam dalam diri mereka.

Karenanya, lakukanlah upaya untuk mencegah kemungkinan munculnya kesalahpahaman. Lakukanlah upaya untuk mencegah persepsi-persepsi keliru…. Lakukanlah upaya pencegahan terhadap seluruh faktor yang hanya akan memperburuk hubungan di antara kaum Muslim.[2]

Karena itu, kita harus menahan diri dari mengungkit-ungkit masa lalu yang pahit seraya pada saat yang sama, mencegah tersebarluasnya momen-momen kemunduran tersebut. Sebaliknya, kita harus fokus pada pada titik-titik kekuatan dan ranah budaya Islam yang penuh semangat. Imam Khomeini dengan tegas menyatakan:

“Kaum Muslim diwajibkan untuk memperlakukan satu sama lain dengan rasa hormat dan persahabatan; mereka harus memiliki perasaan cinta terhadap satu sama lain sebagaimana saudara kandungnya sendiri. Jelas sudah bahwasanya cinta dan hasrat meningkatkan sentimen-sentimen tersebut. Adapun yang menghancurkan ikatan persaudaraan dan menyebabkan perpecahan suatu kelompok sangat dibenci Sang Pembuat Hukum dan bertentangan dengan hikmah-Nya yang Maha Agung. Dipahami betul bahwa jika dosa paling besar menjadi lazim dalam kehidupan suatu kelompok, niscaya akan tercipta kebencian, kedengkian, perpecahan, dan permusuhan; ia akan menjadi akar korupsi di tengah komunitas. Pohon kemunafikan akan tercipta dan persatuan masyarakat akan tercabik-cabik; fondasi-fondasi agama akan runtuh seiring meningkatnya korupsi dan kesesatan.”[3]

Al-Quran dan Persatuan Islam
Analisis mendetail terhadap apa yang dinyatakan al-Quran mengenai persatuan Islam -seperti menyebutkan faktor-faktor, sumber-sumber, dan metode-metode persatuan serta pentingnya menahan diri dari membesar-besarkan perbedaan- berada di luar cakupan karya tulis ini serta melampaui kemampuan penulisnya. Jelas bahwa mengenal dan mengetengahkan isu penting semacam itu selayaknya menuntut pemahaman yang utuh seputar konsep yang dikemukakan dalam masing-masing ayat yang menyinggung subjek persoalan ini berikut konteks ayat-ayat tersebut diwahyukan. Lebih penting lagi, kita niscaya membutuhkan keistimewaan untuk memperoleh semangat al-Quran yang mendidik.

Pada saat yang sama, bagaimana pun, pintu-pintu penelitian seyogianya ditutup rapat sekaitan dengan keterbatasan ini, khususnya dikarenakan para Imam memandang al-Quran sebagai poros persatuan paling penting, prinsip-prinsip yang digali dari teks-teks suci ini. Karena itu, sekaitan dengannya, upaya pada tingkat yang paling mungkin mesti dilakukan guna mengetengahkan prinsip-prinsip dari sudut pandang Islam. Semua itu terbagi dalam dua kategori.

A. Menyerukan Persatuan dan Mencegah Perpecahan
Kendati berdasarkan perbandingan secara umum, dapat diklaim bahwa tak satu pun mazhab pemikiran atau agama yang menyerukan persatuan, kerjasama, dan cara-cara mewujudkannya, juga tidak menahan diri dari perbedaan, perpecahan, dan hasil negatif dari semua itu, yang lebih dari Islam. Sangat penting dicamkan kata-kata berikut, “Islam dibangun di atas dua basis; penyembahan terhadap Tuhan yag Maha Esa dan persatuan.” Bangunan persatuan dalam kebudayaan Islam sedemikian tinggi yang beberapa pernyataan seputar kebutuhan terhadapnya disokong oleh al-Quran, kehendak Ilahi yang bersifat umum berikut segenap konsekuensinya.[4] Al-Quran memuji umat Islam sebagai umat yang satu[5] dan yang ditegakkan figur-figur luar biasa yang berperan sebagai suri-teladan umat manusia, yang berkumpul bersama di bawah panji keimanan terhadap Allah Swt.[6] Lebih jauh lagi, seluruh umat manusia, dengan seluruh perbedaan yang ada, dipandang memiliki prinsip umum yang satu. Al-Quran, sebagai tambahan untuk memerintahkan orang-orang untuk menjalin persaudaraan, persatuan, dan kerjasama dalam kebajikan dan ketakwaan, menganggap konsep-konsep tersebut sebagai rahmat yang dianugerahkan kepada umat Islam di masa Rasulullah Saw sekaitan dengan penerimaan mereka terhadap Islam dan kenabiannya.[7] Penegasan dan penekanan al-Quran terhadap persatuan religius dan masyarakat Islam tercatat dalam ungkapan-ungkapan berikut: “berpegang teguh”, “memperbaiki hubungan di antara kalian”, “bekerjasama”, “berdamai”, “memperbarui”, “mendamaikan hubungan di antara kalian”, “[celupan] warna Ilahi”, “cinta”, dan “persaudaraan”.

Demikia pula, al-Quran meletakkan di baris terdepan ajarannya cara mencegah permusuhan, kedengkian, dan kebencian di antara individu dan kelompok, juga penolakan terhadap permusuhan, kontroversi, dan kemunafikan intelektual. Di samping berasal dari al-Quran, persoalan penting ini juga dibahas secara serius dalam riwayat-riwayat keislaman yang akan dikemukakan dalam pembahasan berikutnya.[8] Al-Quran sebagai sumber Islam paling otoritatif, memandang perpecahan dan perselisihan di tengah masyarakat sebagai “langkah-langkah setan” dan faktor utama di balik kehancuran.[9] Perpecahan kaum Muslim menjadi kelompok-kelompok terpisah ditempatkan bersamaan dengan hukuman Ilahi; akibat-akibat yang ditimbulkannya berupa kegetiran perang dan kesulitan.[10]

Al-Quran memandang permusuhan dan kebencian sebagai sikap tidak bersyukur kepada Allah Swt; ia memperhitungkan semua itu sebagai dosa dan perbuatan durhaka. Ia menegaskan bahwa semua itu merupakan perbuatan setan dan karenanya melarang keras kedurhakaan dan permusuhan. Upaya menghilangkan permusuhan ini telah dinyatakan sebagai salah satu tugas penting kenabian. Dalam pandangan kitab samawi yang suci ini, salah satu faktor utama di balik kebinasaan bangsa-bangsa terdahulu adalah perpecahan dan perselisihan di tengah masyarakatnya. Faktor terpenting dari perpecahan di tengah masyarakat adalah perbedaan-perbedaan yang berhubungan dengan agama. Perselisihan dan perpecahan hanya mengakibatkan stagnasi, keterpisahan, dan kerapuhan fondasi kehidupan sosial.[11]

Al-quran mengajarkan kita -melalui ayat-ayatnya yang menekankan pemikiran dan perenungan mendalam seputar agama, serta melalui ayat-ayatnya yang memerintahkan kita mempertimbangkan berbagai pandangan untuk kemudian memilih yang terbaik di antaranya- bahwa kita harus menahan diri dari argumen-argumen yang tidak bermanfaat dan dari argumen-argumen yang menggiring pada permusuhan. Menariknya, seraya menyerukan kasih sayang sosial dan pengurangan perdebatan dan perpecahan sosial, al-Quran memerintakan kaum Muslim untuk menahan diri dari mempersengit perdebatan intelektual dengan kalangan Ahlul Kitab. Ia menegaskan untuk menyerahkan masalah mencari kebenaran kepada Allah Swt dan Hari Pembalasan.[12] Dalam seruan yang dialamatkan kepada Ahlul Kitab, disampaikan sebuah ajakan kepada prinsip-prinsip umum dan bersama-sama menghadapi kaum musyrik dan orang-orang kafir.[13] Seraya memberikan perhatian terhadap pentingnya persatuan dan persaudaraan serta sikap tegas al-Quran dalam melarang kaum Muslim mempersengit perdebatan, menyulut perpecahan, terbagi ke dalam kelompok-kelompok, dan menempuh jalan yang berbeda,[14] dasar-dasar perbedaan dan perpecahan dapat dijejaki pada sejumlah sifat buruk tertentu yang bersifat etis-moral, seperti sikap curiga, fitnah, mencari-cari kesalahan, memata-matai kaum yang beriman, tuduhan, penistaan, tutur kata melecehkan, ejekan, egosentrisme, arogansi (kecongkakan), kebencian, dan memutus tali silaturahmi.[15]

Dengan meneliti pelbagai ayat dan riwayat yang berkenaan dengannya, dapat dinyatakan secara umum bahwa tujuan penting yang ingin diraih al-Quran adalah mempersatukan umat di mana debat kusir, perpecahan, peperangan, dan pertumpahan darah tidak akan pernah terjadi. Orang-orang akan berkumpul dalam suasana yang akrab, penuh kerjasama, persaudaraan, cinta, dan keadilan. Sepanjang artikel ini, kita akan mengetengahkan sekitar 50 ayat yang berhubungan dengan persatuan dan metode untuk mencapainya, termasuk perpecahan berikut faktor-faktor yang melatar-belakanginya. Berikut adalah sejumlah contoh dari ayat yang dimaksud:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali Imran [3]: 103)

Dalam ayat ini, sebagai tambahan dalam mengenalkan poros persatuan sebagai rahmat ilahi, Allah Swt melarang kita dari berpecah belah. Di tempat lain, Dia membenci perbedaan dan perpecahan yang menjadi metode [pergaulan sosial] kaum terdahulu:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيم

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. (QS. Ali Imran [3]: 105)

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيه

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُم

… Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya… dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka…. (QS. asy-Syura [42]: 13-14)

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. al-An’am [6]: 153)

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُون

Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka. (QS. ar-Rum [30]: 32)

Dalam al-Quran, Allah Swt memandang perpecahan bertolak belakang dengan gaya hidup profetik (kenabian) dan Sunah. Dia memfirmankan dalam al-Quran al-Karim:

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُون

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (QS. al-An’am [6]: 159)

Kaum Muslim dilarang terlibat dalam debat kusir. Akibat dari debat kusir disebutkan dalam al-Quran lewat pernyataannya:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِين

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. al-Anfal [8]: 46)

Sebagaimana terlihat, makna eksplisit dari ayat-ayat tersebut menunjukkan larangan untuk berdebat kusir, mempertajam perbedaan, dan berpecah belah dalam agama. Perintah telah diberikan untuk berpegang teguh pada Tali Allah dan perpecahan digambarkan sebagai kebiasaan kaum musyrik dan kalangan yang telah binasa. Kutukan terhadap kaum musyrik dalam beberapa ayat tersebut bukan dikarenakan kemusyrikan mereka, melainkan dikarenakan perbedaan antara ucapan dan perbuatan mereka yang memecah belah agama.[16]

B. Metode Menciptakan Persatuan dan Mencegah Perpecahan
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, dapat dinyatakan bahwa semangat umum dari ajaran sosial Islam adalah sebagai berikut: melarang peperangan, permusuhan, perselisihan, membentuk kelompok-kelompok, memecah belah masyarakat yang beriman, rasisme, bersikap curiga terhadap individu maupun kelompok. Dasar-dasar positif dari ajaran sosial Islam adalah persatuan, kerjasama, saling mencintai, berbuat kebajikan antara satu sama lain. Berkenaan dengan perintah dan seruan Islam untuk berperang, dapat dijelaskan bahwa itu dimaksudkan untuk mencegah bencana sosial serta melindungi hak-hak spiritual dan material masyarakat. Barangkali muncul pertanyaan, bagaimana pun, tidakkah cakupan perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut meliputi pula tingkat-tingkat yang berbeda dari pandangan dan pemahaman yang beragam di ranah teologi, fikih dan politik yang telah mengakibatkan terbentuknya mazhab-mazhab pemikiran Islam? Pasalnya, semua itu kiranya mampu mencegah peperangan, debat kusir, dan perselisihan yang tidak bermanfaat, serta mendorong ke arah cinta, kesucian, persaudaraan, dan kerjasama dalam pengertian positif. Namun, apakah aturan-aturan agama menyerukan pula penyeragaman pandangan dan keimanan?

Menjawab pertanyaan ini secara positif akan membawa kita berhadap-hadapan dengan serangkaian pertanyaan lain dan berupaya menjawabnya. Sebagai contoh, mengajak seseorang untuk memikirkan dan merenungkan secara mendalam ihwal agama yang menyatakan secara implisit bahwa berbagai pandangan dan pemahaman secara tak terelakkan bakal terbentuk. Dapatkah dikatakan bahwa Islam memerintahkan sesuatu namun menolak menanggung akibat-akibat alamiahnya dan pada kenyataannya bahkan melarangnya? Jelas terbukti bahwa kita tidak dapat meminta seseorang untuk berpikir mengenai sesuatu dan kemudian melarangnya untuk mengungkapkan kesimpulannya yang berkenaan dengannya.Tentu saja, terdapat kriteria yang diterapkan pada proses menalar. Namun, sekalipun jika dua individu menggunakan kriteria yang sama dalam menalar, tak ada jaminan bahwa kesimpulan-kesimpulan yang mereka hasilkan juga bakal sama.

Perbedaan di antara potensi kognitif seseorang serta kemampuannya untuk memahami dan berintuisi merupakan keniscayaan yang tak dapat disangkal. Pada kenyataannya, sejumlah komentator al-Quran pernah menggunakan ayat-ayat al-Quran untuk membuktikan bahwa keragaman sudut pandang merupakan hikmah penciptaan.[17] Pada gilirannya, perbedaan-perbedaan tersebut menghasilkan pemahaman intelektual yang beragam, yang dibutuhkan untuk menciptakan keyakinan dan pandangan yang bervariasi. Kebutuhan tersebut hanya dapat dihilangkan jika sumber keragaman dan perbedaan itu dihilangkan. Terbukti dengan sendirinya bahwa penghilangan sumber tersebut adalah mustahil; lantas, bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut dapat diatasi tanpa menghilangkan sumbernya?

Karena itu, perbedaan pandangan dan sudut pandang di antara berbagai mazhab teologi, politik dan fikih dalam Islam tidak dapat dihakimi tanpa membedakan kasus-kasusnya dan memahami motif-motifnya.[18] Namun demikian, karakteristik-karakteristik dari perbedaan-perbedaan yang tidak diharapkan harus dibedakan secara kontras dengan perbedaan-perbedaan tersebut berdasarkan sejumlah kriteria tertentu. Dalam budaya qurani dan aturan praktis Islam, ihwal yang dipandang lebih penting ketimbang apapun adalah mengobservasi batas-batas, mengungkapkan criteria-kriteria praktis dan teoretis, serta mengemukakan metode-metode untuk mengklarifikasi perbedaan; bukan mengenyahkan sumber-sumbernya. Artikel ini akan mencukupkan dirinya dengan mengemukakan dua kasus penting yang berkenaan dengannya:

1. Perpecahan: Akibat Mencari Kebenaran atau Pembangkangan
Perbedaan-perbedaan dan perpecahan-perpecahan yang bukan berasal dari renungan terhadap persoalan-persoalan keagamaan dan mencari kebenaran, melainkan dari faktor-faktor politik, sosial, dan pribadi—seperti kecintaan, kebencian, atau kecongkakan individu atau kelompok terhadap selainnya—bukan hanya ditolak, melainkan juga mutlak dilarang. Dari sejumlah ayat al-Quran yang terkait, jelas kiranya bahwa beberapa perbedaan dan perpecahan yang tidak diinginkan berasal dari pembangkangan, kedengkian, dan kesombongan orang-orang yang menyebabkan perpecahan. Salah satu faktor yang paling penting di balik peperangan dan pertumpahan darah di tengah masyarakat manusia adalah keinginan untuk berkuasa dan pandangan tentangnya yang diusung sejumlah kelompok. Dalam kategori ayat-ayat al-Quran yang menyinggung masalah perbedaan dan perpecahan, serangkaian ayat al-Quran menyebutkan tentang bagaimana sejumlah pihak terpecah belah setelah datangnya pengetahuan kepada mereka dan kebenaran menjadi jelas bagi mereka. Al-Quran melarang kaum beriman dari perpecahan semacam itu dan menyatakannya dalam sejumlah ayat:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka…. (QS. Ali Imran [3]: 105)

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيه

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُم

… Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya… dan mereka tidak berpecah belah (ke dalam mazhab-mazhab), kecuali setelah datang pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka…. (QS. asy-Syura [42]: 13-14)

Dalam kesempatan ini, Allah Swt menyatakan bahwa sejumlah bangsa tidak berpecah belah hingga setelah mereka mendapatkan pengetahuan. Dalam ungkapan yang lain, mereka secara sadar dan sengaja berpecah belah, dan ini tidak akan terjadi kecuali dikarenakan adanya elemen-elemen pembangkangan yang mereka perlihatkan satu sama lain. Motif dan semangat yang sama ini juga disebutkan al-Quran dalam kasus-kasus lain.[19] Saat menarasikan perbedaan-perbedaan dan perpecahan-perpecahan tersebut -yang acapkali diatributkan pada bani Israil, khususnya pada kalangan pembesar agamanya- tidak terdapat sebutan yang dikemukakan bahwa mereka mencari kebenaran atau berkeinginan untuk memahaminya, atau sekaitan dengannya, apakah dengannya (perbedaan dan perpecahan) mereka benar-benar menemukan aspek realitas tertentu atau tidak. Alasan di balik semua ini adalah bahwa realitas dari situasi yang ada sudah serba-jelas bagi mereka -setelah pengetahuan datang kepada mereka. Karena itu, dalam terminologi al-Quran, motif di balik perpecahan mereka adalah pembangkangan (pelanggaran, penindasan, atau kedengkian) kalangan pembesar agama mereka. Untuk alasan ini, Allamah Thabathaba’i mengatakan, “Dalam al-Quran, Allah Swt tidak mengutuk perpecahan atau perbedaan kecuali semua itu diiringi hasrat jasmaniah dan bertentangan dengan tuntunan rasional.”[20]

Dalam pelbagai kasus, terlepas dari fakta bahwa al-Quran menegaskan bahwa seseorang tidak akan dikenai hukuman atas kesalahan-kesalahannya dan apa yang telah perbuat jika itu disebabkan kelalaiannya, perhatian yang jauh lebih banyak diarahkan pada kalangan yang menyebabkan perpecahan secara sengaja (ta’ammud) dan yang bersumber dari pembangkangan (bagha). Tindakan-tindakan semacam itu tidak dapat ditoleransi di dunia ini dan akan membuahkan serangkaian akibat yang mengerikan di masa mendatang. Al-Quran membolehkan kita untuk memerangi mereka yang terus menerus memecah belah dan membeda-bedakan serta orang-orang yang berbuat demikian dikarenakan kedurhakaan dan pembangkangan [terhadap kebenaran]. Firman Allah Swt:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ

Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah…. (QS. al-Hujurat [49]: 9)

2. Berpegang Teguh pada al-Quran dan Sunah
Merupakan sesuatu yang alamiah jika dalam mencegah perpecahan serta berupaya menciptakan masyarakat yang sama dan sebangun, suatu mazhab pemikiran juga akan mengemukakan metode untuk mencapainya. Karena itu, Allah Swt memperkenalkan dua poros prinsip yang kebal dari serangan: al-Quran dan Sunah. Dia menggambarkan semua itu sebagai fondasi persatuan religius, sarana untuk menuntun umat Islam menempuh jalan yang lurus, dan cara paling efektif untuk menghilangkan atau mengurangi perbedaan-perbedaan dan perpecahan sosial maupun teologis. Al-Quran senantiasa berkorelasi dengan kepatuhan terhadap Allah Swt berikut utusan-Nya. Metode mengatasi perselisihan yang dikemukakan al-Quran adalah berpegang teguh kepada Allah Swt dan Nabi-Nya Saw. Berikut adalah ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengannya:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. al-An’am [6]: 153)

Menurut ayat ini, “jalan yang lurus” adalah jalan di mana tidak terdapat perpecahan. Jika seseorang atau kelompok menempuh jalan perpecahan dan pemisahan, yang menjauhkannya dari jalan wahyu yang tidak terdapat perbedaan, maka dia berarti telah melangkah keluar dari “jalan yang lurus”. Makna yang nyata dari ayat tersebut menyataka bahwa “jalan yang lurus” adalah jalan Nabi Islam Saw. Di tempat lain, al-Quran memandang “jalan yang lurus” sebagai jalan para nabi, syuhada, orang-orang saleh, dan shiddiqin.[21] Menarik untuk dicatat bahwa dalam ayat yang telah dikemukakan sebelumnya, al-Quran pertama-tama menyebut “jalan yang lurus” dan kebutuhan untuk menempuhnya sebagai prasyarat untuk menghindari terjadinya perpecahan ke dalam beberapa kelompok yang berbeda.[22]

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيم

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus…. dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…. (QS. Ali Imran [3]: 101 dan 103)

Allamah Thabathaba’i menulis sekaitan dengannya:

“‘Berpegang teguh kepada tali Allah’ adalah memegang teguh ayat-ayat Allah dan Rasul-Nya (yakni, al-Quran dan Sunah), di mana tuntunan telah dijamin. Berpegang teguh kepada Rasul-Nya adalah, senyatanya, memegang teguh al-Quran; keduanya berasal dari sumber yang satu. Alasannya adalah bahwa dalam al-Quran, Allah memerintahkan kita untuk menaati Nabi Saw. Secara fundamental, menaati Allah tidak dapat dicapai kecuali melalui Rasul-Nya.”[23]

Tali (habl) Allah Swt adalah al-Quran yang diwahyukan-Nya. Ayat-ayat al-Quran tersebut, ibarat tali atau tambang, terikat dan terhubung dengan Allah Swt.[24]

Rasulullah dan Persatuan Islam
Dengan membaca sekilas ajaran-ajaran Nabi Islam Saw dalam bidang teologi dan praktik-praktiknya, akan menjadi jelas bahwa tegaknya umat Islam dibangun di atas persatuan. Tindakan-tindakan dan tujuan kaum beriman—bahkan termasuk sikap murah hati terhadap non-Muslim—terdiri dari substansi dan hasil dari sekumpulan ajaran dan praktik Nabi Saw. Dalam kesempatan ini, kami akan menyuguhkan beberapa ungkapan dan tindakan Nabi Saw yang benar-benar mengharapkan dan jelas-jelas menyebutkan keharusan tegaknya persatuan Islam.

A. Seruan Umum terhadap Solidaritas
Banyak contoh seputar ucapan Nabi Saw mengenai persatuan sosial, pemahaman bersama, dan persaudaraan dalam keimanan di satu sisi, serta larangan berpecah belah di sisi lain. Beliau juga berbicara mengenai sumber-sumber, faktor-faktor, dan dasar-dasar persatuan maupun perpecahan.

Secara esensial, gagasan tentang akhlak yang mulia (makarim al-akhlaq) -yang dalam ungkapan Nabi Saw sendiri merupakan hikmah dari diutusnya beliau oleh Allah Swt- tak lain dari menciptakan masyarakat yang berdasarkan pada persaudaraan, bahasa bersama, sikap saling mencintai, memaafkan, kesucian, kedermawanan, optimisme, keadilan, kasih sayang, dan kesantunan; itu juga bermakna menjauhi peperangan, saling mencela, pesimisme, fitnah, rasisme, tuduhan palsu terhadap kaum Muslim, serta perlakuan tidak etis lainnya. Nasihat etis Nabi Saw dipenuhi frase seperti saling mencintai, saling menolong, konfrontasi positif, ketakwaan, perdamaian, musyawarah, dan sikap memaafkan. Tentu saja menyajikan daftar dari kasus-kasus tersebut berada di luar cakupan dari artikel ini. Karena itu, kiranya sudah mencukupi jika disebutkan beberapa di antaranya:

Nabi Saw menyabdakan bahwa persatuan umat Islam menyebabkan kebaikan dan rahmat, sementara perpecahan merupakan faktor di balik kebinasaan dan siksa. Beliau bersabda, “Berkumpul bersama (bersatu) itu kebaikan (sebuah rahmat) sedangkan perpecahan adalah siksa.”[25] Dalam pandangan Nabi Saw, berkumpul bersama bersifat positif, dan semakin suatu komunitas berkumpul bersama, maka semakin baik.[26] Imbauan Nabi Saw yang terus menerus untuk shalat berjamaah dan hadir di masjid juga diriwayatkan dalam ratusan hadis.[27]

Rasulullah Saw yang agung menyampaikan sejumlah pernyataan di mana memisahkan diri dari kebersamaan Islami dipandang sebagai bentuk meninggalkan barisan Islam dan kembali ke abad Jahiliyah. Beliau menyabdakan, “Simpul Islam telah ditanggalkan dari leher seseorang yang memisahkan dirinya dari komunitas Muslim.” Beliau juga mengatakan, “Barangsiapa yang memisahkan diri dari komunitas Muslim walaupun sejengkal akan mati dalam keadaan jahiliyah.”[28]

Diriwayatkan pula sabda ringkas Nabi Saw lainnya yang terkait dengannya, “Tangan Allah berada di atas/bersama jamaah.”[29] “Bergabunglah dalam jamaah dan berhati-hatilah dengan perpecahan.” “Janganlah berpecah belah karena orang-orang sebelum kalian yang berpecah belah mengalami kebinasaan.” “Janganlah berpecah belah atau hati kalian akan menjadi bercabang.” Dan, “Mereka yang terpecah ke dalam mazhab-mazhab sebelum kalian telah binasa.”[30]

Tentu saja, seseorang tidak dapat meyakini bahwa masing-masing hadis tersebut memang berasal dari Rasulullah Saw. Demikian pula, motif-motif untuk memalsukan hadis-hadis tersebut—khususnya soal penyalahgunaan ungkapan semacam “kebutuhan terhadap sebuah komunitas” dan “menahan diri dari mematahkan tongkat kaum Muslim” oleh para pemimpin bani Umayyah—tidak dapat diabaikan. Namun demikian, penekanan Rasulullah yang berulang kali terhadap persatuan komunitas Muslim, dan lebih penting lagi, tindakan-tindakan beliau yang terkait dengannya, mendukung makna umum dari hadis-hadis tersebut.

Demi memperkuat manifesto “orang beriman adalah saudara dari orang beriman” (orang beriman saling bersaudara)[31], Nabi Saw menuturkan sejumlah hadis, di antaranya:

“Seorang beriman menolong dan ditolong. Tak ada kebaikan dalam diri seseorang yang menolong dan tidak ditolong. Orang-orang terbaik adalah yang bermanfaat bagi selainnya.”[32]

“Kaum mukmin saling bersaudara… Mereka ibarat satu tangan yang mengepal ke arah orang-orang yang berhadap-hadapan dengan mereka.”[33]

“Kaum beriman ibarat sebuah bangunan; masing-masing bagian saling menguatkan satu sama lain.”[34]

“Kaum beriman dalam hal persahabatan, kasih sayang, dan cinta ibarat satu tubuh; jika salah satu organnya merasakan sakit, maka seluruh organ tubuh lainnya juga akan merasakan sakit bersamanya sepanjang malam dan mengalami demam.”[35]

Beliau juga menyabdakan, “Temuilah saudaramu dengan wajah ceria. Menjadikan saudaramu tersenyum merupakan amal kebajikan bagimu. Ampunan dianugerahkan kepada seseorang yang tidak memendam kebencian terhadap saudaranya. Tidak pantas bagi seorang mukmin untuk mengkhianati saudaranya. Layak bagi Allah untuk menjauhkan api neraka dari setiap Muslim yang membela kehormatan saudaranya.”

Nabi Saw sangat menganjurkan untuk saling memberi salam satu sama lain, seraya menyebutnya sebagai salah satu perbuatan yang disaksikan para malaikat. Beliau melarang keras seorang Muslim tetap marah dan mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari serta memerintahkan untuk mendamaikan mereka. Seseorang yang memberi dan menerima hadiah -tanpa memandang nilai hadiah tersebut- demi mempererat hubungan persahabatan dan memperkuat ikatan persaudaraan serta persatuan (di tengah perpecahan antar kelompok-kelompok dan elemen-elemen egosime dalam masyarakat), akan diberi ganjaran yang sama dengan yang diterima seseorang yang berjihad di jalan Allah Swt. Karena itu, dalam tubuh masyarakat di mana Rasulullah Saw menjadi suri-teladan dan saksinya, manfaat seorang individu menggantikan kecenderungan pada kelompok, serta kasih sayang dan intelektualisme mengatasi kekerasaan dan sensitivitas [emosional].[36]

Sebagai tambahan, Rasulullah Saw menggambarkan kaum Muslim sebagai susunan gigi -semuanya sama dan sederajat. Beliau menyabdakan, “Kaum Muslim sama dengan gigi (dalam mulut seseorang).” Beliau juga bersabda, “Tak satupun dari kalian menjadi bagian dari kaum Muslim kecuali kalian mencintai untuk saudara kalian apa-apa yang kalian cintai untuk diri sendiri.”

Dalam menegaskan kesetaraan dan persaudaraan Islam, Rasulullah Saw bersabda, “Seorang Muslim adalah saudara Muslim lainnya.Mereka tidak saling menzalimi satu sama lain, tidak saling berbohong satu sama lain, tidak menahan diri dari saling menolong satu sama lain, dan tidak saling menista satu sama lain. Tingkat kekuatan yang memadai untuk berbuat kejahatan diciptakan seseorang manakala dirinya mengolok-olok saudaranya sendiri. Seluruh milik seorang Muslim -hidup, harta, dan orang-orang yang dicintainya- haram bagi Muslim lainnya.

Rasulullah Saw memandang hal berikut sebagai salah satu tanda dan karakter seorang Muslim, “Seorang Muslim adalah sosok yang menjadikan Muslim lainnya merasa aman dari ucapan dan perbuatannya. Terdapat tiga hal di mana tak ada apapun selain keikhlasan merasuk ke dalam hati seorang beriman (maksudnya, mustahil baginya untuk mengkhianati mereka)… Ketiga, masalah persatuan di antara kaum Muslim. Ini artinya, ia tidak akan menjadi seorang munafik, tidak akan mematahkan tongkat kaum Muslim, dan tidak akan memecah belah komunitas Muslim.”[37]

B. Gaya Hidup Praktis
Tuntunan universal yang diberikan Rasulullah Saw sepanjang penunaikan tugasnya sebagai seorang nabi adalah membangun masyarakat monoteistik (tauhidi) yang berpijak di atas nilai-nilai adiluhung seperti keimanan, kepemimpinan Ilahi, ketakwaan, persatuan, dan persaudaraan religius. Sangat jelas bahwa mencapai tujuan semacam itu di tengah masyarakat yang seluruh keimanan dan struktur sosialnya dibelenggu nilai-nilai jahiliyah, rasisme, dan tribalisme (semangat kesukuan) bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah; sebaliknya, semua itu menuntut kemampuan yang jauh lebih besar dari apa yang dimiliki rata-rata umat manusia. Rasulullah Saw tak punya pilihan lain kecuali memperkokoh ikatan masyarakat Muslim. Melalui pertolongan Ilahi yang bersifat khusus, beliau menggunakan metode terbaik dalam mengelola perselisihan. Terdapat banyak contoh seputar tindakan Rasulullah Saw sekaitan dengannya sepanjang periode beliau tinggal di Mekah; namun contoh-contoh paling menonjol dapat dijumpai pada periode pembentukan pemerintahan Islam pertama di Madinah. Dalam rentang waktu ini, terbuka peluang lebih besar ke arah perpecahan, baik secara internal maupun eksternal.[38]

Rasulullah Saw tidak hanya mencukupkan dirinya dengan menyeru dan berbuat; namun, gayahidup beliau juga dibentuk di atas fondasi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Berikut adalah daftar upaya-upaya dan metode-metode Nabi Saw yang mulia dalam menciptakan persatuan di antara para sahabatnya:

1. Mendirikan masjid dan menyerukan kaum Muslim untuk berkumpul di situ demi melaksanakan shalat Jumat dan shalat berjamaah.

2. Membangun persatuan umat yang satu.

3. Menciptakan ikatan persaudaraan religius di antara individu dan kelompok.

4. Menciptakan persatuan nasional dan perjanjian-perjanjian bersama di antara warga.

5. Mengkhususkan Rasulullah Saw yang mulia sebagai pusat rujukan hukum dalam menyelesaikan perselisihan.

6. Peperangan masuk akal melawan kebiasaan dan sikap intoleran abad Jahiliyah.

Menjalankan masing-masing poin tersebut serta menempatkan segenap upaya Rasulullah Saw di balik pembentukan umat yang bersatu, yang berkumpul di dekat Allah Swt dan Rasulullah Saw merupakan keagungan tersendiri. Semua itu dapat menjadi model dan teladan praktis bagi seluruh Muslim. Di sini, kami hanya akan meninjau beberapa di antara kasus-kasus tersebut.

Di antara faktor terpenting di balik perpecahan individual maupun kelompok sosial adalah sikap intoleran (tidak toleran), sektarianisme, dan tribalisme keagamaan. Klaim ini dapat dijelaskan dengan meninjau kembali perpecahan-perpecahan yang ada dalam masyarakat Islam. Salah satu kawasan utama dari upaya Rasulullah Saw adalah pencegahan atau pengaturan bentuk-bentuk intoleransi tersebut. Berkenaan dengannya, beliau bersabda, “Allah akan mengumpulkan seseorang yang di hatinya terdapat setitik intoleransi (‘ashabiyyah)[39] dengan bangsa Arab Jahiliyah.” Beliau juga mengatakan, “Seseorang yang mengajak orang-orang ke arah intoleransi akan memperoleh [hukuman] membunuh sebagaimana pembunuhan-pembunuhan yang terjadi di zaman Jahiliyah.”[40] Beliau memberlakukan pelbagai undang-undang di Madinah dengan tujuan untuk menghilangkan perselisihan dan persaingan antar-suku, sekaligus mengatur dan membimbing mereka. Manakala Rasulullah Saw memasuki kota ini dan mengetahui bahwa dua rival bebuyutan, yakni suku Aus dan Khazraj, saling bersaing untuk mendapat kehormatan menjamu Rasulullah Saw, beliau dengan bijak bersabda, “Aku akan singgah di rumah tempat untaku berhenti [melangkah].” Beliau juga menggunakan taktik menggerakan prajurit-prajuritnya dengan cepat untuk memadamkan perselisihan yang muncul di tengah para sahabatnya dalam peperangan bani Mushthalaq.

Bagaimana pun, dengan [menimbang] terlembaganya sedemikian rupa hubungan antara abad Jahiliyah dengan kecenderungan ke arah tribalisme, kondisi-kondisi semacam itu tidak sepenuhnya tumbang di masa kehidupan Rasulullah Saw. Adakalanya intoleransi dan kebencian internal antara kaum Muhajirin dan Anshar tidak hanya mengakibatkan mereka saling berhadap-hadapan satu sama lain, melainkan juga menyebabkan mereka berhadap-hadapan dengan Rasulullah Saw. Sebagai contoh, Zubair ibn Awwam yang merupakan seorang Muhajirin, terlibat dalam pertikaian dengan seorang Anshar seputar pengairan (irigasi). Rasulullah Saw mengakhiri pertikaian itu dengan menyatakan bahwa orang Anshar tersebut akan mendapat jatah irigasi setelah Zubair. Mendengar itu, orang Anshar tersebut kontan menilai keputusan Rasulullah Saw dengan menggunakan kriteria intoleran dan kesukuan warisan zaman Jahiliyah. Ia berkata pada Rasulullah Saw, “Keputusanmu memihak sepupumu.”[41]

Berkenaan dengan sikap moderat beliau sewaktu berinteraksi dengan kalangan yang menentangnya, terdapat banyak bukti al-Quran, juga yang berasal dari riwayat, yang menunjukkan bahwa beliau senantiasa berusaha mencegah pelbagai kesalahpahaman, tudingan tidak berdasar, dan pandangan menghina terhadap mereka (kalangan penentang beliau -penerj.). Jelas dipahami dari contoh-contoh tersebut, serta ratusan contoh lain yang maktub dalam buku-buku sejarah dan hadis, bahwa Rasulullah Saw, selain menyerukan dan menekankan soal masyarakat yang bersatu, juga menaruh perhatian pada pelbagai metode untuk mencapainya. Rasulullah Saw berupaya keras dengan berbagai cara untuk mengenyahkan sebab-sebab perselisihan yang muncul di tengah umat Islam, bahkan setelah wafatnya. Menentukan karakter paling penting dari al-Quran dan Sunah, termasuk menunjuk Ahlul Bait untuk menempati posisi rujukan politik dan keagamaan, merupakan keseluruhan contoh dari upaya-upaya tersebut. Karena itu, tugas penting yang harus dipikul pemimpin politik, intelektual, dan sosial adalah mengadopsi metode yang sama dengan yang digunakan Rasulullah Saw sekaligus menjadikan beliau sebagai suri-teladan

Saya pernah menonton sebuah film dokumenter tentang Sayyid Musa Sadr di jaringan televisi satelit Al-Manar. Dia ulama besar, pioner pasukan perlawanan Hizbullah di Lebanon di era 70an, di tahun-tahun awal invasi Zionist Israel. Tapi bukan itu yang ingin saya bicarakan.

Ada sesuatu di film dokumenter itu: sebuah gambar yang melekat di benak hingga kini. Sebuah memori sejarah yang bisa jadi oase pelajaran bagi kita yang hidup sekarang. Bahkan di Indonesia.

Di film berdurasi panjang itu, ada foto yang memperlihatkan momen-momen dia tengah berbicara di hadapan jamaah sebuah geraja berarsitektur agung. Dia dengan sorban hitam keulamaanya, dengan wajahnya yang teduh lalu gereja itu, sebuah gereja di Sidon sepertinya, berdiri di sebuah mimbar dengan latar tembok-tembok tinggi dan ornamen kaca gereja yang memukau.

Dua keagungan seperti berkumpul di foto itu. Seperti perasan yang terbaik dari Islam dan Kristen.

Musa Sadr memang menara suar kala itu — sebelum akhirnya hilang misterius. Dia, hingga kini dianggap pahlawan oleh hampir semua kalangan dan agama di Lebanon, diyakini kemungkinan besar diculik saat berkunjung ke Libya. Nasibnya tak jelas sejak itu. Ada yang bilang dia telah mati, meski tak sedikit yang meyakininya masih hidup dan tertawan.

Tapi sebelum kepergiannya, dia telah mewariskan sesuatu yang berharga: fikih persatuan. Secara singkat, dia memfatwakan bahwa di saat persatuan umat beragama dan bangsa dan negara jadi taruhan, urusan fikih harus dimundurkan. Sepenting apapun.

Tak pada tempatnya saya berpanjang-panjang soal tersebut. Tapi satu yang jelas, fikih persatuan itu menghasilkan buah yang segar; sesuatu yang mungkin menjelaskan aliansi super-kuat antara kalangan Kristen dengan pasukan perlawanan Hizbullah dalam kancah politik modern Lebanon dan front bersenjata menghadapi agresor Israel hingga detik ini.

Nah, saya cerita semua itu dengan benak yang masih terendam berita-berita mencemaskan dalam dua bulan terakhir. Di berbagai penjuru dunia orang dengan mudah melihat adanya kekuatan yg seperti hendak membenturkan Islam dan Kristen, Islam dan Islam. Kita lihat ada upaya pembakaran Al Qur’an di Amerika Serikat, ada penghargaan untuk kartunis penghina Nabi di Eropa, dan masih banyak rangkaian peristiwa lain. Termasuk di Indonesia.

Di Bekasi beberapa waktu yang lalu misalnya, televisi seperti ingin kita percaya kalau telah terjadi perselisihan hebat antara Islam dan Kristen di sana. Antara warga Muslim dan warga Kristen dalam soal pendirian rumah peribadatan. Lalu di Cirebon, Bogor, Jakarta dan Nusa Tenggara kita dengar berita yang kurang lebihnya sama: perselisihan besar antara pengikut Ahmadiyah dan mereka yang menolak keberadaan kelompok itu. Darah telah tumpah. Kecemasan timbul-tenggelam.

Tulisan ini tak bermaksud menyajikan jawaban untuk persoalan pelik itu. Meski jelas, kita semua menanti kehadiran pemimpin agama yang visioner. Kita menanti banyak ulama seperti Musa Sadr yang mengajarkan persatuan jauh lebih penting ketimbang apapun. Kita perlu suara ulama yang bisa mengerem dan menghentikan pucuk-pucuk ekstrim yang kadang menyembul dan menciptakan keriuhan besar – untuk tidak mengatakan memprovokasi benturan antar penganut agama.

Kita sudah punya banyak persoalan dan ekstrimisme, baik dalam cara pikir maupun pola tindak, adalah hal terakhir yang ingin kita saksikan.

Dan kabar yang terdengar dari Iran dalam sepekan terakhir sepertinya bisa jadi contoh. Ceritanya ini berawal dari sebuah surat Istiftai (permohonan fatwa) dari kalangan ulama Syiah di Arab Saudi ke Ayatullah Sayyed Ali Khameini, wali faqih sekaligus pemimpin Republik Islam Iran. Secara khusus di surat itu, mereka meminta jawaban tegas atas sejumlah hal yang menurut mereka “sangat mencemaskan”, “sumber bagi kekacauan internal” kalangan Muslim.

Telah terdengar oleh mereka bahwa Yasir al-Habib, seorang yang menyebut dirinya ulama dan berdomisili di London, sering melontarkan hujatan dan penghinaan berupa “kalimat-kalimat tak senonoh dan melecehkan terhadap istri Rasul, Ummul Mu’minin Aisyah”.

Langkah itu, kata mereka dalam surat, telah menghadirkan “sensasi negatif berupa ketegangan di tengah masyarakat Islam”. Sebagian orang, karena minimnya pengatahuan dan pandangan, nampaknya membeli ucapan Yasir itu, kata mereka. Sebagian lagi, meski lebih kecil, mengeksploitasinya “secara sistematis” di sejumlah televisi satelit dan internet demi “mengacaukan dan mengotori dunia Islam dan menyebarkan perpecahan antar muslimin.”

Dari Tehran, Sayyed Ali Khamenei memberikan yang mereka minta. Sebuah fatwa, putusan yang mengikat dan membawa implikasi hukum. Bunyinya singkat: “Diharamkan melakukan penghinaan terhadap (tokoh-tokoh yang diagungkan) Ahlussunnah wal Jamaah apalagi melontarkan tuduhan terhadap istri Nabi dengan perkataan-perkataan yang menodai kehormatannya, bahkan tindakan demikian haram dilakukan terhadap istri-istri para Nabi terutama penghulu mereka Rasul termulia.”

Fatwa itu merupakan yang mutakhir dan menempati posisi terpenting dalam rangkaian kecaman kalangan ulama Syiah atas Yasir al-Habib dan para provokator sebangsanya.

Fatwa Pemimpin Tertinggi Iran ini jelas berbeda dengan fatwa-fatwa yang biasa keluar dari majlis-majlis ulama di dunia Sunni. Pasalnya, fatwa ini membawa solusi kaki tangan pelaksanaan yang didukung segenap aparatur Republik Islam Iran.(syiahali)

Referensi

[1] Merujuk pada Nida-ye Wahdat, hal. 182.

[2] Hajji, Guzideh-i az yaddashtha hal. 10.

[3] Syarh Chehl Hadits, hal. 296.

[4] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 2, hal. 124.

[5] QS. al-Anbiya [21]: 92; an-Nur [24]: 152.

[6] Qs. al-Baqarah [2]: 143; Ali Imran [3]: 10; al-Anbiya [21]: 92.

[7] QS. Ali Imran [3]: 102-103; al-Hujurat [49]: 10; al-Maidah [5]: 2.

[8] Merujuk Mizan al-Hikmah, vol. 2, hal. 456; vol. 3, hal. 43; vol. 6, hal. 65; Tafsir ibn Katsir, vol. 2, hal, 194-195; vol. 1, hal. 396; al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. vol. 3, hal. 374; vol. 7, hal. 393; Tafsir Muhit al-A’dham, vol. 2, hal. 374; Nahj al-Balaghah, khutbah “Qasimah”, 120 dan 147.

[9] Merujuk QS. al-Baqarah [2]: 208 dan 253; Ali Imran [3]: 103; an-Nisa [4]: 157.

[10] QS. al-An’am [6]: 65; al-Maidah [5]: 14, 64, dan 91; al-Baqarah [2]: 213. Untuk informasi lebih jauh, silahkan merujuk al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 3, hal. 372-375; vol. 11, hal. 60-65.

[11] Merujuk ayat-ayat seperti asy-Syuara [26]: 13; Ali Imran [3]: 64; dan al-A’raf [7]: 46.

[12] Contoh-contoh ayat di mana Allah Swt dipandang sebagai hakim terakhir adalah az-Zumar [39]: 3; al-Hajj [22]: 68-69; al-An’am [6]: 164.

[13] QS. Ali Imran [3]: 64.

[14] QS. al-An’am [6]: 159; ar-Rum [30]: 31-32; az-Zukhruf [43]: 65; QS. al-Anbiya [21]: 37; Ali Imran [3]: 105.

[15] Sebagai contoh, silahkan merujuk QS. al-Hujurat [49]: 11-12; al-Huzamah [104]: 1-2; an-Nisa [4]: 112; an-Nur [24]: 4; al-A’am [6]: 153.

[16][16] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 16, hal. 182.

[17] Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an.

[18] Beberapa komentator al-Quran telah menyatakan bahwa ayat-ayat yang mengutuk perpecahan ke dalam mazhab-mazhab dan perbedaan-perbedaan, sebagaimana telah disebutkan, berkaitan dengan kelompok-kelompok dan kumpulan-kumpulan yang bertolak belakang dengan prinsip-prinsip keagamaan—yakni, mereka merupakan kalangan di luar agama. Lih., Milad, al-Ta’addudiyyah wa al-Hiwarfi al-Khuththab al-Islami, hal. 127.

[19] Merujuk QS. al-Baqarah [2]: 213; Ali Imran [3]: 19; al-Jatsiyah [45]: 16; Yunus [10]: 9.

[20] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 11, hal. 60.

[21] Al-Mizan fi Tafsir al-Qur’an, vol. 7, hal. 378.

[22] Ibid., hal. 381.

[23] Ibid., vol. 4, hal. 389.

[24] Ibid., vol. 3, hal. 369.

[25] Kanz al-Ummal, vol. 7, hal. 557; Nahj al-Fashahah, hal. 1202; juga merujuk riwayat ke-56, 638, 1234, 2769, 2726, 2855, dan 3211.

[26] Kanz al-Ummal, vol. 7, hal. 555.

[27] Sebagai contoh, silahkan merujuk pada ibid., hal. 552-585. Terdapat sekitar 150 hadis Nabi Saw dalam buku rujukan ini yang menyebutkan kewajiban tersebut.

[28] Nahj al-Fashahah, hadis ke-2769; merujuk Bihar al-Anwar, vol. 26, hal. 67-73 untuk kompilasi ini.

[29] Tirmidzi, hadis ke-2166; Nahj al-Fashahah, hal. 615.

[30] Kanz al-Ummal, vol. 1, hal. 177, 182, dan 205-206.

[31] Shahih Muslim, no. 1414.

[32] Kanz al-Ummal, vol. 1, hal. 142 dan 155; terdapat banyak tradisi serupa dalam buku ini, merujuk hal. 140-166.

[33] Bihar al-Anwar, vol. 71, hal. 316.

[34] Kanz al-Ummal, vol. 1, hal. 141.

[35] Shahih Muslim, no. 2585 dan 2586.

[36] Merujuk al-Kafi, kitab “al-Iman wa al-Kufr”, bab “al-Mushafihah”, hal. 179; juga merujuk Pez Huhisi dar Sirah-e Nabawi, hal. 235.

[37][37] Hasil penelitian yang lebih apik dan mendetail seputar masalah ini dapat dijumpai (diriwayatkan kedua mazhab besar Islam) dalam al-Wahdah al-Islamiyahfi al-Hadits al-Mushtarakah, hal. 73-119.

[38] Alasan internal perpecahan adalah adanya perseteruan lama antara kaum Muhajirin dan Anshar (dengan sebutan seperti orang-orang Mekah dan orang-orang Madinah, utara dan selatan, qahthani dan udnani), antara bani Hasyim dan bani Umayyah, serta permusuhan sebelumnya antara kelompok-kelompok internal Anshar (suku Aus dan Khazraj). Adapun alas an eksternal perpecahan berupa rencana jahat kaum Yahudi dan munafikin yang berusaha memecah belah kaum Muslim.

[39] Ushul al-Kafi, vol. 2, bab “al-Ashabiyyah”, hal. 308.

[40] Sunan ibn Majah, vol. 2, kitab “al-Fitan”, bab “al-Ashabiyyah”, hal. 1302, hadis ke-3948.

[41] Shahih Bukhari, vol. 3 dan 4, kitab “al-Masaqat”, hal. 235-237. Untuk informasi lebih jauh, silahkan merujuk Majmu’eh Maqalat Pezhuhishi dar Sirah Nabawi, hal. 284 dan seterusnya.

MENYIKAPI FENOMENA KEBERAGAMAN HARAKAH ISLAMIYAH…


jan 9, ’09 11:40 pm
untuk semuanya
    Setelah runtuhnya Khilafah Turki Utsmaniyyah pada 3 Maret 1924, umat Islam tidak memiliki komando pusat yang dapat menghimpun dan menyatukannya. Akibatnya, umat Islam terpecah belah menjadi kekuatan-kekuatan kecil yang tidak berdaya sehingga musuh-musuh Islam semakin leluasa menguasai negeri-negeri mereka. Melihat kondisi yang menyedihkan ini, sebagian umat Islam yang memiliki kepedulian terhadap eksistensi diennya berusaha untuk mengembalikan “menara yang hilang” –meminjam istilah Dr. Abdullah Azzam— tersebut (khilafah Islamiyah) dengan membentuk kelompok-kelompok pergerakan Islam (harakah Islamiyah). Ketika jama’atul muslimin telah lenyap, setidaknya harakah Islamiyah yang berfungsi sebagai jama’ah minal muslimin ini dapat berperan aktif dalam menghimpun potensi umat Islam untuk digunakan secara optimal dalam rangka menegakkan agama Islam (iqamatud dien).

Harakah Islamiyah yang aktif dalam kancah iqamatud dien ini pada realitanya lebih dari satu. Sebenarnya fenomena keberagaman harakah Islamiyah ini merupakan hal yang positif. Namun demikian, dalam praktek di lapangan sering terjadi aksi saling jegal dan kompetisi tidak sehat. Bahkan, tidak sedikit yang melemparkan vonis dan tuduhan negatif terhadap saudaranya sesama aktivis harakah, apalagi jika “sang pemvonis” tersebut berhasil menemukan kesalahan suatu harakah maka sudah pasti nama harakah ini akan masuk dalam black list mereka sehingga lenyaplah semua kebaikan yang dimiliki oleh saudaranya itu. Semestinya kita bisa bersikap secara adil dan proporsional. Kita mesti menyadari bahwa pada kenyataannya ada saudara-saudara kita sesama aktivis harakah Islamiyah yang juga memiliki cita-cita dan harapan seperti yang kita miliki.
Tulisan singkat ini berusaha untuk memberikan penjelasan mengenai “rambu-rambu” yang mesti dipahami oleh setiap aktivis harakah Islamiyah dalam iqamatud dien dan dalam berinteraksi dengan para aktivis harakah Islamiyah di luar kelompoknya. Tulisan ini hanyalah sebagai pengantar karena sifatnya yang masih sangat global sehingga diharapkan bagi siapa saja yang membacanya bisa memperdalam kembali masalah ini dengan merujuk pada kitab-kitab karya para ulama yang berkompeten dan atau menanyakannya pada majelis-majelis ilmu yang ada.  

Kewajiban Amal Jama’i

          Iqamatud dien bukanlah pekerjaan ringan yang bisa dipikul secara individu. Iqamatud dien merupakan pekerjaan berat yang penuh dengan tantangan dan resiko. Invidu meski setangguh apa pun kekuatan fisik, jiwa, dan unsur pendukung lain yang dimilikinya tidak akan sanggup memikul pekerjaan ini sendirian. Oleh karena itu, diperlukan adanya kerja kolektif (amal jama’i) untuk menjalankan pekerjaan ini. Syari’at secara tegas memerintahkan kita untuk melakukan amal jama’i.[1] Allah SWT berfirman :

“Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah bercerai-berai.” (QS Ali Imran [3] : 103)

Tali Allah di sini adalah Al-Qur’an sebagaimana telah diriwayatkan oleh Ali dan Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi saw. Riwayat dari Mujahid dan Qatadah seperti itu (Ahkamul Qur’an oleh Ibnu Al-Araby 1/291). Artinya, Al-Qur’an kebenaran yang menjadi dasar kehidupan Rasulullah saw. Diriwayatkan juga dari Abdullah bahwa hablullah (tali Allah) adalah Al-Jama’ah.

Al-Qurthubi berkata, “Arti hablullah di atas saling mendekati dan mencakup karena Allah SWT memerintahkan berhimpun dan melarang perpecahan. Sebab, perpecahan adalah kebinasaan dan jama’ah adalah keselamatan.” (Tafsir Al-Qurthuby 4/159)

Al-Jashas berkata, “Inilah perintah berhimpun dan larangan berpecah-belah. Orang mukmin seluruhnya diperintahkan agar mengingatkan padanya dan berhimpun di dalamnya.” (Ahkamul Qur’an oleh Al-Jashash 2/214)

Dalam ayat lain, Allah berfirman :

“Dan tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha dahsyat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah [5] : 2)

Berkata Ibnu Katsir, “Allah Ta’ala memerintahkan para hamba-Nya yang mukmin agar tolong-menolong dalam mengamalkan berbagai ragam kebaikan, itulah al-birru (kebajikan), dan dalam meninggalkan kemunkaran, itulah takwa, serta melarang mereka tolong-menolong atas kebatilan dan bantu-membantu dalam perbuatan dosa dan haram.” (Tafsir Al-‘Aliyil Qadir Likhtishari Ibnu Katsioleh Nashib Ar-Rifa’i 1/484 dan Zadul Mashioleh Ibnul Al-Jauzi 2/276)

Ibnu Jarir berkata, “Hendaklah sebagian dari kalian menolong sebagian lain, hai orang-orang mukmin, yaitu dalam mengerjakan perintah Allah yakni takwa. Takwa itu menjaga diri terhadap apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan menjauhkan diri dari durhaka kepada-Nya.” (Tafsir Ath-Thabary 6/6)

Demikianlah, amal jama’i merupakan kewajiban syar’i. Untuk melaksanakan kewajibansyar’i ini, maka dibentuklah sebuah jama’ah atau harakah Islamiyah sebagai sarana iqamatud dien agar bisa bekerja lebih praktis dan efektif. Sebab, setiap urusan yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengan berhimpun untuknya, maka adanya jama’ah untuk urusan tersebut adalah wajib. Kaidah ushul fiqh menetapkan,

مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

“Suatu kewajiban yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengannya maka ia adalah wajib.”[2]

Eksistensi Harakah Islamiyah Dalam Pandangan Ulama

Meskipun legitimasi syar’i amal jama’i begitu jelas, namun pada kenyataannya sering muncul polemik seputar eksistensi harakah Islamiyah dalam iqamatud dien. Ada sebagian pihak yang menganggap bahwa kemunculan jama’ah-jama’ah atau harakah Islamiyah merupakan hal baru dalam agama (bid’ah) yang memecah belah persatuan dan kesatuan umat Islam. Bahkan, ada tuduhan ekstrim bahwa semua harakah Islamiyah yang ada merupakan sekte sempalan di luar ahlus sunnah wal jama’ah. Benarkah tuduhan itu?

Kita tidak bisa memukul rata dalam menghukumi harakah Islamiyah yang ada. Di antara mereka memang ada yang menyempal dari ahlus sunnah wal jama’ah. Ada jugaharakah Islamiyah yang mencampurkan antara sunnah dengan bid’ah. Demikian pula, adaharakah Islamiyah yang lebih dominan dalam mempraktekkan dan memperjuangkan sunnah dibandingkan dengan harakah Islamiyahlainnya.

Di luar kelompok yang telah jelas-jelas menyempal dari ahlus sunnah wal jama’ah, pada dasarnya kemunculan harakah Islamiyahini bukan merupakan bid’ah atau pencipta madzhab baru dalam aqidah. Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar berkata, “Jama’ah-jama’ah ini tidak menciptakan aqidah yang baru dan manhajnya tidak bertentangan dengan ahlus sunnah.”[3]

Bahkan, mayoritas jama’ah Islam termasuk dalam firqah an-najiyah. Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz mengatakan, “Semua jama’ah Islam termasuk dalam al-firqatun najiyah, kecuali jika ada di antara mereka melakukan kekufuran yang mengeluarkannya dari dasar iman. Tetapi perbedaan kekuatan dan kelemahan derajat mereka tergantung pada kedekatan mereka dengan kebenaran dan penerapannya, tergantung pada kesalahan mereka dalam memahami dalil dan penerapannya. Yang paling banyak mendapat hidayah adalah yang paling bisa memahami dalil dan mengamalkannya. Maka dari itu, kenalilah arah pandangan mereka. Bergabunglah bersama mereka yang paling banyak mengikuti kebenaran. Tetapi, janganlah berbuat semena-mena terhadap saudara sesama muslim yang karenanya Anda menolak kebenaran yang mereka lakukan. Ikutilah kebenaran di mana pun ia berada, sekalipun berasal dari orang yang bertentangan denganmu dalam satu dua masalah. Kebenaran adalah penuntun orang mukmin. Kekuatan dalil dari Kitab Allah dan sunnah merupakan pemisah antara kebenaran dan kebatilan.”[4]

Para ulama tidak mengingkari kemunculan harakah Islamiyah dan kontribusi mereka bagi perjuangan iqamatud dien. Ucapan Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqar dan Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz di atas menjadi bukti. Selain itu,  masih banyak fatwa dan komentar positif dari para ulama menanggapi kemunculan harakah Islamiyah. Sekadar untuk melengkapi, berikut ini saya nukilkan fatwa beberapa ulama menanggapi eksistensi harakah Islamiyah dalam lapanganiqamatud dien.

Soal :

Apakah berdirinya jama’ah-jama’ah Islamiyyah di negara-negara Islam sebagai wadah yang mengayomi dan mentarbiyyah para pemuda dalam memahami Islam, dianggap sebagai salah satu fenomena positif abad ini?

Jawab :

Eksistensi atau keberadaan jama’ah-jama’ah Islam tersebut mengandung kebaikan bagi kaum Muslimin. Meskipun demikian, hendaknya jama’ah-jama’ah tersebut berusaha keras untuk senantiasa menjelaskan kebenaran disertai dalilnya dan tidak membuat masing-masing mereka berpaling dari sebagian lainnya. Di samping itu, hendaknya jama’ah-jama’ah tersebut berupaya keras untuk saling bekerja sama, saling mencintai, saling menasihati, saling mengungkapkan kebaikan dan selalu bersikeras untuk mengabaikan segala sesuatu yang dapat mengeruhkan hubungan. Tidak ada larangan bagi berdirinya jama’ah-jama’ah tersebut selama mereka tetap mendakwahkan kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya saw.

(Fatwa al-Syaikh Ibnu Baz, Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah vol. 32 hal. 119)

Soal :

Apakah nasihat Syaikh kepada para pemuda yang bergabung dengan jama’ah-jama’ahIslamiyyah tersebut?

Jawab :

Hendaknya mereka menyusun langkah, merumuskan dan mencari cara yang haq (benar), serta selalu berkonsultasi dengan para ahli ilmu saat menemui kesulitan, bekerja sama dengan jama’ah-jama’ah lain dalam berbagai hal yang dapat memberikan manfaat bagi seluruh kaum muslimin, dengan tetap berpedoman pada dalil-dalil syar’i, menghindari kekerasan dan tidak saling mengolok-olok, senantiasa menggunakan kata-kata dan cara yang baik, menjadikan paraas-salaf ash-shalih sebagai qudwah (panutan) dan dengan menjadikan kebenaran sebagai landasan dalilnya. Di samping itu, hendaklah mereka pun memperhatikan aqidah yang benar, yaitu aqidah yang dianut oleh Rasulullah saw. dan para sahabatnya ra.

(Fatwa al-Syaikh Ibnu Baz, Majallah al-Buhuts al-Islamiyyah vol. 32 hal. 119)[5]

Berkata Syaikh Muhammad Abdul Hadi Al-Mishri, “Sesungguhnya beramal untuk Islam melalui jama’ah-jama’ah tersebut merupakan tindakan yang benar secara syar’iyah dan aqliyah. Dan mengerahkan kemampuan seluruh anggota demi memperjuangkan Dinul Islam melalui suatu organisasi yang teratur rapi, tanpa memperhatikan bentuk organisasinya, diperintahkan secara syar’i. Dan iltizam terhadap perjanjian-perjanjian yang bersifat syar’i untuk mewujudkan suatu tugas tertentu dan jelas sesudah disepakati sebelumnya, merupakan kewajiban yang selayaknya daan sesuai dengan syari’at.”[6]

Berkata Syaikh Salim bin ‘Ied Al-Hilaly, “Maka wajib atas setiap muslim membantu jama’ah-jama’ah ini pada kebenaran yang dimilikinya dan wajib untuk melakukan nasihat dan arahan pada hal-hal yang menyimpang dari kebenaran atau tidak dapat menunaikannya dengan baik dari kebenaran tersebut. Dan wajib atas jama’ah-jama’ah ini untuk saling tolong-menolong pada kebenaran yang telah disepakati dan saling menasihati di antara mereka pada hal-hal yang diperselisihkan serta memohon kepada Allah SWT untuk menunjuki mereka dalam hal itu kepada jalan yang lurus.

Wajib bagi jama’ah-jama’ah tersebut untuk menjadi satu tangan dalam membangun istana Islam yang megah dan mengembalikan kejayaannya, karena jika bergerak sendiri-sendiri maka mereka tidak mampu, dan Allah SWT walinya orang-orang yang shalih. Wajib pula atas jama’ah-jama’ah ini untuk mengisi para pengikutnya dengan kebenaran dan kecintaan kepada seluruh kaum muslimin sehingga dapat menghancurkan penghalang hizbiyah (fanatis kelompok) yang telah memporak-porandakan persatuan dan melemahkan kekuatan serta ketangguhan mereka.”[7]

Mengapa Muncul Beragam Harakah Islamiyah    

Kemunculan beragam harakah Islamiyah setidaknya disebabkan oleh :

Pertama; karena para ulama dan da’i berbeda pendapat dalam menentukan prioritas amal untuk mengembalikan kejayaan dien ini. Hal ini dikarenakan berbedanya tingkat pengetahuan dan pemahaman dien mereka.

Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq mengatakan, “Berdirinya jama’ah-jama’ah Islam yang banyak di berbagai tempat di dunia Islam, karena tempat tinggalnya yang saling berjauhan, perbedaan prioritas, perubahan berbagai unsur dan faktor, sehingga mau tidak mau semua ini mendorong lahirnya berbagai jama’ah dakwah.”[8]

Berkata Dr. Umar bin Sulaiman Al-Asyqar ketika ditanya mengapa harus ada sekian banyak jama’ah? Mengapa tidak dibentuk satu jama’ah saja?, “Karena para ulama dan da’i saling berbeda dalam membatasi sarana dalam melakukan pembelaan terhadap Islam dan para pemeluknya, saling berbeda dalam program yang dirancang untuk mengembalikan pamor Islam dan meninggikan meneranya. Perbedaan ini tidak selamanya salah, dan bahkan adakalanya benar semua.

Bukan berarti semua pendapat, pemikiran dan persepsi yang dimunculkan semua jama’ah itu benar. Jama’ah tak berbeda dengan individu, ada yang kering dan ada yang subur, ada yang benar dan ada yang salah. Tugas para da’i dan para pemikir adalah meluruskan jalan dan arah.

Tidak dapat diragukan, banyak unsur-unsur negatif dan positif dari keberadaan berbagai jama’ah di Dunia Islam. Tidak diragukan pula bahwa di sana ada perbedaan dalam kedekatan dan kejauhannya dari manhaj yang benar. Tetapi ini suatu yang amat lumrah. Orang-orang muslim dari kalangan ahlus sunnah tidak mungkin berada dalam satu level dalam masalah pengetahuan, pemahaman dan persepsi yang benar.”[9]

Kedua; satu harakah tidak akan mampu sendirian menegakkan daulah Islam.

Dr. Abdullah Azzam mengatakan, “Sesungguhnya harakah-harakah Islam, meski bagaimana pun kuatnya, meski serapi apa pun organisasinya, tidak akan mampu sendirian menegakkan Daulah Islam.”[10]

Berkata Al-‘Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, “Memang keberadaan jama’ah-jama’ah itu saya yakini amat esensial, sebab satu jama’ah saja tidak mungkin bisa menegakkan semua kewajiban yang dibebankan oleh Islam. Oleh karena itu, masing-masing di antara jama’ah ini hendaklah melaksanakan kewajibannya. Namun dengan satu syarat, mereka semua harus berada dalam satu lingkup, menyepakati satu asa, berada pada kaidah-kaidah yang menjadi dasar pijakan, agar mereka bisa saling memahami daan berdekatan. Tidak dapat diragukan bahwa usaha iqamatud dien ini tidak menafikan masalah-masalah yang berkaitan dengan profesi praktis, seperti hubungan antara tukang besi, tukang kayu, dan tukang-tukang yang lainnya dalam membangun sebuah bangunan. Sekumpulan tukang besi tidak dapat melaksanakan tugas tukang kayu, begitu juga yang lainnya. Jika mereka saling bermusuhan atau berselisih, tentu mereka tidak akan bisa mendirikan bangunan dan menjaga keutuhan istana. Saya amat yakin, salafiah saja, atau Ikhwanul Muslimin saja, atau jama’ah mana pun yang Anda kehendaki tidak bisa berbuat banyak. Namun jama’ah-jama’ah ini, apabila bersatu dalam satu tujuan, saling tolong-menolong dengan kekhususan yang dimiliki oleh masing-masing maka pada saat itu orang-orang mukmin akan bergembira dengan pertolongan Allah.”[11]

Maka dari itu keberadaan sekian banyak jama’ah senantiasa akan menjadi fenomena yang sehat, selagi semuanya bergerak dalam lapangan kebaikan, sekaligus memberikan manfaat yang besar bagi kaum muslimin. Keberadaan mereka juga bisa menyempurnakan gambaran Islam secara keseluruhan. Jika satu jama’ah mengabaikan satu gambaran, maka jama’ah lain akan memperhatikannya, sehingga muncul gambaran Islam yang saling melengkapi, yang bisa dilihat dari berbagai jama’ah Islam, dari para ulama dan pemimpinnya, sebab tidak mungkin satu jama’ah saja bisa mencakup semua gambaran.

Kaidah-Kaidah Umum Dalam Menyikapi Fenomena Keberagaman Harakah Islamiyah

Fenomena keberagaman harakah Islamiyah merupakan bagian dari fenomena perselisihan (ikhtilaf) yang pasti terjadi di kalangan umat Islam. Selama perselisihan itu sebatas pada perselisihan yang bersifat variatif (ikhtilaf tanawwu’) –bukan perselisihan yang bersifat kontradiktif (ikhtilaf tadhad)— yang masih mengacu pada dalil-dali syar’i, maka hal ini merupakan sesuatu yang tidak dilarang. Sebab, di kalangan salafush shalih pun sering terjadi perselisihan pendapat (ikhtilaful ara) tentang suatu masalah. Masing-masing bersikukuh mempertahankan pendapatnya berdasarkan dalil-dalil yang mereka pahami. Namun demikian, perselisihan pendapat di kalangan mereka tidak lantas berlanjut menjadi pertikaian tajam.      

         Dalam menyikapi perbedaan pendapat, semestinya para aktivis harakah Islamiyah bisa meneladani contoh yang dilakukan oleh salafush shalih. Mereka semestinya bisa membedakan antara perselisihan yang bersifat variatif (ikhtilaf tanawwu’) yang diperbolehkan dengan perselisihan yang bersifat kontradiktif (ikhtilaf tadhad) yang dilarang. Masalah teknis di lapangan boleh berbeda, akan tetapi dalam konsep iqamatud dien haruslah sama. Demikian juga, metodologi (wasilah) perjuangan boleh berbeda, akan tetapi dalam metode (manhaj) perjuangan haruslah sama. Setiap harakah yang mau memperjuangkan Islam haruslah harakah sunniyyah; artinya harakah yang bermanhaj ahlus sunnah wal jama’ah. Perselisihan yang terjadi di antara harakah-harakah sunniyyah jangan sampai menyebabkan permusuhan di antara mereka. Oleh karena itu, diperlukan kaidah-kaidah yang berpijak pada dasar ilmu, keadilan, dan sikap pertengahan dalam menyikapi perbedaan pendapat ataupun keberagaman harakah Islamiyah. Dalam bukunya Al-‘amal Al-Islamy Baina Dawa-‘il Ijtima’ wa Du’atin Niza,[12]Lembaga Studi dan Penelitian Pakistan telah meletakkan kaidah-kaidah yang cukup bijak untuk menyikapi perbedaan pendapat di kalangan ahlus sunnah wal jama’ah. Kaidah-kaidah tersebut adalah sebagai berikut : 

Kaidah pertama : Kebenaran dikenal melalui hakikatnya, bukan melalui tokoh-tokohnya (الحقّ يعرف بنفسه لا بالرّجال)

Jika kita memperhatikan perselisihan-perselisihan dan pertentangan-pertentangan yang ada, maka kita akan dapati bahwa kebanyakan adalah bersumber dari sikap fanatik buta kepada kelompok tertentu, jama’ah, atau individu. Padahal kewajiban kita adalah mengikuti kebenaran apabila telah jelas dan menjadikannya di atas segalanya. Sesungguhnya kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti. Kebenaran itu dikenal melalui hakikatnya; bukan melalui siap yang menyampaikannya. Para salafush shalih telah memperingatkan atas sikap fanatik sempit dan taklid buta.

Ibnu Mas’ud ra berkata, “Ketahuilah, jangan ada seorang pun di antara kalian yang taklid kepada orang lain dalam urusan agamanya, yaitu jika seseorang beriman ia ikut beriman dan jika orang itu kafir, ia ikut kafir. Hal ini karena sesungguhnya tidak boleh ada panutan dalam melakukan perbuatan buruk.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barri [2/114])

Imam Malik rahimahullah berkata, “Sesungguhnya aku hanya seorang manusia yang kadang salah dan kadang benar, maka perhatikanlah pendapatku. Apabila sesuai dengan Kitab dan Sunnah maka ikutilah, namun apabila bertentangan dengan Kitab dan Sunnah maka tinggalkanlah.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi karya Ibnu Abdil Barri [2/32])

Sahabat Ali bin Abi Tahlib ra. pernah berkata, “Janganlah engkau mengenali kebenaran melalui tokoh-tokohnya. Akan tetapi kenalilah kebenaran lebih dahulu, niscaya engkau akan mengenal golongan yang berada pada kebenaran itu.”

Sesungguhnya apabila kita mengetahui dan mengamalkan konsekuensi dari kaidah ini, maka akan hilang banyak dari sebab perpecahan dan pertentangan antara kita. Kita mengetahui bahwa afiliasi kita yang hakiki adalah kepada kebenaran dimana ia adalah di atas segalanya, tanpa harus fanatik buta kepada suatu kelompok, madzhab, atau individu. Akan tetapi kita membenarkan orang atau kelompok sebatas pada kebenaran yang ada pada mereka; dan kita menyelisihi mereka sebatas pada kebatilan yang ada pada mereka.

Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah, “Pada setiap kelompok tentu terdapat kebenaran dan kebatilan/kesalahan. Kewajiban kita adalah menerima yang benar dan menolak yang batil. Barang siapa yang dibukakan Allah melalui metode ini, berarti ia telah dibukakan untuknya setiap pintu menuju ilmu dan agama, serta dimudahkan untuk memperolehnya.” (Thariqul Hijratain hal. 387)

Kaidah kedua : Tidak ada manusia yang ma’shum selain para Nabi

(لا عصمة لغير الأنبياء)

Kesalahan adalah hal yang lazim terjadi paad setiap manusia. Seluruh manusia, bahkan para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan ulama, tidaklah ma’shum. Orang yang ma’shum (bebas dari kesalahan dalam menyampaikan dan mengamalkan Islam) hanyalah para nabi dan rasul. Rasulullah saw. bersabda :

كلّ بني آدم خطّاء و خير الخطّائين التوّابون

“Setiap keturunan Adam pernah berbuat kesalahan; dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang mau bertaubat.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Tirmidzi. Sanad hadits ini shahih.)

Kaidah ketiga : Melakukan kesalahan tidak mesti berarti berbuat dosa

(لا تلازم بين الخطأ و الإثم)

Sebagian ahli bid’ah berpandangan bahwa kesalahan dan dosa merupakan dua hal yang lazim. Sementara ahlus sunnah berpendapat bahwa apabila seorang mujtahid salah dalam berijtihad, maka ia tetap diganjar dengan pahala dan tidak berdosa. Hal ini berdasarkan hadits Nabi :

إذا حكم الحاكم فاجتهد فأصاب فله أجران, وإذا إجتهد فأخطأ فله أجر.

“Apabila seorang hakim (mujtahid) berijtihad lalu ijtihadnya itu benar maka baginya dua pahala. Akan tetapi  jika ijtihadnya salah maka baginya satu pahala.” (HR Bukhari)

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya banyak dari para mujtahid salaf dan khalaf telah berkata dan mengerjakan sesuatu yang bid’ah. Hal ini mungkin karena adanya hadits-hadits dha’if yang mereka mengiranya shahih, atau ayat-ayat yang mereka fahami dan ternyata tidak benar, atau karena pendapat yang mereka miliki, atau karena dalam masalah tersebut ada nash-nash yang belum sampai kepada mereka. Jika sesorang telah bertaqwa kepada Allah dengan semampunya maka ia masuk dalam firman Allah, ‘Ya Rabb kami, janganlah Engkau mengadzab kami apabila kami lupa atau salah.’” (Majmu’ul Fatawa [19/191])

Beliau juga berkata tentang keadaan para mujtahid dari golongan shiddiqinsyuhada’,dan shalihin, “Adapun hasil ijtihad mereka, maka kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah. Jika mereka berijtihad dan benar maka bagi mereka dua pahala, dan jika mereka berijtihad dan salah maka bagi mereka satu pahala atas kesungguhan mereka sedang kesalahan mereka terampuni. Adapun ahli dhalal (kesesatan); mereka menjadikan kesalahan dan dosa adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Kadang mereka ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para mujtahid tersebut dan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang ma’shum. Kadang pula mereka meremehkannya dan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang melampui batas. Adapun ahli ilmu dan iman, mereka tidak menghukumi ma’shum kepada para mujtahid tersebut dan tidak menghukumi mereka dengan dosa. Dalam permasalahan ini banyak lahir ahli bid’ah dandhalal.” (Majmu’ul Fatawa [35/69-70])

Kaidah keempat : Tidak boleh mengikuti ijtihad yang salah meskipun pemiliknya mendapatkan udzur

(لا قدوة في الخطأ ولو كان صاحبه معذوراً )

Sesungguhnya ijtihad seorang mujtahid apabila telah jelas penyelisihannya terhadap kebenaran maka wajib untuk membuangnya dan harus mengambil kebenaran yang telah ditunjukkan oleh dalil. Hal semacam ini bukanlah berarti menjatuhkan posisi mujtahid tersebut, akan tetapi kebenaran itu lebih berhak untuk diikuti.

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Seorang tokoh dari pemuka-pemuka ilmu apabila benarnya banyak, dikenal sangat memihak kepada kebenaran, luas ilmunya, menonjol kecerdasannya, terkenal keshalihan dan sifat wara’nya, serta mengikuti sunnah, maka kesalahan orang semacam ini dimaafkan. Kita tidak boleh menyatakan ia sebagai orang sesat, membuang pendapatnya, dan melupakan kebaikan-kebaikannya. Memang kita tidak akan mencontoh dia dalam hal bid’ahnya dan kekeliruannya, dan kita mengharapkan dia bertaubat dari kesalahannya.” (Siyaru A’lamin Nubala’ [5/279])

Demikian juga, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata mengenai seorang tokoh muslim yang terkemuka, “Sungguh orang semacam itu salah dan keliru, tapi dalam hal itu ia dimaafkan, bahkan diberi pahala karena ijtihadnya. Sekalipun demikian, pendapat itu tidak boleh diikuti, kehormatannya tidak boleh dijatuhkan, dan kepemimpinannya tidak boleh dibuang dari hati kaum muslimin.” (I’lamul Muwaqqi’in [3/283])

Kaidah kelima :Tidak ada kemestian antara berselisih pendapat dengan berselisih hati

لا تلازم بين الخلاف في الرأي و اختلاف القلوب

Perbedaan pendapat dan berbilangnya ijtihad adalah suatu hal yang alami karena tingkat pengetahuan, akal, dan karena adanya dalil-dalil yang terlihat kontradiktif serta tidak sampainya sebagian dalil kepada sebagian orang. Namun perbedaan ini tidak boleh menyebabkan hati menjadi saling berjauhan, pecahnya jama’ah, dan menghukumi orang yang menyelisihi dengan tanpa ilmu dan adil; karena para sahabat dulu juga pernah berselisih pendapat dalam banyak permasalahan, akan tetapi hati mereka tetap bersatu.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak sekali dari kalangan salaf yang saling berbeda pendapat dalam banyak masalah. Tetapi tidak diketahui adanya seorang pun di antara mereka yang mengecam yang lain dengan mengatakan kafir atau fasiq atau telah berbuat maksiat.” (Majmu’ul Fatawa [3/230])

Kaidah keenam : Kesalahan dinilai sesuai tingkatannya (الخطأ يُقدر بقدره)

Sebagaimana diketahui, kesalahan adalah suatu kemestian yang terjadi pada manusia. Bahkan, orang-orang shaleh dan pembesar kaum muslimin juga tidak lepas darinya. Sa’id bin Musayyib rahimahullah berkata, “Tidak ada orang yang mulia dan orang yang berilmu kecuali di dalam dirinya pasti ada aib. Akan tetapi, di antara manusia ada orang yang tidak patut untuk disebut-sebut aibnya. Maka barang siapa yang keutamaannya lebih banyak dari pada kekurangannya, maka kekurangannya tersebut tertutupi oleh keutamaan-keutamaannya.” (Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir [9/100])

Apabila setiap orang yang salah kebaikan-kebaikannya disingkirkan maka hal ini akan menimbulkan kerusakan yang besar dan bahaya yang besar pula. Ibnul Qayyim rahimahullahberkata, “Apabila setiap orang yang salah atau khilaf langsung ditinggalkan dan kebaikan-kebaikannya dihancurkan, maka rusaklah ilmu-ilmu dan hukum, serta hilanglah pengetahuan-pengetahuannya.” (Madarijus Saliki[2/39])

Kaidah ketujuh :  Perkataan orang yang berselisih dan lawannya tidak dianggap

(كلام الخصوم ر الأقران يُطوى ولا يروى)

Fenomena saling melempar tuduhan antar-aktivis harakah dalam amal Islami hari ini kebanyakan faktor penyebabnya berasal dari sifat hasad dan semisalnya dari orang-orang yang sedang berselisih kepada lawannya. Hal ini bukan masalah baru dalam sejarah manusia, namun telah lama ada dan tidak ada seorang pun yang selamat darinya kecuali para nabi dan shiddiqin.

Manhaj ahlus sunnah wal jama’ah dan para ulama jarh wa ta’dil adalah tidak menerima perkataan ini dan tidak menganggapnya kecuali apabial telah tegak dalil qath’i atas kebenarannya.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Perkataan orang-orang yang sedang berselisih, sebagian mereka kepada sebagian yang lain adalah tidak dianggap terlebih apabila telah nyata bahwa perkataan tersebut bersumber dari permusuhan dan hasad. Tidaklah selamat darinya kecuali orang-orang yang Allah jaga, dan saya tidak mengetahui satu masa yang pelaku-pelakunya selamat darinya kecuali para nabi dan shiddiqin.” (Mizanul I’tidakarya Adz-Dzahabi [1/111])

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dalam bab ini banyak manusia yang khilaf dan sesat karena kebodohan. Yang benar adalah bahwa barang siapa yang sifat adilnya telah benar, sifat amanahnya telah tetap, ketsiqahan dan kesungguhannya dalam berilmu telah jelas, maka kita tidak boleh berpaling kepada perkataan seseorang yang menjelek-jelekannya kecuali jika ia mendatangkan keterangan/saksi yang adil.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi hal. 152)

As-Subki rahimahullah berkata, “Hati-hatilah dan ketahuilah kaidah mereka (ahli bid’ah) yaitu al-jarhu (kesaksian atas kejelekan) didahulukan atas ta’dil (kesaksian atas keadilan dan kebaikan) secara menyeluruh. Akan tetapi yang benar adalah bahwa barang siapa yang kepemimpinan dan keadilannya telah tetap, banyak pemujinya, jarang pencelanya, dan didapatkan korelasi yang menunjukkan bahwa sebab orang yang menjelek-jelekannya adalah karena fanatik madzhab dan yang lainnya, maka tidak boleh berpaling kepada perkataan orang yang menjelak-jelekannya tersebut.” (Thabaqat Asy-Syafi’iyyah[1/188])

Kaidah kedelapan : (Kezhaliman tidak menghapuskan persaudaraan Islam)

الظلم لا يسقط الأخوّة الإيمانيّة

Sebagian masalah perselisihan yang ada di antara para aktivis Islam bermula dari tuduhan yang zhalim dari seseorang kepada orang lain karena sebab tertentu, lalu orang yang tertuduh membalas tuduhan tersebut. Tindakan seperti ini justru memperuncing perselisihan dan menjerumuskannya ke jurang perpecahan. Kita tidak boleh lupa bahwa perbuatan zhalim saudara kita kepada kita tidak menjatuhkan hak-haknya atas kita, seperti ukhuwah, perwalian, haram menzhalimi dan memusuhinya.

Dalam masalah ini, Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kezhaliman tidak memutuskan tali perwalian iman. Allah Ta’ala berfirman, ‘Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujurat [49] : 9-10)

Allah menjadikan tetapnya ukhuwah meskipun sudah memerangi dan berbuat aniaya. Ketahuilah bahwasanya seorang mukmin wajib untuk diberi perwakian meskipun dia telah menzhalimi dan menganiayamu. Sedangkan seorang kafir wajib untuk dimusuhi meskipun dia telah memberimu dan berbuat baik kepadamu.” (Majmu’ul Fatawa [28/209])   

Kaidah kesembilan : ً (Pengisoliran harus ada alasan syar’i)

الهجر لابدّ أن يكون شرعيّا

Termasuk penyebab terjadinya perpecahan di antara kaum muslimin hari ini adalah adanya fenomena saling mengisolir dan saling membelakangi di antara para aktivis Islam. Kebanyakan mereka memoles perilaku itu dengan polesan syar’I, padahal sebenarnya factor pendorongnya adalah karena kepentingan individu dan tidak ada korelasi sama sekali dengan pengisoliran yang syar’i. Sebab, pengisoliran yang syar’i mempunyai kriteria sebagai berikut :

  1. Hendaklah motivasinya adalah ikhlas karena Allah
  2. Hendaklah dengan cara yang syar’i
  3. Kuatnya prediksi bahwa pengisoliran tersebut akan menyampaikan kepada apa yang dimaksudkan darinya. Sebab, pengisoliran bukan merupakan tujuan. Namun, tujuan yang dimaksud adalah tercegahnya orang yang diisolir dari perbuatannya dan agar dia tidak ditiru oleh yang lain. Maka jika pengisoliran yang dilakukan tidak menghasilkan tujuan ini, pengisoliran tersebut tidaklah diperintahkan, akan tetapi ta’lif (menjinakkan) hati adalah lebih utama untuk dikerjakan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Pengisoliran yang syar’i merupakan salah satu tindakan yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, sehingga tindakan yang baik ini benar-benar bersifat ikhlas karena Allah, sejalan dengan perintah-Nya sehinga benar-benar menjadi perbuatan yang ikhlas karena Allah. Barang siapa yang mengisolir karena muslim lainnya karena dorongan hawa nafsu atau dengan pengisoliran yang tidak diperintahkan oleh agama, maka hal itu menyimpang dari syar’i. Alangkah banyaknya pengisoliran yang didasarkan pada nafsu dan sangkaan yang tidak benar, tetapi dianggap perbuatannya itu sebagai ketaatan kepada Allah. Patutlah dibedakan antara pengisoliran karena agama Allah dan pengisoliran karena nafsu. Yang pertama diperintahkan oleh Allah dan yang kedua dilarang.” (Majmu’ul Fatawa [28/207-208])  

Penutup

Perpecahan umat merupakan realitas pahit yang kita saksikan pada zaman ini. Realitas ini akan terasa lebih pahit jika para aktivis harakah Islamiyah yang diharapkan mampu mengentaskan umat dari bencana perpecahan ternyata malah menjadi tokoh pemeran utama dalam memecah belah umat; bukan berusaha memberikan solusi terhadap perpecahan yang terjadi. Sementara itu, musuh-musuh Islam dengan segala kecanggihan teknologi yang mereka miliki tidak pernah surut dalam memerangi Islam. Mereka memetik manfaat yang sangat berharga dari perpecahan umat Islam. Bahkan, dengan skenario kotor yang mereka ciptakan, tidak jarang mereka mengadu-domba umat Islam; termasuk mengadu-domba antar-aktivis harakah Islamiyah.

Oleh karena itu, harakah-harakah sunniyyah –apa pun nama harakah mereka dan di mana pun mereka berada— haruslah bersatu. Afiliasi harakah boleh berbeda, akan tetapi manhaj dan aqidah yang diperjuangkan harus sama. Kita mesti bersatu di atas manhaj dan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Demikian juga, kita mesti menyadari bahwa harakah atau jama’ah hanyalah sarana; bukan tujuan utama. Jangan sampai sarana tersebut malah mengalahkan tujuan utama.

Semoga tulisan ini mampu memberikan kontribusi berharga bagi kita semua. Amin YaRabbal ‘Alamin.

 


Catatan Kaki :

[1]. Lihat : Azzam, Abdullah. 1993. Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar Dalam Jama’ah. Tk : Haraki. Hal. 16-22.

[2] . Lihat : Al-Yusuf, Abdurrahman bin Abdulkhaliq. 1992. Legitimasi Amal Jama’i; Kupasan Gamblang Tentang Keharusan Beramal Jama’i. Tk : Pustaka Tadabbur. Hal. 7-17.

[3] . Asy-Syayaji, Abdur Razaq bin Khalifah. Al-Jama’ah Menurut Ulama Salaf dan Khalaf. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Hal. 115.

[4] . Ibib, hal. 110-111.

[5] . Kedua fatwa ini berikut terjemahannya dinukil dari majalah As-Silmi Edisi : 02 Jumadil Ula 1426 H/Juni 2005 hal. 4.

[6] . Al-Mishri, Muhammad Abdul Hadi. 1994. Manhaj dan Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Menurut Pemahaman Ulama Salaf. Jakarta : Gema Insani Press. Hal. 264-265.

[7] . Al-Hilaly, Salim ‘Ied. 2002. Mengapa Memilih Manhaj Salaf; Studi Kritis Solusi Problematika Umat. Solo : Pustaka Imam Bukhari. Hal. 27.

[8] .  Asy-Syayaji. Op.cit. Hal. 139.

[9] . Thariquddin. Makalah “Tansiq Antarharakah”, hal. 2. Dinukil dari : Asy-Syayaji, Abdur Razaq bin Khalifah. Fatawa wal Kalimat fil Maukif minal Jama’at. Hal. 212.

[10] . Azzam, Abdullah. Tarbiyah Jihadiyah. Jilid 9. Solo : Pustaka Al-Alaq. Hal. 84.  

[11] . Thariquddin. Op.cit. Hal. 2. Dinukil dari : Asy-Syayaji, Abdur Razaq bin Khalifah. Fatawa wal Kalimat fil Maukif minal Jama’at. Hal. 159-160.

[12] . Hal. 46-103. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judulMembangun Kekuatan Islam di Tengah Perselisihan Umat; diterbitkan oleh Wihdah Press Yogyakarta. Lihat hal. 49-84.

Kata kunci: 

PEMIKIRAN SALAFI


http://i389.photobucket.com/albums/oo340/ibnyahya87/Qaradawi.jpg

Aulawiyaat Al Harokah Al Islamiyah fil Marhalah Al Qodimah – Dr.Yusuf Al Qordhowi

Yang dimaksud dengan “Pemikiran Salafi” di sini ialah kerangka berpikir (manhaj fikri) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik dari ummat ini. Yakni para Sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan setia, dengan mempedomani hidayah Al-Qur’an dan tuntunan Nabi SAW.

Kriteria Manhaj Salafi yang Benar

Yaitu suatu manhaj yang secara global berpijak pada prinsip berikut :

  1. Berpegang pada nash-nash yang ma’shum (suci), bukan kepada pendapat para ahli atau tokoh.
  2. Mengembalikan masalah-masalah “mutasyabihat” (yang kurang jelas) kepada masalah “muhkamat” (yang pasti dan tegas). Dan mengembalikan masalah yang zhanni kepada yang qath’i.
  3. Memahami kasus-kasus furu’ (kecil) dan juz’i (tidak prinsipil), dalam kerangka prinsip dan masalah fundamental.
  4. Menyerukan “Ijtihad” dan pembaruan. Memerangi “Taqlid” dan kebekuan.
  5. Mengajak untuk ber-iltizam (memegang teguh) akhlak Islamiah, bukan meniru trend.
  6. Dalam masalah fiqh, berorientasi pada “kemudahan” bukan “mempersulit”.
  7. Dalam hal bimbingan dan penyuluhan, lebih memberikan motivasi, bukan menakut-nakuti.
  8. Dalam bidang aqidah, lebih menekankan penanaman keyakinan, bukan dengan perdebatan.
  9. Dalam masalah Ibadah, lebih mementingkan jiwa ibadah, bukan formalitasnya.
  10. Menekankan sikap “ittiba’” (mengikuti) dalam masalah agama. Dan menanamkan semangat “ikhtira’” (kreasi dan daya cipta) dalam masalah kehidupan duniawi.

Inilah inti “manhaj salafi” yang merupakan khas mereka. Dengan manhaj inilah dibinanya generasi Islam terbaik, dari segi teori dan praktek. Sehingga mereka mendapat pujian langsung dari Allah di dalam Al-Qur’an dan Hadits-Hadits Nabi serta dibuktikan kebenarannya oleh sejarah. Merekalah yang telah berhasil mentransfer Al-Qur’an kepada generasi sesudah mereka. Menghafal Sunnah. Mempelopori berbagai kemenangan (futuh). Menyebarluaskan keadilan dan keluhuran (ihsan). Mendirikan “negara ilmu dan Iman”. Membangun peradaban robbani yang manusiawi, bermoral dan mendunia. Sampai sekarang masih tercatat dalam sejarah.

http://www.eramuslim.com/fckfiles/Image/qardhawi_1.jpg

Citra “Salafiah” Dirusak oleh Pihak yang Pro dan Kontra

Istilah “Salafiah” telah dirusak citranya oleh kalangan yang pro dan kontra terhadap “salafiah”. Orang-orang yang pro-salafiah – baik yang sementara ini dianggap orang dan menamakan dirinya demikian, atau yang sebagian besar mereka benar-benar salafiyah – telah membatasinya dalam skop formalitas dan kontroversial saja, seperti masalah-masalah tertentu dalam Ilmu Kalam, Ilmu Fiqh atau Ilmu Tasawuf. Mereka sangat keras dan garang terhadap orang lain yang berbeda pendapat dengan mereka dalam masalah-masalah kecil dan tidak prinsipil ini. Sehingga memberi kesan bagi sementara orang bahwa manhaj Salaf adalah metoda “debat” dan “polemik”, bukan manhaj konstruktif dan praktis. Dan juga mengesankan bahwa yang dimaksud dengan “Salafiah” ialah mempersoalkan yang kecil-kecil dengan mengorbankan hal-hal yang prinsipil. Mempermasalahkan khilafiah dengan mengabaikan masalah-masalah yang disepakati. Mementingkan formalitas dan kulit dengan melupakan inti dan jiwa.

Sedangkan pihak yang kontra-salafiah menuduh faham ini “terbelakang”, senantiasa menoleh ke belakang, tidak pernah menatap ke depan. Faham Salafiah, menurut mereka, tidak menaruh perhatian terhadap masa kini dan masa depan. Sangat fanatis terhadap pendapat sendiri, tidak mau mendengar suara orang lain. Salafiah identik dengan anti pembaruan, mematikan kreatifitas dan daya cipta. Serta tidak mengenal moderat dan pertengahan.

Sebenarnya tuduhan-tuduhan ini merusak citra salafiah yang hakiki dan penyeru-penyerunya yang asli. Barangkali tokoh yang paling menonjol dalam mendakwahkan “salafiah” dan membelanya mati-matian pda masa lampau ialah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta muridnya Imam Ibnul-Qoyyim. Mereka inilah orang yang paling pantas mewakili gerakan”pembaruan Islam” pada masa mereka. Karena pembaruan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam.

Mereka telah menumpas faham “taqlid”, “fanatisme madzhab” fiqh dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Namun, di samping kegarangan mereka dalam membasmi “ashobiyah madzhabiyah” ini, mereka tetap menghargai para Imam Madzhab dan memberikan hak-hak mereka untuk dihormati. Hal itu jelas terlihat dalam risalah “Raf’l – malaam ‘anil – A’immatil A’lam” karya Ibnu Taimiyah.

Demikian gencar serangan mereka terhadap “tasawuf” karena penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan aqidah yang menyebar di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri madzhab “Al-Hulul Wal-Ittihad” (penyatuan). Dan penyelewengan perilaku yang dilakukan para orang jahil dan yang menyalahgunakan “tasawuf” untuk kepentingan pribadinya. Namun, mereka menyadari tasawuf yang benar (shahih). Mereka memuji para pemuka tasawuf yang ikhlas dan robbani. Bahkan dalam bidang ini, mereka meninggalkan warisan yang sangat berharga, yang tertuang dalam dua jilid dari “Majmu’ Fatawa” karya besar Imam Ibnu Taimiyah. Demikian pula dalam beberapa karangan Ibnu-Qoyyim. Yang termasyhur ialah “Madarijus Salikin syarah Manazil As-Sairin ila Maqomaat Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”, dalam tiga jilid.

http://shaffamuslim.files.wordpress.com/2009/02/main.jpg?w=535

Mengikut Manhaj Salaf Bukan Sekedar Ucapan Mereka

Yang perlu saya tekankan di sini, mengikut manhaj salaf, tidaklah berarti sekedar ucapan-ucapan mereka dalam masalah-masalah kecil tertentu. Adalah suatu hal y ang mungkin terjadi, anda mengambil pendapat-pendapat salaf dalam masalah yang juz’i (kecil), namun pada hakikatnya anda meninggalkan manhaj mereka yang universal, integral dan seimbang. Sebagaimana juga mungkin, anda memegang teguh manhaj mereka yang kulli (universal), jiwa dan tujuan-tujuannya, walaupun anda menyalahi sebagian pendapat dan ijtihad mereka.

Inilah sikap saya pribadi terhadap kedua Imam tersebut, yakni Imam Ibnu Taimiyah dan Ibnul-Qoyyim. Saya sangat menghargai manhaj mereka secara global dan memahaminya. Namun, ini tidak berarti bahwa saya harus mengambil semua pendapat mereka. Jika saya melakukan hal itu berarti saya telah terperangkap dalam “taqlid” yang baru. Dan berarti telah melanggar manhaj yang mereka pegang dan perjuangkan sehingga mereka disiksa karenanya. Yaitu manhaj “nalar” dan “mengikuti dalil”. Melihat setiap pendapat secara obyektif, bukan memandang orangnya. Apa artinya anda protes orang lain mengikut (taqlid) Imam Abu Hanifah atau Imam Malik, jika anda sendiri taqlid kepada Ibnu Taimiyah atau Ibnul-Qoyyim.

Juga termasuk menzalimi kedua Imam tersebut, hanya menyebutkan sisi ilmiah dan pemikiran dari hidup mereka dan mengabaikan segi-segi lain yang tidak kalah penting dengan sisi pertama. Sering terlupakan sisi Robbani dari kehidupan Ibnu Taimiyah yang pernah menuturkan kata-kata: “Aku melewati hari-hari dalam hidupku dimana suara hatiku berkata, kalaulah yang dinikmati ahli syurga itu seperti apa yang kurasakan, pastilah mereka dalam kehidupan yang bahagia”.

Di dalam sel penjara dan penyiksaannya, beliau pernah mengatakan: “Apa yang hendak dilakukan musuh terhadapku? Kehidupan di dalam penjara bagiku merupakan khalwat (mengasingkan diri dari kebisingan dunia), pengasingan bagiku merupakan rekreasi, dan jika aku dibunuh adalah mati syahid”.http://iiumbloggers.com/wp-content/uploads/2009/12/yusuf-qaradhawi-iium.jpg

Beliau adalah seorang laki-laki robbani yang amat berperasaan. Demikian pula muridnya Ibnul-Qoyyim. Ini dapat dirasakan oleh semua orang yang membaca kitab-kitabnya dengan hati yang terbuka.

Namun, orang seringkali melupakan, sisi “dakwah” dan “jihad” dalam kehidupan dua Imam tersebut. Imam Ibnu Taimiyah terlibat langsung dalam beberapa medan pertempuran dan sebagai penggerak. Kehidupan dua tokoh itu penuh diwarnai perjuangan dalam memperbarui Islam. Dijebloskan ke dalam penjara beberapa kali. Akhirnya Syaikhul Islam mengakhiri hidupnya di dalam penjara, pada tahun 728 H. Inilah makna “Salafiah” yang sesungguhnya.

Bila kita alihkan pandangan ke zaman sekarang, kita temukan tokoh yang paling menonjol mendakwahkan “salafiah”, dan paling gigih mempertahankannya lewat artikel, kitab karangan dan majalah pembawa missi “salafiah”, ialah Imam Muhammad Rasyid Ridha. Pem-red majalah “Al-Manar’ yang selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih membawa “bendera” salafiah ini, menulis Tafsir “Al-Manar” dan dimuat dalam majalah yang sama, yang telah menyebar ke seluruh pelosok dunia.

Rasyid Ridha adalah seorang “pembaharu” (mujaddid) Islam pada masanya. Barangsiapa membaca “tafsir”nya, sperti : “Al-Wahyu Al-Muhammadi”, “Yusrul-Islam”, “Nida’ Lil-Jins Al-Lathief”, “Al-Khilafah”, “Muhawarat Al-Mushlih wal-Muqollid” dan sejumlah kitab dan makalah-makalahnya, akan melihat bahwa pemikiran tokoh yang satu ini benar-benar merupakan “Manar” (menara) yang memberi petunjuk dalam perjalanan Islam di masa modern. Kehidupan amalinya merupakan bukti bagi pemikiran “salafiah”nya.

Beliaulah yang merumuskan sebuah kaidah “emas” yang terkenal dan belakangan dilanjutkan Imam Hasan Al-Banna. Yaitu kaidah :

“Mari kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati. Dan mari kita saling memaafkan dalam masalah-masalah yang kita berbeda pendapat.”

Betapa indahnya kaidah ini jika dipahami dan diterapkan oleh mereka yang meng-klaim dirinya sebagai “pengikut Salaf”.

MEREKA DITUDUH SYIAH


Mereka Dituduh Syiah (Bag. I)

K.H. Jalaluddin Rakhmat

Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang pemuka mazhab Ahlus Sunnah yang besar. Ia terkenal sebagai muhaddits (periwayat hadis). Kedalaman ilmunya dan keluasan pengaruhnya di kalangan kaum Muslimin sangat disegani Khalifah Al-Mutawakkil.

Imam Ahmad sering dimintai nasihat dalam menunjukkan hakim-hakim (qadhi) kerajaan. Ketika Al-Mutawakkil hendak mengangkat Al-Tsalji sebagai qadhi, Imam Ahmad merasa keberatan. “Jangan angkat dia, karena dia pembuat bid’ah dan penurut hawa nafsu,” kata Imam Ahmad. Al-Mutawakkil memperhatikan sarannya.

Karena ketinggian martabatnya di hadapan raja, para ulama lain merasa irihati terhadapnya (Ah, betapa sering orang menutupi kerendahan akhlak dengan jubah ulama!). Mereka mencari jalan untuk mendiskreditkan Imam Ahmad.

Dikatakan kepada Al-Mutawakkil bahwa Imam Ahmad itu Syi’ah, membaiat. pengikut Ali, dan melindungi seorang ‘Alawi di rumahnya. Waktu itu, tidak ada tuduhan yang lebih berat daripada itu. Al-Mutawakkil mengirim tentara.

Rumah Imam Ahmad dikepung. “Tuduhan ini dibuat-buat. Aku tidak tahu-menahu,” kata Imam Ahmad, “Aku menaati raja dalam suka dan duka.” Lalu ia disuruh bersumpah bahwa ia tidak melindungi pengikut Ali di rumahnya.

Rumah Imam Ahmad kemudian digeledah — kamar anak-anak, kamar wanita, bahkan sumur. Tidak ada bukti apa pun tentang ke-Syi’ah-an Imam Ahmad.

Sejarah, memang, tidak pernah mencatat Imam Ahmad sebagai Syi’ah. Ia pemuka mazhab Hambali. Lalu apa salah beliau? “Salah”-nya sedikit: di dalam Musnad Ahmad-nya, ia banyak meriwayatkan hadis-hadis tentang keutamaan Ahlul-Bait dan Ali bin Abi Thalib (karramallahu wajhah). Abdullah, putra Imam Ahmad, pernah berkata: Aku mendengar ayahku (Imam Ahmad) berkata: “Tidak ada seorang pun di antara para Sahabat yang memiliki fadha’il (keutamaan) dengan sanad-sanadnya yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib.”

Menganggap Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat paling utama adalah keyakinan Syi’ah. Begitu anggapan umum, waktu itu. Orang membuktikan ke-Syi’ahan seseorang dengan menanyakan siapa yang paling utama di antara para sahabat.

Ahlus-Sunnah akan menyebut dengan urutan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan seterusnya. Sedangkan Syi’ah akan memulai urutan pertama sahabat itu dari Ali.

Pada suatu kali, Abdullah bin Ahmad bin Hambal menanyai ayahnya, “Bagaimana pendapat Anda tentang tafdhil (urutan keutamaan) sahabat?” Ahmad bin Hambal menjawab, “Dalam khilafah: Abu Bakar, Umar, Utsman.”

“Lalu bagaimana. dengan Ali?” tanya Abdullah.

“Wahai anakku,”• kata Ahmad bin Hambal, “Ali bin Abi Thalib termasuk Ahlul-Bait dan orang tidak dapat diperbandingkan dengan mereka!

Pada kali yang lain, serombongan orang datang menyelidik, “Hai Abu Abdullah, bagaimana pendapat Anda tentang hadis – Ali pembagi neraka?

Ahmad           :Lalu apa yang kalian tolak? Bukankah Nabi s.a.w. pernah berkata kepada Ali: “Tidak mencintaimu kecuali mukmin, dan tidak membencimu kecuali munafik.”

Orang-orang : Betul (Nabi Saw berkata begitu).

Ahmad : Di mana orang mukmin menetap?

Orang-orang : Di surga.

Ahmad : Di mana orang munafik menetap?

Orang-orang : Di neraka.

Ahmad : Kalau. begitu, Ali adalah pembagi neraka.

Pernyataan-pernyataan Imam Ahmad inilah yang memperkuat tuduhan Syi’ah kepadanya. Bukankah Syi’ah adalah mazhab yang mengikuti Ahlul-Bait — dengan Ali sebagai rujukannya. Lagi pula Ahmad bin Hambal banyak meriwayatkan hadis dari perawi-perawi yang bermazhab Syi’ah. Salah seorang gurunya yang dihormatinya adalah Abdurrahman bin Shalih, seorang Syi’ah. Ahmad bin Hambal diperingatkan untuk tidak bergaul dengannya. Tetapi ia membentak, “Subhanallah, kepada orang yang mencintai keluarga suci Nabi kita berkata — jangan mencintainya? Abdurrahman bin Shalih adalah tsiqat (orang yang dapat dipercaya).

Tuduhan Syi’ah terhadap Ahmad bin Hambal ini untungnya tidak berakibat parah. Rumahnya digeledah dan ditinggalkan. Ahmad bin Hambal tetap mengajar seperti biasa. Lain halnya dengan Imam Syafi’i…

(Bersambung)

Mereka Dituduh Syiah (Bag.II)

K.H. Jalaluddin Rakhmat

Tuduhan Syi’ah terhadap Ahmad bin Hambal ini untungnya tidak berakibat parah. Rumahnya digeledah dan ditinggalkan. Ahmad bin Hambal tetap mengajar seperti biasa. Lain dengan Imam Syafi’i. Beliau beserta 300 orang Quraisy diseret dalam keadaan terbelenggu dari Yaman (menurut suatu riwayat, dari Makkah) ke Baghdad. Mereka dihadapkan kepada Harun Al-Rasyid. Seorang demi seorang dipancung di depan Khalifah.

Imam Syafi’i selamat, setelah ia mengucapkan salam kepada Harun Al-Rasyid. Ia sempat menasihati raja dan membuatnya menangis. Begitu, kata sahibul-hikayat. Kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi karena riwayat mihnah Imam Syafi’i ini bermacam-macam. Yang disepakati ialah kenyataan bahwa salah satu tuduhan kepada Imam Syafi’i ialah bahwa ia Syi’ah. Sebagian penyair mengejek Imam Syafi’i:

Mati Syafi’i dan ia tak tahu

Apakah Tuhannya Ali, atau Allah

Imam Syafi’i tentu saja tidak menganggap Ali sebagai Tuhan. Kalau Syi’ah diartikan sebagai mazhab yang menganggap khilafah adalah hak Ali, maka Imam Syafi’i bukanlah Syi’ah. “Jika Syi’ah berarti mencintai keluarga Muhammad,” kata Imam Syafi’i dalam salah satu bait, syairnya, “maka hendaknya kedua kelompok menjadi saksi bahwa aku ini Syi’ah.” Imam Syafi’i menggunakan kata “Rafidhi” untuk menyebut Syi’ah – gelaran yang lazim diberikan orang di zaman itu bagi pengikut Syi’ah.

Imam Syafi’I banyak menulis syair yang mengungkapkan kecintaannya kepadaAhlul-Bait. Beberapa di antaranya kita kutipkan di sini:

Kalau kulihat manusia

mazhab mereka tenggelam dalam samudera kesesatan dan kebodohan

dengan nama Allah aku naiki perahu keselamatan

yakni keluarga al-Musthafa, penutup para rasul

Kupegang tali Allah tempat bergantung mereka

Sebagaimana kita pun diperintah berpegang pada tali itu

Hai keluarga Rasulullah

kecintaan kepadamu diwajibkan Allah

dalam Al-Quran yang diturunkan

Cukuplah bukti ketinggian sebutanmu

Tidak sempurna shalat tanpa shalawat bagimu

Inilah sebagian syair Imam Syafi’i, yang menyebabkannya dituduh Syi’ah. Ahli jarh hadis, Ibn Mu’in, ketika ditanya oleh Imam Ahmad mengapa ia menuduh Imam Syafi’i sebagai Syi’ah, menjawab: “Aku memperhatikan tulisannya tentang ahlul-baghiy (kaum pemberontak), dan aku melihat ia berhujjah dari awal sampai akhir dengan Ali bin Abi Thalib.” Rupanya, ini juga sebabnya mengapa di tempat lain – menurut Al-Khathib – Yahya bin Mu’in berkata, “Syafi’i tidak tsiqat!”

Celaan-celaan demikian tidak mengurangi kecintaan Imam Syafi’i kepada ahlu-bait. Suatu hari ia mengemukakan masalah agama.

Seseorang berkata, “Engkau bertentangan dengan Ali bin Abi Thalib.” Imam Syafi’i berkata, “Buktikan ucapanmu dari Ali bin Abi Thalib, supaya aku ratakan pipiku di atas tanah dan aku berkata aku telah salah.” Begitu cintanya Imam Syafi’i kepada Ali bin Abi Thalib, sehingga ia tidak mau berbicara di dalam suatu majelis yang di situ ada. keturunan Ali (Lihat Fihrist Ibn Al-Nadim, halaman 295).

Kita tidak ingin menguraikan lebih lanjut kecintaan para imam Ahlus-Sunnah kepada ahlul-bait. Tidak perlu juga kita sebut bagaimana Abu Hanifah (Imam Hanafi) membantu pemberontakan ahlul-bait yang dipimpin Imam Zaid bin Ali; sehinga para. ulama mengatakan, “Secara fiqh Abu Hanifah Sunni; secara politik, ia Syi’ah.”

Tentu saja, label (gelaran) Syi’ah lebih sering digunakan untuk mendiskreditkan orang ketimbang mendiskripsikannya.

Indikator yang dipergunakan seringkali sangat sederhana: kecintaan kepada keluarga. Rasulullah Saw.

Al-Hakim, penulis Al-Mustadrak, dituding oleh Al-Dzahabi sebagai Syi’ah, karena meriwayatkan keutamaan Ali dan hadis Ghadir Khum

Abdur-Razzaq bin Hamam, ahli hadis, dituduh Syi’ah karena mencintai Ali dan membenci pembunuhnya.

Ibn Jarir Al-Thabari penulis sejarah Islam abad ketiga, menurut Ibn Atsir (Al-Kamil 8:49), dilempari dengan batu dan dikuburkan malam-malam. Ia juga dituduh Syi’ah karena dalam tarikhnya ia meriwayatkan hadis Ali bin Abi Thalib sebagai washiy (pembawa wasiat) dan khalifah Nabi s.a.w.

Yang paling menarik, Ibn Abdul-Barr, yang sangat memusuhi ahlul-bait dituding oleh Ibn Katsir sebagai Syi’ah karena meriwayatkan hadis yang mengecam Mu’awiyah.

Buku ini, Teladan Suci Keluarga Nabi, terjemahan dari Is’af Al-Raghibin, ditulis oleh seorang ‘alim yang bermazhab Syafi’i, dan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah. Dalam buku ini ia meriwayatkan keutamaan keluarga Rasulullah Saw. dari hadis-hadis yang diriwayatkan dalam kitab-kitab Ahlus-Sunnah.

Boleh jadi ia, dan juga penulis pengantar ini, akan didiskreditkan sebagai Syi’ah: hanya karena meriwayatkan ahlul-bait. Namun, kita yakin, zaman ini adalah zaman ilmu pengetahuan, zaman keterbukaan. Hanya orang-orang yang sempit pikirannya yang akan menyederhanakan persoalan dalam prasangka dan fanatisme mazhab.

Kecintaan pada ahlul-bait bukan monopoli Syi’ah. Seluruh kaum Muslimin diperintahkan untuk itu – apa pun mazhabnya. Seperti diriwayatkan Muslim – dan dituliskannya juga dalam buku ini – keluarga Rasulullah s.a.w. adalah pusaka yang kedua (setelah Al-Quran) yang ditinggalkan Rasulullah s.a.w. untuk kaum Muslimin.

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak akan bergeser telapak kaki anak Adam pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang 4 hal: dari usianya, untuk apa ia habiskan, dari tubuhnya, untuk apa ia rusakkan; dari hartanya, dari mana ia peroleh dan ke mana ia infaq-kan; dan dari kecintaan kepada kami ahlul-bait.” (Kanzul-Ummal 7: 212); diriwayatkan oleh Al-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath).

Ibn Khalliqan dalam Wafiyat Al-A’yan bercerita tentang Al-Nasa-i, penulis kitab hadis Sunan Al-Nasa-i. Al-Nasa-i tiba di Damaskus. Ia didesak orang untuk meriwayatkan keutamaan Mu’awiyah. Kata Al-Nasa-i, “Aku tidak menemukan keutamaan Mu’awiyah kecuali sabda Rasul tentang dirinya – “Semoga Allah tidak mengenyangkan perutnya.” Banyak orang marah. Mereka mengeroyoknya, memukulinya sampai babak-belur Dalam keadaan parah, ia dibawa ke Al-Ramlah dan meninggal dunia di sana.

Ibnu Hajar di dalam Tandzib Al-Tandzib bercerita tentang Nashr bin Ali. Ia meriwayatkan hadis tentang keutamaan Hasan dan Husein: “Siapakah yang mencintai aku, mencintai keduanya, mencintai kedua orangtua mereka , ia bersamaku dalam derajat yang sama di hari kiamat.” Al-Mutawakkil mencambuknya 1.000 kali.

Ja’far bin Abdul-Wahid berulang kali mengingatkan Khalifah: “Hadza min Ahlis-Sunnah” (Dia ini dari Ahlus Sunnah). Barulah Khalifah menghentikan hukuman cambuknya.

Hari ini, umat Islam telah demikian maju dan terbuka, sehingga – saya (Jalaluddin Rakhmat) berharap – penulis pengantar, penerbit, dan pembaca buku ini tidak mengalami nasib, seperti Al-Nasa-i dan Nashr bin Ali.

SUNNI DAN SYIAH BERJAMAAH


Sholat Bareng Syiah…? Get Real!!

Fatwa-Fatwa Ulama Syi’ah Dan Sunni Mengenai Keikutsertaan Dalam Salat Berjamah Dengan Mazhab Islam Lainnya

(Sumber: Istifta sekaitan dengan Ibadah Haji)

Soal: Dengan menghadiri salat berjamaah bersama Ahlusunnah (Sunni) dan menunaikan salat harian bersama mereka, apakah cukup untuk melepaskan kewajiban salat ataukah tidak?

Berikut Jawabannya:

Ayatullah Uzhma Imam Khomeini, Syekh Ali Araki, Sayid Ali Khamenei, Fadhil Lankarani, Yusuf Shanei dan Syekh Makarim Syirazi: Hal itu (salat bersama Sunni) cukup (sah).

2. Ayatullah Gulpaygani: Mendirikan salat dengan kaum Sunni ketika itu diperlukan adalah tepat. Sebaliknya, adalah baik untuk ikut serta dalam salat berjamaah mereka namun salat harus dilakukan dengan tata cara Syi’ah sepenuhnya dengan penuh ketaatan.

3. Ayatullah Bahjat: Adalah tepat mengambil bagian dalam salat berjamaah mereka.

4. Ayatullah Tabrizi dan Ayatullah Khui: Jika orang mendirikan salat dengan membaca bagian esensial salatnya sendiri, bahkan dalam salat berjamaah yang dilakukan dengan taqiyah, itu sudah cukup.

5. Ayatullah Zanjani: Adalah penting untuk mengambil bagian dalam salat berjamaah Ahlusunnah namun untuk kehati-hatian salat harus dilakukan sekali lagi.

6. Ayatullah Sistani: Adalah mungkin untuk bermakmun kepada para imam mazhab Islam lainnya dalam menunaikan salat wajib sehari-hari namun orang yang turt dalam salat tersebut harus membaca Surah al-Fatihah dan al-Ikhlas secara berbisik. Ayatullah Sistani mengatakan setelah salat Jumat, salat zuhur harus dilakukan. Demikian juga pandangan Ayatullah Khui dan Tabrizi.

7. Ayatullah Shafi: Jika itu menuntut keikutsertaan dalam salat berjamaah dengan Ahlusunnah, itu tepat (dilakukan). Dan jika keikutsertaan menghasilkan terciptanya persaudaraan di hati kaum Syi’ah dan Sunni dan menghilangkan tuduhan terhadap Syi’ah, ia tepat dilakukan dan tidak perlu untuk melakukannya (salat) lagi.

Soal: Apakah ikut serta dalam salat jamaah dengan Ahlusunnah berlaku khusus di Masjidil-Haram dan Masjid Nabi ataukah cukup (sah) di masjid-masjid lain?

Jawab

  1. Imam Khomeini, Ayatullah Araki, Ayatulah Khamenei: Ia pun cukup (sah) (dilakukan) di tempat-tempat lain.
  2. Ayatullah Gulpaygani: Itu tidak khusus berlaku di Masjidil Haram namun mungkin juga di seluruh mesjid. Ia adalah mustahab dan lebih disukai.
  3. Ayatullah Fadhil: Tidak khusus untuk dua mesjid itu.
  4. Ayatullah Bahjat: Tidak ada perbedaan.
  5. Ayatullah Zanjani: Keduanya (mesjid) adalah sama.
  6. Ayatullah Makarim: Tidak ada perbedaan antara Masjidil-Haram dan Masjid Nabi serta masjid-masjid lainnya.
  7. Ayatullah Sistani: Tidak ada perbedaan antara Masjidil-Haram dan Masjid Nabi dengan masjid-masjid lainnya.
  8. Ayatullah Shafi: Di seluruh, mesjid perintah-perintahny a adalah sama sebagaimana jawaban yang telah diberikan untuk pertanyaan sebelumnya.
  9. Ayatullah Sanai: Ia cukup (sah) juga di mesjid-mesjid lain.

Fatwa Dua Ulama Ahlusunnah Mengenai Keikutsertaan Salat Jamaah yang Diimami oleh Imam Syi’ah

(Sumber: The viewpoints of the Contemporary Jurisprudence, Vol.1, by Prof. Yusuf Qardhawi)

  1. Profesor Wahbah Zuhaili: “Bermakmum kepada para imam dari mazhab Islam lain ketika mendirikan salat fardhu adalah benar dan tidak makruh karena para sahabat Nabi saw juga para tabiin secara konstan biasa mengikuti imam mazhab lain ketika melakukan salat fardhu. Ketika mereka mendapatkan perbedaan dalam aturan-aturan agama yang sekunder, itulah konsensus. Sebagaimana Ibnu Mas’ud mengikuti Khalifah Utsman sebagai imam dan melakukan salat sepenuhnya disebabkan untuk menghilangkan perbedaan yang mengarah pada pemberontakan.”

2) Dr. Yusuf Qardhawi:

3.1- Tidak apa-apa meninggalkan yang utama dalam menunaikan salat dengan tujuan menghormati pendapat-pendapat mazhab Islam lain. Jika karena keragaman orang-orang yang ikut serta dalam salat jamaah, Imam salat jamaah mengabaikan sesuatu, contohnya, mengucapkan bismillah dengan sangat cepat dan tidak membaca doa (qunut) ketika salat subuh tidak ada dosa apa pun baginya dan itu tidaklah penting. Kepada para pengikut yang mengikuti imam dari mazhab yang lain ketika melaksanakan salat fardhu mereka, saya katakan, “Jika Anda mengikuti imam mazhab Islam yang lain yang berbeda dengan Anda berkenaan dengan kedua hal di atas, maka laksanakanlah salat Anda karena itu tidaklah penting.”

3.2. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, ketika ia tiba di Baghdad, tanah air dan tempat kelahiran Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya, selama melaksanakan salat subuh ia tidak membaca doa qunut karena menghormati kepada yang lainnya (Mazhab Hanafi). Ini merupakan indikasi kesopanan dari tokoh-tokoh terpandang. Mereka bahkan menghormati orang yang sudah wafat dari (mazhab) yang lainnya dan metode ini merupakan dispensasi yang memberi kemudahan sehubungan dengan pendapat-pendapat (mazhab) lainnya.

3.3. Di sebutkan dalam tanya jawab dari Dar al-Fatwa al-Mishriah yang disusun oleh Ibn Taimiyah yang berkata: “Adalah tepat untuk mempertimbangkan koalisi tersebut, sehingga imam mesjid-mesjid adakalanya membaca bismillah (atas nama Allah) di dalam salat berjamaah karena memandang kelayakan tersebut dalam cara yang relevan dan karena menciptakan kasih sayang di antara hati-hati.”

3.4. Kesediaan para pengikut suatu mazhab untuk meninggalkan prioritas-prioritas itu (menurut mazhabnya masing-masing) adalah tepat seperti yang dilakukan oleh Nabi Islam saw ketika berupaya mencegah antipati di tengah-tengah umat yang merasa paling berhak atas perbaikan Ka’bah suci.

4. Fatwa dari Mufti Agung Mesir

Yang Terhormat Profesor Dr. Washel Nasr, Mufti Agung Mesir.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh

Yang Mulia diminta untuk menyatakan sudut pandangnya ihwal bermakmum kepada para pengikut mazhab Islam dari mazhab yang mengikuti mazhab Ahlulbait selama melaksanakan salat fardhu sehari-hari: Apakah tepat untuk mengikuti mereka ataukah tidak?

16 Syawal 1421

Jawab:

Dengan nama Allah Maha Pengasih Maha Penyayang

Sudah maklum bahwa setiap Muslim yang beriman kepada Allah Swt, bersyahadat atas monoteisme (tauhid), mengakui misi Nabi Muhammad saw, tidak menyangkal perintah-perintah agama dan orang yang dengan sepenuhnya sadar akan rukun-rukun Islam dan salat dengan tata cara yang benar, maka niscaya juga tepat baginya sebagai imam salat jamaah bagi yang lain dan juga mengikuti imamah orang lain ketika melakukan salat sehari-hari meskipun ada perbedaan-perbedaan (paham) keagamaan di antara imam dan makmumnya. Prinsip ini pun berlaku bagi Syi’ah Ahlulbait as.

Kita bersama mereka (Syi’ah Ahlulbait) berkenaan dengan Allah, Nabi saw, Ahlulbait Nabi saw dan sahabat-sahabatnya. Tidak ada satu perbedaan pun di antara kita dan mereka mengenai prinsip-prinsip dan dasar-dasar Syari’ah Islam dan kewajiban-kewajiban agama yang pasti.

Ketika Allah Swt memberikan rahmat-Nya kepada kami untuk bisa hadir di Republik Islam Iran tepatnya di kota-kota seperti Tehran dan Qum . Ketika kami menjadi imam salat berjamaah mereka bermakmum kepada kami, begitu juga ketika mereka menjadi imam kami bermakmum kepada mereka.

Karena itu, kami memohon kepada Allah Swt untuk melahirkan persatuan di antara umat Islam, menghapus setiap permusuhan, kesulitan, perbedaan di antara mereka dan mengangkat kesulitan-kesulian yang ada di antara mereka sekaitan dengan fikih dan kewajiban-kewajiban agama yang sekunder.

16 Syawal 1421 H/1 Desember 2001

Dr. Farid Nasr Washel

Mufti Mesir

Sumber Situs ISLAT (Islam Alternatif)

SITUS ISLAM SUNNAH


Assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh , Ahlan Wasahlan.
Berikut ini menu blog dan link untuk situs-situs sunnah , semoga bermanfaat :
1. Untaian Tausyiah
2. Mutiara Hikmah
3. Ebook Harun Yahya
4. Tragedi Palestina
5. Harun Yahya TV
6. Pustaka Gratis 78
7. Ilma95.net
8. Download AVG 8 Gratis
9. Situs Biologi Indonesia
10. Ceramah Agama Islam
11. Download Ceramah ( mp3 )
12. Situs Al-islamu
13. Streaming Radio Sunnah
14. Download Kajian Salafy UNPAD
15. Suara Muslim Blogspot
( Download Audio )

16. Materi Tarbiyah Al-Sofwah
17. Muslim.or.id
18. Portal Dakwah Muhammadiyah
19. Muhasabah
20. Al-Manhaj.or.id
21. Kumpulan Situs Sunnah ( As-sunnah.web.id )
22. As-Sunnah.or.id
23. Umat Islam Bersatulah
24. Era Muslim
25. Hidayatulloh.com
26. Ceramah on line
27. Konsultasi Ustadz
28. Ay-Syariah.com
29. Salafy.on.net
30. Swaramuslim
31. Tausyiah on line
32. Bicara Muslim
33. Blog Pakde Nono
34. Ummu Salma
35. Ummu Salma Blogsome
36. Abu Salma
37. Aba Salma
38. As-Salafy.org
39. Tafsir Ibnu Katsir
40. Salafy.or.id
41. Siapakah firqotun najiyah ?
(golongan orang-orang yang selamat)

Semoga bermanfaat bagi kita semua . . . . .

HTI Hizbut Tahrir Indonesia


Tentang Kami

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Hizbut Tahrir berdiri pada tahun 1953 di Al-Quds (Baitul Maqdis), Palestina. Gerakan yang menitik beratkan perjuangan membangkitkan umat di seluruh dunia untuk mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya kembali Khilafah Islamiyah ini dipelopori oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, seorang ulama alumni Al-Azhar Mesir, dan pernah menjadi hakim di Mahkamah Syariah di Palestina.

Hizbut Tahrir kini telah berkembang ke seluruh negara Arab di Timur Tengah, termasuk di Afrika seperti Mesir, Libya, Sudan dan Aljazair. Juga ke Turki, Inggris, Perancis, Jerman, Austria, Belanda, dan negara-negara Eropah lainnya hingga ke Amerika Serikat, Rusia, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan, Pakistan, Malaysia, Indonesia, dan Australia.

Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia pada tahun 1980-an dengan merintis dakwah di kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Pada era 1990-an ide-ide dakwah Hizbut Tahrir merambah ke masyarakat, melalui berbagai aktivitas dakwah di masjid, perkantoran, perusahaan, dan perumahan.

Maka sudah tiba saatnya bagi seluruh pemuda-pemudi Indonesia, bergabung bersama Hizbut Tahrir untuk berjuang bagi kesatuan dan persatuan kaum Muslimin di bawah bendera Lailahaillallah Muhammadurrasulullah, termasuk Anda.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Hizbut Tahrir adalah sebuah partai politik yang berideologi Islam. Politik merupakan kegiatannya, dan Islam adalah ideologinya. Hizbut Tahrir bergerak di tengah-tengah umat, dan bersama-sama mereka berjuang untuk menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, serta membimbing mereka untuk mendirikan kembali sistem Khilafah dan menegakkan hukum yang diturunkan Allah dalam realitas kehidupan. Hizbut Tahrir merupakan organisasi politik, bukan organisasi kerohanian (seperti tarekat), bukan lembaga ilmiah (seperti lembaga studi agama atau badan penelitian), bukan lembaga pendidikan (akademis), dan bukan pula lembaga sosial (yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan). Ide-ide Islam menjadi jiwa, inti, dan sekaligus rahasia kelangsungan kelompoknya.

Latar Belakang Berdirinya Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir didirikan dalam rangka memenuhi seruan Allah Swt :

“(Dan) hendaklah ada di antara kalian segolongan umat (jamaah) yang menyeru kepada kebaikan (mengajak memilih kebaikan, yaitu memeluk Islam), memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104)

Hizbut Tahrir bermaksud membangkitkan kembali umat Islam dari kemerosotan yang amat parah, membebaskan umat dari ide-ide, sistem perundang-undangan, dan hukum-hukum kufur, serta membebaskan mereka dari cengkeraman dominasi dan pengaruh negara-negara kafir. Hizbut Tahrir bermaksud juga membangun kembali Daulah Khilafah Islamiyah di muka bumi, sehingga hukum yang diturunkan Allah Swt dapat diberlakukan kembali.

Tujuan Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir bertujuan melanjutkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Tujuan ini berarti mengajak kaum muslimin kembali hidup secara Islami dalam Darul Islam dan masyarakat Islam. Di mana seluruh kegiatan kehidupannya diatur sesuai dengan hukum-hukum syara’. Pandangan hidup yang akan menjadi pedoman adalah halal dan haram, di bawah naungan Daulah Islamiyah, yaitu Daulah Khilafah, yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang diangkat dan dibai’at oleh kaum muslimin untuk didengar dan ditaati agar menjalankan pemerintahan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Di samping itu Hizbut Tahrir bertujuan membangkitkan kembali umat Islam dengan kebangkitan yang benar, melalui pola pikir yang cemerlang. Hizbut Tahrir berusaha untuk mengembalikan posisi umat ke masa kejayaan dan keemasannya seperti dulu, di mana umat akan mengambil alih kendali negara-negara dan bangsa-bangsa di dunia ini. Dan negara Khilafah akan kembali menjadi negara nomor satu di dunia—sebagaimana yang terjadi pada masa silam—yakni memimpin dunia sesuai dengan hukum-hukum Islam.Hizbut Tahrir bertujuan pula untuk menyampaikan hidayah (petunjuk syari’at) bagi umat manusia, memimpin umat Islam untuk menentang kekufuran beserta segala ide dan peraturan kufur, sehingga Islam dapat menyelimuti bumi.

Kegiatan Hizbut Tahrir

Kegiatan Hizbut Tahrir adalah mengemban dakwah Islam untuk mengubah kondisi masyarakat yang rusak menjadi masyarakat Islam. Hal ini dilakukan dengan mengubah ide-ide rusak yang ada menjadi ide-ide Islam, sehingga ide-ide ini menjadi opini umum di tengah masyarakat serta menjadi persepsi bagi mereka. Selanjutnya persepsi ini akan mendorong mereka untuk merealisasikan dan menerapkannya sesuai dengan tuntutan Islam.

Juga dengan mengubah perasaan yang dimiliki anggota masyarakat menjadi perasaan Islam—yakni ridla terhadap apa yang diridlai Allah, marah dan benci terhadap apa yang dimurkai dan dibenci oleh Allah—serta mengubah hubungan/interaksi yang ada dalam masyarakat menjadi hubungan/interaksi yang Islami, yang berjalan sesuai dengan hukum-hukum dan pemecahan-pemecahan Islam.

Hizbut Tahrir telah muncul dan berkembang, kemudian menyebarluaskan aktivfitas dakwahnya di negeri-negeri Arab, maupun sebagian besar negeri-negeri Islam lainnya.

Seluruh kegiatan yang dilakukan Hizbut Tahrir bersifat politik. Maksudnya adalah bahwa Hizbut Tahrir memperhatikan urusan-urusan masyarakat sesuai dengan hukum-hukum serta pemecahannya secara syar’i. Karena yang dimaksud politik adalah mengurus dan memelihara urusan-urusan masyarakat sesuai dengan hukum-hukum Islam dan pemecahan-pemecahannya.

Kegiatan-kegiatan yang bersifat politik ini tampak jelas dalam aktifitasnya dalam mendidik dan membina umat dengan tsaqafah Islam, meleburnya dengan Islam, membebaskannya dari aqidah-aqidah yang rusak, pemikiran-pemikiran yang salah, serta persepsi-persepsi yang keliru, sekaligus membebaskannya dari pengaruh ide-ide dan pandangan-pandangan kufur.

Kegiatan politik ini tampak juga dalam aspek pertarungan pemikiran (ash shiro’ul fikri) dan dalam perjuangan politiknya (al kifahus siyasi). Pertarungan pemikiran terlihat dalam penentangannya terhadap ide-ide dan aturan-aturan kufur. Hal itu tampak pula dalam penentangannya terhadap ide-ide yang salah, aqidah-aqidah yang rusak, atau persepsi-persepsi yang keliru, dengan cara menjelaskan kerusakannya, menampakkan kekeliruannya, dan menjelaskan ketentuan hukum Islam dalam masalah tersebut.

Adapun perjuangan politiknya, terlihat dari penentangannya terhadap kaum kafir imperialis untuk memerdekakan umat dari belenggu dominasinya, membebaskan umat dari cengkeraman pengaruhnya, serta mencabut akar-akarnya yang berupa pemikiran, kebudayaan, politik, ekonomi, maupun militer dari seluruh negeri-negeri Islam.

Perjuangan politik ini juga tampak jelas dalam kegiatannya menentang para penguasa, mengungkap pengkhianatan dan persekongkolan mereka terhadap umat, melancarkan kritik, kontrol, dan koreksi terhadap mereka serta berusaha menggantinya tatkala mereka mengabaikan hak-hak umat, tidak menjalankan kewajibannya terhadap umat, melalaikan salah satu urusan umat, atau menyalahi hukum-hukum Islam.

Seluruh kegiatan politik itu dilakukan tanpa menggunakan cara-cara kekerasan (fisik/senjata) (laa madiyah) sesuai dengan jejak dakwah yang dicontohkan Rasulullah saw.

Jadi kegiatan Hizbut Tahrir secara keseluruhan adalah kegiatan yang bersifat politik, baik sebelum maupun sesudah proses penerimaan pemerintahan (melalui umat).

Kegiatan Hizbut Tahrir bukan di bidang pendidikan, karena ia bukanlah madrasah (sekolah). Begitu pula seruannya tidak hanya bersifat nasihat-nasihat dan petunjuk-petunjuk. Kegiatan Hizbut Tahrir bersifat politik, (yaitu) dengan cara mengemukakan ide-ide (konsep-konsep) Islam beserta hukum-hukumnya untuk dilaksanakan, diemban, dan diwujudkan dalam kenyataan hidup dan pemerintahan.

Hizbut Tahrir mengemban dakwah Islam agar Islam dapat diterapkan dalam kehidupan dan agar Aqidah Islamiyah menjadi dasar negara, dasar konstitusi dan undang-undang. Karena Aqidah Islamiyah adalah aqidah aqliyah (aqidah yang menjadi dasar pemikiran) dan aqidah siyasiyah (aqidah yang menjadi dasar politik) yang melahirkan aturan untuk memecahkan problematika manusia secara keseluruhan, baik di bidang politik, ekonomi, budaya, sosial, dan lain-lain.

Metode Dakwah Hizbut Tahrir

Metode yang ditempuh Hizbut Tahrir dalam mengemban dakwah adalah hukum-hukum syara’, yang diambil dari thariqah (metode) dakwah Rasulullah saw, sebab thariqah itu wajib diikuti. Sebagaimana firman Allah Swt:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan Hari Kiamat, dan dia banyak menyebut Allah (dengan membaca dzikir dan mengingat Allah).” (QS. Al Ahzab : 21)

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran : 31)

“Apa saja yang dibawa Rasul untuk kalian, maka ambilah. Dan apa saja yang dilarangnya bagi kalian, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr : 7)

Dan banyak lagi ayat lain yang menunjukkan wajibnya mengikuti perjalanan dakwah Rasulullah saw, menjadikan beliau suri teladan, dan mengambil ketentuan hukum dari beliau.

Berhubung kaum muslimin saat ini hidup di Darul Kufur—karena diterapkan atas mereka hukum-hukum kufur yang tidak diturunkan Allah Swt— maka keadaan negeri mereka serupa dengan Makkah ketika Rasulullah saw diutus (menyampaikan risalah Islam). Untuk itu fase Makkah wajib dijadikan sebagai tempat berpijak dalam mengemban dakwah dan meneladani Rasulullah saw.

Dengan mendalami sirah Rasulullah saw di Makkah hingga beliau berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah, akan tampak jelas beliau menjalani dakwahnya dengan beberapa tahapan yang sangat jelas ciri-cirinya. Beliau melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang tampak dengan nyata tujuan-tujuannya. Dari sirah Rasulullah saw inilah Hizbut Tahrir mengambil metode dakwah dan tahapan-tahapannya, beserta kegiatan-kegiatan yang harus dilakukannya pada seluruh tahapan ini, karena Hizbut Tahrir mensuriteladani kegiatan-kegiatan yang dilakukan Rasululah saw dalam seluruh tahapan perjalanan dakwahnya.

Berdasarkan sirah Rasulullah saw tersebut, Hizbut Tahrir menetapkan metode perjalanan dakwahnya dalam 3 (tiga) tahapan berikut :

Pertama, Tahapan Pembinaan dan Pengkaderan (Marhalah At Tatsqif), yang dilaksanakan untuk membentuk kader-kader yang mempercayai pemikiran dan metode Hizbut Tahrir, dalam rangka pembentukan kerangka tubuh partai.

Kedua, Tahapan Berinteraksi dengan Umat (Marhalah Tafa’ul Ma’a Al Ummah), yang dilaksanakan agar umat turut memikul kewajiban dakwah Islam, hingga umat menjadikan Islam sebagai permasalahan utamanya, agar umat berjuang untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan.

Ketiga, Tahapan Penerimaan Kekuasaan (Marhalah Istilaam Al Hukm), yang dilaksanakan untuk menerapkan Islam secara menyeluruh dan mengemban risalah Islam ke seluruh dunia.

Landasan Pemikiran Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir telah melakukan pengkajian, penelitian dan studi terhadap kondisi umat, termasuk kemerosotan yang dideritanya. Kemudian membandingkannya dengan kondisi yang ada pada masa Rasulullah saw, masa Khulafa ar-Rasyidin, dan masa generasi Tabi’in. Selain itu juga merujuk kembali sirah Rasulullah saw, dan tata cara mengemban dakwah yang beliau lakukan sejak permulaan dakwahnya, hingga beliau berhasil mendirikan Daulah Islamiyah di Madinah. Dipelajari juga perjalanan hidup beliau di Madinah. Tentu saja, dengan tetap merujuk kepada Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, serta apa yang ditunjukkan oleh dua sumber tadi, yaitu Ijma Shahabat dan Qiyas. Selain juga tetap berpedoman pada ungkapan-ungkapan maupun pendapat-pendapat para Shahabat, Tabi’in, Imam-imam dari kalangan Mujtahidin.

Setelah melakukan kajian secara menyeluruh itu, maka Hizbut Tahrir telah memilih dan menetapkan ide-ide, pendapat-pendapat dan hukum-hukum yang berkaitan dengan fikrah dan thariqah. Semua ide, pendapat dan hukum yang dipilih dan ditetapkan Hizbut Tahrir hanya berasal dari Islam. Tidak ada satupun yang bukan dari Islam. Bahkan tidak dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak bersumber dari Islam.

Hizbut Tahrir telah memilih dan menetapkan ide-ide, pendapat-pendapat dan hukum-hukum tersebut sesuai dengan perkara-perkara yang diperlukan dalam perjuangannya—yaitu untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam serta mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia—dengan mendirikan Daulah Khilafah, dan mengangkat seorang Khalifah. Ide-ide, pendapat-pendapat dan hukum-hukum tersebut telah dihimpun dalam berbagai buku, booklet maupun selebaran., yang diterbitkan dan disebarluaskan kepada umat. Buku-buku itu, antara lain:

  1. Nizhamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam)
  2. Nizhamul Hukmi fil Islam (Sistem Pemerintahan dalam Islam)
  3. Nizhamul Iqtishadi fil Islam (Sistem Ekonomi dalam Islam)
  4. Nizhamul Ijtima’iy fil islam (Sistem Pergaulan dalam islam)
  5. At-Takattul al-Hizbiy (Pembentukan Partai Politik)
  6. Mafahim Hizbut Tahrir (Pokok-pokok Pikiran Hizbut Tahrir)
  7. Daulatul Islamiyah (Negara Islam)
  8. Al-Khilafah (Sistem Khilafah)
  9. Syakhshiyah Islamiyah – 3 jilid (Membentuk Kepribadian Islam)
  10. Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir (Pokok-pokok Pikiran Politik Hizbut Tahrir)
  11. Nadharat Siyasiyah li Hizbit Tahrir (beberapa Pandangan Politik Hizbut Tahrir)
  12. Kaifa Hudimatil Khilafah (Persekongkolan Meruntuhkan Khilafah)
  13. Siyasatu al-Iqtishadiyah al-Mutsla (Politik Ekonomi yang Agung)
  14. Al-Amwal fi Daulatil Khilafah (Sistem Keuangan Negara Khilafah)
  15. Nizhamul ‘Uqubat fil Islam (Sistem Sanksi Peradilan dalam Islam)
  16. Ahkamul Bayyinat (Hukum-hukum Pembuktian)
  17. Muqaddimatu ad-Dustur (Pengantar Undang-undang Dasar Negara Islam)

Dan banyak lagi buku-buku, booklet, maupun selebaran yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, baik yang menyangkut ide maupun politik.

Keanggotaan Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir menerima keanggotaan setiap orang Islam, baik laki-laki maupun wanita, tanpa memperhatikan lagi apakah mereka keturunan Arab atau bukan, berkulit putih ataupun hitam. Hizbut Tahrir adalah sebuah partai untuk seluruh kaum muslimin dan menyeru mereka untuk mengemban dakwah Islam serta mengambil dan menetapkan seluruh aturan-aturan Islam, tanpa memandang lagi kebangsaan, warna kulit, maupun madzhab mereka. Hizbut Tahrir melihat semuanya dari pandangan Islam.

Cara mengikat individu-individu ke dalam Hizbut Tahrir adalah dengan memeluk Aqidah Islamiyah, matang dalam Tsaqafah Hizbut Tahrir, serta mengambil dan menetapkan ide-ide dan pendapat-pendapat Hizbut Tahrir. Dia sendirilah yang mengharuskan dirinya menjadi anggota Hizbut Tahrir, setelah sebelumnya ia melibatkan dirinya dengan (pembinaan dan aktivitas dakwah) Hizbut Tahrir; ketika dakwah telah berinteraksi dengannya dan ketika dia telah mengambil dan menetapkan ide-ide serta persepsi-persepsi Hizbut Tahrir. Jadi ikatan yang dapat mengikat anggota Hizbut Tahrir adalah Aqidah Islamiyah dan Tsaqafah Hizbut Tahrir yang terlahir dari aqidah ini. Halaqah-halaqah (pembinaan) wanita dalam Hizbut Tahrir terpisah dengan halaqah laki-laki. Yang memimpin halaqah-halaqah wanita adalah para suami, mahramnya, atau para wanit.

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 123 pengikut lainnya.