Pantun-pantun Nasihat
29 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN

================================================
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
cepat cepatlah pergi makan
================================================
Bunyinya sangat berirama
Kalau ada ulangan umum
Marilah kita belajar bersama
================================================
Jangan sampai titian patah
Hati-hati di rantau orang
Jangan sampai berbuat salah
================================================
Pahit jangan lekas dimuntahkan
Mati semut karena manisan
Manis itu bahaya makanan.
================================================
Kain terjemur disampaian
Jangan diri dapat kecewa
Lihat contoh kiri dan kanan
================================================
Menghilang penat menahan jerat
Orang tua jangan disanggah
Agar selamat dunia akhirat
================================================
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding
================================================

================================================
Anak burung mati diranggah
Dari muda sampai ke tua
Ajaran baik jangan diubah
================================================
Mati satu tinggal sembilan
Tuntutlah ilmu dengan sungguh-sungguh
Supaya engkau tidak ketinggalan
================================================
Mati satu tinggal delapan
Ilmu boleh sedikit ketinggalan
Tapi jangan sampai putus harapan
================================================
Mati satu tinggal lah tujuh
Hidup harus penuh harapan
Jadikan itu jalan yang dituju
================================================
Ada budi ada balas
Sebab pulut santan binasa
Sebab mulut badan merana
================================================
Hati kelam disangka suci
Akal pendek banyak dipandang
Janganlah hati kita dikunci
================================================
Kala dicium harum baunya
Banyak cara sembuhkan hati
Baca Quran paham maknanya
================================================
Tiada umat sepandai Nabi
Kala nyawa tinggal diubun
Turutlah ilmu insan nan mati
================================================
Jangan terpotong batang durian;
Cari guru tempat belajar,
Supaya jangan sesal kemudian.
================================================
Siapkan bekal menjelang wafat
Turutlah Nabi siapkan bekal
Dengan sebar ilmu manfaat
================================================

KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA
20 Jul 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
- “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullahsaw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadhan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk shaum, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan ( tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini).” ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).
- “Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. ia berkata: maka ia menerangkan tentang shaum Ramadhan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Di bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah (dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan.” (Riwayat Ahmad dan Nasai )
- “Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum’at sampai Shalat Jum’at berikutnya, Shaum Ramadhan sampai Shaum Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi.”(H.R.Muslim)
- “Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Shaum dan Qur’an itu memintakan syafa?at seseorang hamba di hari Kiamat nanti. Shaum berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula AL-Qur’an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat.” ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).
- “Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut ” Rayyaan”. Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang shaum? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary Muslim).
- Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa shaum Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary Muslim).
KESIMPULAN :
Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadhan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :
- Bulan Ramadhan adalah:
- Bulan yang penuh Barakah.
- Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
- Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
- Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
- Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma’shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).
- Keutamaan beramal di bulan Ramadhan antara lain :
- Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadhan yang lewat sampai dengan Ramadhan berikutnya.
- Menjadikan bulan Ramadhan memintakan syfaa’t.
Khusus bagi yang shaum disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6
CONTOH PANTUN MEMINANG
08 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
CONTOH PANTUN MELAYU MEMINANG
Pucuk pauh ditepi permatang
buah berangan rasanya lazat
daripada jauh kami datang
datang dengan seribu hajat
buah beragan rasanya lazat
mari dibawa dari Rokan
kalau ada maksud dan hajat
nyawa dan badan kami serahkan
mari dibawa dari Rokan
berserta pula dengan halwa
jika nyawa badan serahkan
tidak terpisahkah jiwa dan raga
berserta pula dengan halwa
dengan ulam pucuk pegaga
jika tak berpisah jiwa dan raga
bagaimana kita nak masuk surga
————————————————————————————————————————-
Pantun untuk Meminang
Adat meminang dilakukan oleh pihak teruna setelah mendapatkan jawaban dari pihak si dara. Setelah itu, kedua belah pihak akan bermusyawarah untuk mengadakan prosesi peminangan. Hal-hal yang dibicarakan berkisar tentang hari peminangan (pertunangan), jumlah hantaran belanja, hadiah-hadiah, serta hari perkawinan.Pantun meminang dilantunkan dalam prosesi peminangan. Pantun ini berisi kehendak hati sang teruna untuk meminang si dara, yang disampaikan dalam prosesi peminangan oleh juru cakap mereka. Sebagaimana pantun untuk merisik, pantun yang dilantunkan dalam upacara meminang juga merupakan pantun berbalas. Isi dalam pantun untuk meminang ini hanya mencakup pantun yang dilantunkan saat kedatangan hingga lantunan pantun yang menyiratkan hasrat kehendak hati teruna untuk meminang si dara.
| 001. | Hilir air sungai landai Dalam pulak paras dada Bukan pulak menunjukkan cerdik pandai Kerana hendak menyambut adat lembaga |
|||
| 002. | Cantik memanjat pohon ara Nampaknya cantik berseri laman Besar hajat kami tidak terkira Hendak memetik bunga di taman |
|||
| 003. | Budak-budak memakai senglit Pergi ke kedai membeli timba Kalau tidak jalan berbelit Tadi-tadi saya dah tiba |
|||
Pantun itu kemudian dibalas oleh pihak si dara dengan menyambut kedatangan rombongan keluarga sang teruna seraya mempersilahkan mereka untuk masuk ke rumah.
| 004. | Katang-katang berisi manik Manik berisi hampas padi Encik-encik datang silalah naik Inilah air pembasuh kaki |
Pihak sang teruna akan membalas pantun tersebut dengan mengungkapkan kebaikan hati pihak si dara yang menyambut baik kedatangan mereka. Pihak si dara kemudian akan mempersilahkan duduk seraya berpantun:
| 005. | Dari pauh ke permatang Tetak tengar papan kemudi Dari jauh kami datang Mendengar tuan yang baik hati |
| 006. | Tatang puan tatang cerana Tatang biduk Seri Rama Datang tuan datanglah nyawa Jemputlah duduk bersama-sama |
Setelah itu, pantun berbalas akan dilantunkan hingga berakhir saat maksud dan kehendak hati sang teruna sudah tersampaikan.
Pihak lelaki: Pihak perempuan:
| 007. | Cerita pinang ceriti Cerana di atas papan Sirih kami sirih bererti Sukat makna baharulah makan |
| 008. | Saya tidak tahu berebana Selisih telunjuk bertelekan Saya tak tahu akan makna Sirih diunjuk saya makan |
Pihak lelaki: Pihak perempuan:
| 009. | Rumah besar alangnya besar Rumah Datuk Perdana Menteri Kalau tidak hajat yang besar Kami tidak sampai datang kemari |
|
| 010. | Orang mengambil siput dilubuk Airnya dalam banyak lintah Datang membaiki atap yang tembuk Hendak mengganti lantai yang patah |
| 011. | Rimba dibakar menanam padi Makan berulam buahnya petai Jikalau sudah tulus dan sudi Berbantalkan bandul bertikarkan lantai |
Pihak lelaki: Pihak perempuan:
| 012. | Dari paya turun ke lembah Petik pinang dipilih-pilih Saya sudah mohonkan sembah Adat meminang bertepak sirih |
| 013. | Teliti buah teliti Terletak mari di atas papan Tepak sirih sudah menanti Minta sudikan datuk makan |
Pihak lelaki: Pihak perempuan:
| Orang meracik burung tekukur Racik benang kait-mengait Sudikan datuk sirih sekapur Pinangnya mabuk tembakaunya pahit |
| 015. | Pohon lemba di tepi bukit Pokok pepaya di tepi jalan Baik makan barang sedikit Supaya jangan kecewa badan |
| 017. | Dalam air sungainya landai Habis hanyut sarang tempua Bukan saya menunjukkan pandai Saya khabarkan orang tua-tua |
Pihak lelaki: Pihak perempuan:
| 016. | Orang mengaji alif Orang membilang daripada satu Orang memanjat daripada pangkal |
Pihak lelaki: Pihak perempuan:
| 018. | Selilit pulau perca Selembang Tanah Melayu Sealam tanah Minangkabau Sebengkah tanah terbalik Sehelai akar yang putus Sejenang kuda berlari |
| 019. | Dah patah pokok kedondong Ditimpa pula pokok delima Titah datuk saya junjung Hukum yang baik saya terima |
| 021. | Bersusun sirih gagang berkembar Beratur-atur berbunga tanjung Melintang duduk gunung Rembau Sebagai napuh di hujung tanjung |
Pihak lelaki: Pihak perempuan:
| 020. | Orang menyungkur di Tanjung Jati Kuala Pilah darat Melaka Patah tumbuh hilang berganti Pusaka berpindah kepada kita |
Pihak lelaki:
| 022. | Asam kandis mari dihiris Manis sekali rasa isinya Dilihat manis dipandang manis Manis lagi hati budinya |
PANTUN BUJANG
08 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
Khas buat mereka2 yang masih MemBuJang …
Yang berpunya…buat tatapan ajelah… ![]()
**** **** **** *** **** **** ****
> Kucing berlari dua tiga,
> seekor sembunyi dalam kain,
> Umur baru dua puluh tiga,
> mak dah bising tanya bila nak kawin. ![]()
>
> Ikan haruan masak lemak,
> tersekat tulang di anak tekak,
> Tak cukup dengan mak,
> makcik makcik, nenek-nenek pun tanya jugak. ![]()
>
> Kain batik kain basahan,
> terkoyak tersangkut di mata joran,
> Dulu masa sekolah, mak pesan,
> jangan bercinta nanti ganggu pelajaran. ![]()
>
> Panau banyak macam peta,
> belakang berbelang kena rotan.
> Jadi budak baik mendengar kata,
> 23 tahun tak keluar ngan jantan. ![]()
>
> Petang petang mandi kolah,
> Rambut mengerbang banyak kutu,
> Bila dah habis sekolah,
> mak kelam kabut cari kan menantu. ![]()
>
> Anak kerbau mati tersepit,
> Anak ikan mati di jala,
> Pantang tengok lelaki baik sikit,
> asyik cakap ‘terima je la’. ![]()
>
> Beras ditumbuk di buat bedak,
> lesung terjatuh jari terluka,
> Bukannya tak ada orang yang hendak,
> masalah nyer hati dah tak terbuka. ![]()
>
> Kaki tempang jalannya senget,
> Buku lali terasa keras,
> Masih teringatkan cinta monyet,
> masa umur baru empat belas. ![]()
>
> Jolok kedondong pakai galah,
> jolokkan sekali buah kuini,
> Hmm ..apa nak jadi pun jadi lah.
> Malas nak pening lalat pikir pasal ni. ![]()
>
> Tengah hari tertidur lena,
> jam di dinding berdenting dua,
> Kalau ada jodoh nanti, tak ke mana.
> Cari tak cari ..ke temu jua.
GURINDAM 12
03 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
INILAH GURINDAM DUABELAS NAMANYA
Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam serta shalawatnya Nabi yang
akhirul jaman serta keluarganya dan sahabatnya sekalian adanya.
Amma ba’du daripada itu maka tatkala sampailah Hijratun Nabi 1263 Sanah
kepada dua puluh tiga hari bulan Rajab hari Selasa mana (…..) telah
ta’ali kepada kita yaitu Raja Ali Haji mengarang satu gurindam cara Melayu
yaitu yang boleh juga jadi diambil faedah sedikit-sedikit daripada
perkataannya itu pada orang yang ada menaruh akal maka adalah banyaknya
gurindam itu hanya duabelas pasal di dalamnya.
Syahdan
Adalah beda antara gurindam dengan syair itu aku nyatakan pula bermula
arti syair Melayu itu perkataan yang bersajak yang serupa dua berpasang
pada akhirnya dan tiada berkehendak pada sempurna perkataan pada satu-satu
pasangnya bersalahan dengan gurindam.
Adapun arti gurindam itu yaitu perkataan yang bersajak juga pada akhir
pasangannya tetapi sempurna perkataannya dengan satu pasangannya sahaja
jadilah seperti sajak yang pertama itu syarat dan sajak yang kedua itu
jadi seperti jawab.
Bermula inilah rupanya syair.
Dengarkan tuan suatu rencana
Mengarang di dalam gundah gulana
Barangkali gurindam kurang kena
Tuan betulkan dengan sempurna
Inilah arti gurindam yang di bawah syatar ini
Persamaan yang indah-indah
Yaitu ilmu yang memberi faedah
Aku hendak bertutur
Akan gurindam yang beratur
1
INI GURINDAAM PASAL YANG PERTAMA
Barang siapa tiada memegang agama
Segala-gala tiada boleh dibilang nama
Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegaknya tiada ia menyalah
Barang siapa mengenal diri
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri
Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang terpedaya
Barang siapa mengenal akhirat
Tahulah ia dunia mudharat
2
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUA
Barang siapa mengenal yang tersebut
Tahulah ia makna takut
Barang siapa meninggalkan sembahyang
Seperti rumah tiada bertiang
Barang siapa meninggalkan puasa
Tidaklah mendapat dua termasa
Barang siapa meninggalkan zakat
Tiadalah hartanya beroleh berkat
Barang siapa meninggalkan haji
Tiadalah ia menyempurnakan janji
3
INI GURINDAM PASAL YANG KETIGA
Apabila terpelihara mata
Sedikitlah cita-cita
Apabila terpelihara kuping
Khabar yang jahat tiadalah damping
Apabila terpelihara lidah
Niscaya dapat daripadanya faedah
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan
Daripada segala berat dan ringan
Apabila perut terlalu penuh
Keluarlah fi’il yang tidak senonoh
Anggota tengah hendaklah ingat
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki
Daripada berjalan yang membawa rugi
4
INI GURINDAM PASAL YANG KEEMPAT
Hati itu kerajaan di dalam tubuh
Jikalau zalim segala anggota tubuh pun rubuh
Apabila dengki sudah bertanah
Datanglah daripadanya beberapa anak panah
Mengumpat dam memuji hendaklah pikir
Di situlah banyak orang yang tergelincir
Pekerjaan marah jangan dibela
Nanti hilang akal di kepala
Jika sedikitpun berbuat bohong
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung
Tanda orang yang amat celaka
Aib dirinya tiada ia sangka
Bakhil jangan diberi singgah
Itulah perompak yang amat gagah
Barang siapa yang sudah besar
Janganlah kelakuannya membuat kasar
Barang siapa perkataan kotor
Mulutnya itu umpama ketor
Di manakah salah diri
Jika tidak orang lain yang berperi
Pekerjaan takbur jangan direpih
Sebelum mati didapat juga sepih
5
INI GURINDAM PASAL YANG KELIMA
Jika hendak mengenal orang berbangsa
Lihat kepada budi dan bahasa
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia
Sangat memeliharakan yang sia-sia
Jika hendak mengenal orang mulia
Lihatlah kepada kelakuan dia
Jika hendak mengenal orang yang berilmu
Bertanya dan belajar tiadalah jemu
Jika hendak mengenal orang yang berakal
Di dalam dunia mengambil bekal
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai
6
INI GURINDAM PASAL YANG KEENAM
Cahari olehmu akan sahabat
Yang boleh dijadikan obat
Cahari olehmu akan guru
Yang boleh tahukan tiap seteru
Cahari olehmu akan isteri
Yang boleh menyerahkan diri
Cahari olehmu akan kawan
Pilih segala orang yang setiawan
Cahari olehmu akan abdi
Yang ada baik sedikit budi
7
INI GURINDAM PASAL YANG KETUJUH
Apabila banyak berkata-kata
Di situlah jalan masuk dusta
Apabila banyak berlebih-lebihan suka
Itu tanda hampirkan duka
Apabila kita kurang siasat
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat
Apabila anak tidak dilatih
Jika besar bapanya letih
Apabila banyak mencat (mencacat?) orang
Itulah tanda dirinya kurang
Apabila orang yang banyak tidur
Sia-sia sajalah umur
Apabila mendengar akan kabar
Menerimanya itu hendaklah sabar
Apabila mendengar akan aduan
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan
Apabila perkataan yang lemah lembut
Lekaslah segala orang mengikut
Apabila perkataan yang amat kasar
Lekaslah orang sekalian gusar
Apabila pekerjaan yang amat benar
Tidak boleh orang berbuat onar
8
INI GURINDAM PASAL YANG KEDELAPAN
Barang siapa khianat akan dirinya
Apalagi kepada lainnya
Kepada dirinya ia aniaya
Orang itu jangan engkau percaya
Lidah suka membenarkan dirinya
Daripada yang lain dapat kesalahannya
Daripada memuji diri hendaklah sabar
Biar daripada orang datangnya kabar
Orang yang suka menampakkan jasa
Setengah daripadanya syirik mengaku kuasa
Kejahatan diri disembunyikan
Kebajikan diri diamkan
Ke’aiban orang jangan dibuka
Ke’aiban diri hendaklah sangka
9
INI GURINDAM PASAL YANG KESEMBILAN
Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan
Bukannya manusia yaitulah syaitan
Kejahatan seorang perempuan tua
Itulah iblis punya penggawa
Kepada segala hamba-hamba raja
Di situlah syaitan tempatnya manja
Kebanyakan orang yang muda-muda
Di situlah syaitan tempat bergoda
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan
Di situlah syaitan punya jamuan
Adapun orang tua(h) yang hemat
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru
Dengan syaitan jadi berseteru
10
INI GURINDAM PASAL YANG KESEPULUH
Dengan bapa jangan derhaka
Supaya Allah tidak murka
Dengan ibu hendaklah hormat
Supaya badan dapat selamat
Dengan anak janganlah lalai
Supaya boleh naik ke tengah balai
Dengan kawan hendaklah adil
Supaya tangannya jadi kapil
11
INI GURINDAM PASAL YANG KESEBELAS
Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa
Hendak jadi kepala
Buang perangai yang cela
Hendaklah memegang amanat
Buanglah khianat
Hendak marah
Dahulukan hujjah
Hendak dimalui
Jangan memalui
Hendak ramai
Murahkan perangai
12
INI GURINDAM PASAL YANG KEDUABELAS
Raja mufakat dengan menteri
Seperti kebun berpagarkan duri
Betul hati kepada raja
Tanda jadi sebarang kerja
Hukum adil atas rakyat
Tanda raja beroleh inayat
Kasihkan orang yang berilmu
Tanda rahmat atas dirimu
Hormat akan orang yang pandai
Tanda mengenal kasa dan cindai
Ingatkan dirinya mati
Itulah asal berbuat bakti
Akhirat itu terlalu nyata
Kepada hati yang tidak buta
Tamatlah gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita
Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu
dua ratus enam puluh tiga kepada tiga likur
hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima
Negeri Riau Pulau Penyengat
PANTUN MERISIK
03 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
Koleksi Pantun untuk Majlis Perkahwinan dan Persandingan Melayu..
Diharap dapat membantu mejadikan majlis pertunangan,pernikahan dan persandingan anda dijalankan dengan indah dan sempurna.
Jadikan majlis pertunangan,pernikahan dan persandingan anda seindah yang anda idamkan..
Bahagian 1
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Niat Datang
Sudah lama langsatnya condong,
Barulah kini batangnya rebah.
Sudah lama niat dikandung,
baru sekarang diizinkan Allah.
Dari Pauh singgah Permatang,
Singgah merapat papan kemudi.
Dari jauh saya datang,
kerana tuan yang baik hati.
Bukan tekat sebarang tekat,
Tekat menjadi hiasan kain.
BUkan hajat sebarang hajat,
Hajat merasmikan nikah kahwin.
Orang membelat di tepi pantai,
banyak dapat ikan tembakul.
Yang kami hajat sudah tercapai,
Yang kami doakan sudah terkabul.
Bahagian 1
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Sambutan Baik
Kalau gugur buah setandan,
Sampai ke tanah baru tergolek.
Kami bersyukur kepada Tuhan,
Datang kami disambut baik.
Bertanya Apa Hajat
Perahu kolek ke hilir tanjung,
Sarat bermuat tali temali.
Salam tersusun sirih junjung,
Apa hajat sampai kemari?
Malam-malam pasang pelita,
Pelita dipasang atas peti.
kalau sudah bagai dikata,
Sila terangkan hajat dihati.
Tidak pernah rotan merentang,
Kayu cendana dijilat api.
Tidak pernah tuan bertandang,
Tentu ada maksud di hati.
Tumbuk lada diatas para,
Ada kasut simpan dalam peti.
Tepuk dada tanya selera,
Apa maksud di dalam hati.
Menyatakan Hajat Besar
Berapa tinggi pucuk pisang,
Tinggi lagi asap api.
Berapa tinggi Gunung Ledang,
Tinggi lagi harapan hati.
Kabung enau tebang satu,
Tebang sekali dengan sigainya.
Tinggi gunung tinggi lagi harapanku,
Harapan dalam tutur katanya.
Besar api Teluk Gadung,
Anak buaya menggonggong bangkai.
Niat hati nak peluk gunung,
Apakan daya tangan tak sampai.
Daun raya diatas bukit,
Tempat raja menanam pala.
Harapi kami bukan sedikit,
Sebanyak rambut atas kepala.
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Meminang
cantik memanjat pohon ara,
Nampaknya cantik berseri laman.
Besar hajat kami tidak terkira,
Hendak memetik bunga ditaman.
Bak kata orang..
Tuan menyimpan sekuntum bunga,
Bak intan di dalam peti.
Kami menyimpan seekor kumbang,
Sudah terpikat ke bunga tuan,
Hendak menyunting intan tuan,
Hendak bernaung di rumah ini,
Hendak menyambung tali darah,
Hendak mengikat tali keluarga.
Minta diterima hajat kami…
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Niat Datang
Sudah lama langsatnya condong,
Barulah kini batangnya rebah.
Sudah lama niat dikandung,
baru sekarang diizinkan Allah.
Dari Pauh singgah Permatang,
Singgah merapat papan kemudi.
Dari jauh saya datang,
kerana tuan yang baik hati.
Bukan tekat sebarang tekat,
Tekat menjadi hiasan kain.
BUkan hajat sebarang hajat,
Hajat merasmikan nikah kahwin.
Orang membelat di tepi pantai,
banyak dapat ikan tembakul.
Yang kami hajat sudah tercapai,
Yang kami doakan sudah terkabul.
Barulah kini batangnya rebah.
rebah pula menyembah bumi
baru sekarang diizinkan Allah.
agar dapat menyatu dua hati
Singgah merapat papan kemudi.
papan juga dibawa belayar
kerana tuan yang baik hati.
cinta yang lama sudahpun mekar
Tekat menjadi hiasan kain.
tekan dari zaman dahulu
Hajat merasmikan nikah kahwin.
supaya hidup boleh bersatu
banyak dapat ikan tembakul.
ikan tembakul dikerat-kerat
Yang kami doakan sudah terkabul
biar sampai dunia akhirat
Bahagian 1
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Sambutan Baik
Kalau gugur buah setandan,
Sampai ke tanah baru tergolek.
Kami bersyukur kepada Tuhan,
Datang kami disambut baik.
Sampai ke tanah baru tergolek
lalu dikutip di masuk bakul
datang tuan disambut baik
pasti hasrat akan termakbul
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Sambutan Baik
Kalau gugur buah setandan,
Sampai ke tanah baru tergolek.
Kami bersyukur kepada Tuhan,
Datang kami disambut baik.
Sampai ke tanah baru tergolek
lalu dikutip di masuk bakul
datang tuan disambut baik
pasti hasrat akan termakbul
pagi2 pergi ke bendang
pergi bersama cik zaitun
izinkan saya datang bertandang
memeriahkan lagi tradisi berpantun
Bertanya Apa Hajat
Perahu kolek ke hilir tanjung,
Sarat bermuat tali temali.
Salam tersusun sirih junjung,
Apa hajat sampai kemari?
Malam-malam pasang pelita,
Pelita dipasang atas peti.
kalau sudah bagai dikata,
Sila terangkan hajat dihati.
Tidak pernah rotan merentang,
Kayu cendana dijilat api.
Tidak pernah tuan bertandang,
Tentu ada maksud di hati.
Tumbuk lada diatas para,
Ada kasut simpan dalam peti.
Tepuk dada tanya selera,
Apa maksud di dalam hati.
Sarat bermuat tali temali.
hendak digunakan bila berlabuh
tentulah ada hajat di hati
moga luka lama bolehkan sembuh
Pelita dipasang atas peti.
sinar terang menyuluh malam
akan diterangkan hajat dihati
begitu maksud amat mendalam
Kayu cendana dijilat api.
api marak terasa bahang
Tentu ada maksud di hati.
datang bukan sebarang datang
Ada kasut simpan dalam peti.
nampak tersusun dari luaran
ada maksud di dalam hati
sedikit lagi saya terangkan
Tinggi lagi asap api.
tinggi dari pokok kelapa
Tinggi lagi harapan hati.
agar tuan sedia terima
Tebang sekali dengan sigainya.
jatuh rebah meneymbah bumi
Harapan dalam tutur katanya.
bahasa berbunga penuh bererti
Anak buaya menggonggong bangkai.
anak anjing menggonggong tulang
Apakan daya tangan tak sampai.
jauh di awan seribu bintang
Tempat raja menanam pala.
tempat puteri mandi bersiram
Sebanyak rambut atas kepala
rasa cinta penuh mendalam
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
Baru kini bertemu muka.
boleh kita berkenalan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
Baru sekarang disampaikan.
sudah lama hati menanah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
Kumbang merindu bunga di taman.
aku juga menahan rindu
Singgah hinggap diatas karang.
tiup di angin llalu melayang
Dari dahulu sampai sekarang.
hati aku tak penah tenang
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
Bintang merindu cenderawasih
entah entah rindu si mambang
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
Baru kini bertemu muka.
boleh kita berkenalan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
Baru sekarang disampaikan.
sudah lama hati menanah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
Kumbang merindu bunga di taman.
aku juga menahan rindu
Singgah hinggap diatas karang.
tiup di angin llalu melayang
Dari dahulu sampai sekarang.
hati aku tak penah tenang
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
Bintang merindu cenderawasih
entah entah rindu si mambang
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
salam perkenalan pembuka kata
eratkan siratulrahim tanda persahabatan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
hati yg nanah jangan disimpan
kelak nanti luka lama berdarah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat. (dapat bf hehehehe)
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
wahai izanan gadis idaman
siapakah teruna yg dikau rindu
Singgah hinggap diatas karang
tiup di angin lalu melayang
kenapa hatimu tak penah tenang
sedangkan dirimu ada segala2nya
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
hati merindu teringat kekasih
membuatkan izanan smp gila bayang
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
Baru kini bertemu muka.
boleh kita berkenalan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
Baru sekarang disampaikan.
sudah lama hati menanah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
Kumbang merindu bunga di taman.
aku juga menahan rindu
Singgah hinggap diatas karang.
tiup di angin llalu melayang
Dari dahulu sampai sekarang.
hati aku tak penah tenang
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
Bintang merindu cenderawasih
entah entah rindu si mambang
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
salam perkenalan pembuka kata
eratkan siratulrahim tanda persahabatan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
hati yg nanah jangan disimpan
kelak nanti luka lama berdarah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat. (dapat bf hehehehe)
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
wahai izanan gadis idaman
siapakah teruna yg dikau rindu
Singgah hinggap diatas karang
tiup di angin lalu melayang
kenapa hatimu tak penah tenang
sedangkan dirimu ada segala2nya
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
hati merindu teringat kekasih
membuatkan izanan smp gila bayang
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
batang pegaga rang patahkan
boleh kita jadikan ulam
pusaka kata dipersembahkan
jgn diubah cerita silam
lebah bersarang di pohon nangka
jangan dijolok nahas bahaya
sembah dengan adat pusaka
itu sudah menjadi budaya
belokkan perahu mencari selat
selat letak jauh ke muara
eloklah balik kepada adat
kerana ia pusaka bangsa
rasanya manis di makan sedap
dipotong-potong letak di pinggan
adat pusaka berpedoman kitab
dalam kita menjalani kehidupan
tidak berbunga masa berbuah
sudah habis diserang ulat
adat berpunca kitab Allah
jgn kita melanggar adat
cubalah cari dalam tengkolek
tengkolek ada di atas para
luahkan bahasa yang molek-molek
sudahlah manis di pandang mata
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
itulah asal pembuka kata
pilihan hati biarlah satu
rumahnya datuk permaisuri
jadi tumpuan para pedagang
tidakkan hamba sampai ke mari
hajat untuk datang meminang
tinggi lagi asapnya api
bau asap masuk ke hidung
tinggi lagi harapnya hati
sudah lama menahan mendung
harum semerbak di dalam taman
dipetik sekuntum selit di rambut
hendak menyunting bunga di taman
harap tangan tuan menyambut
pungguk merindu dengan berangan
bulan juga ternanti-nanti
tapak tangan satu perjuangan
biarlah kekal bersatu hati
dicantum dengan paku belanda
kuat cantuman tiada terlerai
adat berdiri dengan tanda
hantaran tinggi kaca berderai
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
bila sampai masa dijanji
kekasih ditunggu tak kunjung tiba
banyak perahu di tepi pantai
tunggu nelayan membawa jala
asal hajat dapat disampai
biarlah kekal aman bahagia
gryphoon81
Nov 20 2006, 03:55 PM
Menerima Pinangan
Ambilkan saya buah delima,
Masak sebiji dibalik daun.
Budi tuan saya terima,
Jadi kenangan bertahun-tahun.
Yang datang berulang alik,
Yang pergi terbayang-bayang.
Yang bulat datang menggolek,
Yang pipih datang melayang.
Kalau berakit guna galah,
Cepat tuan tiba ke pantai.
Kalau sudah kehendak Allah,
Niat terkabul hajat pun sampai.
Tak cukup tapak tangan,
Nyiru kami tadahkan.
alt=biggrin.gif emoid=”:D” border=0>
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
itulah asal pembuka kata
pilihan hati biarlah satu
rumahnya datuk permaisuri
jadi tumpuan para pedagang
tidakkan hamba sampai ke mari
hajat untuk datang meminang
tinggi lagi asapnya api
bau asap masuk ke hidung
tinggi lagi harapnya hati
sudah lama menahan mendung
harum semerbak di dalam taman
dipetik sekuntum selit di rambut
hendak menyunting bunga di taman
harap tangan tuan menyambut
pungguk merindu dengan berangan
bulan juga ternanti-nanti
tapak tangan satu perjuangan
biarlah kekal bersatu hati
dicantum dengan paku belanda
kuat cantuman tiada terlerai
adat berdiri dengan tanda
hantaran tinggi kaca berderai
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
bila sampai masa dijanji
kekasih ditunggu tak kunjung tiba
banyak perahu di tepi pantai
tunggu nelayan membawa jala
asal hajat dapat disampai
biarlah kekal aman bahagia
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
kita berpantun pembuka kata
bagi membalas pantunmu itu
tidakkan hamba sampai ke mari
untuk meminang si puteri
alangkah sedihnya rasa dihati
bila cincin merisik tidak diberi
pergi kenduri di sg tengi
lalu singgah dikedai pak aguh
disebabkan hantaran terlalu tinggi
pinangan merisik terpaksa ditangguh
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
adinda disini menangis sendiri
Koleksi Pantun untuk Majlis Perkahwinan dan Persandingan Melayu..
Diharap dapat membantu mejadikan majlis pertunangan,pernikahan dan persandingan anda dijalankan dengan indah dan sempurna.
Jadikan majlis pertunangan,pernikahan dan persandingan anda seindah yang anda idamkan..
Bahagian 1
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Niat Datang
Sudah lama langsatnya condong,
Barulah kini batangnya rebah.
Sudah lama niat dikandung,
baru sekarang diizinkan Allah.
Dari Pauh singgah Permatang,
Singgah merapat papan kemudi.
Dari jauh saya datang,
kerana tuan yang baik hati.
Bukan tekat sebarang tekat,
Tekat menjadi hiasan kain.
BUkan hajat sebarang hajat,
Hajat merasmikan nikah kahwin.
Orang membelat di tepi pantai,
banyak dapat ikan tembakul.
Yang kami hajat sudah tercapai,
Yang kami doakan sudah terkabul.
Bahagian 1
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Sambutan Baik
Kalau gugur buah setandan,
Sampai ke tanah baru tergolek.
Kami bersyukur kepada Tuhan,
Datang kami disambut baik.
Bertanya Apa Hajat
Perahu kolek ke hilir tanjung,
Sarat bermuat tali temali.
Salam tersusun sirih junjung,
Apa hajat sampai kemari?
Malam-malam pasang pelita,
Pelita dipasang atas peti.
kalau sudah bagai dikata,
Sila terangkan hajat dihati.
Tidak pernah rotan merentang,
Kayu cendana dijilat api.
Tidak pernah tuan bertandang,
Tentu ada maksud di hati.
Tumbuk lada diatas para,
Ada kasut simpan dalam peti.
Tepuk dada tanya selera,
Apa maksud di dalam hati.
Menyatakan Hajat Besar
Berapa tinggi pucuk pisang,
Tinggi lagi asap api.
Berapa tinggi Gunung Ledang,
Tinggi lagi harapan hati.
Kabung enau tebang satu,
Tebang sekali dengan sigainya.
Tinggi gunung tinggi lagi harapanku,
Harapan dalam tutur katanya.
Besar api Teluk Gadung,
Anak buaya menggonggong bangkai.
Niat hati nak peluk gunung,
Apakan daya tangan tak sampai.
Daun raya diatas bukit,
Tempat raja menanam pala.
Harapi kami bukan sedikit,
Sebanyak rambut atas kepala.
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Meminang
cantik memanjat pohon ara,
Nampaknya cantik berseri laman.
Besar hajat kami tidak terkira,
Hendak memetik bunga ditaman.
Bak kata orang..
Tuan menyimpan sekuntum bunga,
Bak intan di dalam peti.
Kami menyimpan seekor kumbang,
Sudah terpikat ke bunga tuan,
Hendak menyunting intan tuan,
Hendak bernaung di rumah ini,
Hendak menyambung tali darah,
Hendak mengikat tali keluarga.
Minta diterima hajat kami…
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Niat Datang
Sudah lama langsatnya condong,
Barulah kini batangnya rebah.
Sudah lama niat dikandung,
baru sekarang diizinkan Allah.
Dari Pauh singgah Permatang,
Singgah merapat papan kemudi.
Dari jauh saya datang,
kerana tuan yang baik hati.
Bukan tekat sebarang tekat,
Tekat menjadi hiasan kain.
BUkan hajat sebarang hajat,
Hajat merasmikan nikah kahwin.
Orang membelat di tepi pantai,
banyak dapat ikan tembakul.
Yang kami hajat sudah tercapai,
Yang kami doakan sudah terkabul.
Barulah kini batangnya rebah.
rebah pula menyembah bumi
baru sekarang diizinkan Allah.
agar dapat menyatu dua hati
Singgah merapat papan kemudi.
papan juga dibawa belayar
kerana tuan yang baik hati.
cinta yang lama sudahpun mekar
Tekat menjadi hiasan kain.
tekan dari zaman dahulu
Hajat merasmikan nikah kahwin.
supaya hidup boleh bersatu
banyak dapat ikan tembakul.
ikan tembakul dikerat-kerat
Yang kami doakan sudah terkabul
biar sampai dunia akhirat
Bahagian 1
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Sambutan Baik
Kalau gugur buah setandan,
Sampai ke tanah baru tergolek.
Kami bersyukur kepada Tuhan,
Datang kami disambut baik.
Sampai ke tanah baru tergolek
lalu dikutip di masuk bakul
datang tuan disambut baik
pasti hasrat akan termakbul
Pantun dan Gurindam utk Merisik dan Meminang
Sambutan Baik
Kalau gugur buah setandan,
Sampai ke tanah baru tergolek.
Kami bersyukur kepada Tuhan,
Datang kami disambut baik.
Sampai ke tanah baru tergolek
lalu dikutip di masuk bakul
datang tuan disambut baik
pasti hasrat akan termakbul
pagi2 pergi ke bendang
pergi bersama cik zaitun
izinkan saya datang bertandang
memeriahkan lagi tradisi berpantun
Bertanya Apa Hajat
Perahu kolek ke hilir tanjung,
Sarat bermuat tali temali.
Salam tersusun sirih junjung,
Apa hajat sampai kemari?
Malam-malam pasang pelita,
Pelita dipasang atas peti.
kalau sudah bagai dikata,
Sila terangkan hajat dihati.
Tidak pernah rotan merentang,
Kayu cendana dijilat api.
Tidak pernah tuan bertandang,
Tentu ada maksud di hati.
Tumbuk lada diatas para,
Ada kasut simpan dalam peti.
Tepuk dada tanya selera,
Apa maksud di dalam hati.
Sarat bermuat tali temali.
hendak digunakan bila berlabuh
tentulah ada hajat di hati
moga luka lama bolehkan sembuh
Pelita dipasang atas peti.
sinar terang menyuluh malam
akan diterangkan hajat dihati
begitu maksud amat mendalam
Kayu cendana dijilat api.
api marak terasa bahang
Tentu ada maksud di hati.
datang bukan sebarang datang
Ada kasut simpan dalam peti.
nampak tersusun dari luaran
ada maksud di dalam hati
sedikit lagi saya terangkan
Tinggi lagi asap api.
tinggi dari pokok kelapa
Tinggi lagi harapan hati.
agar tuan sedia terima
Tebang sekali dengan sigainya.
jatuh rebah meneymbah bumi
Harapan dalam tutur katanya.
bahasa berbunga penuh bererti
Anak buaya menggonggong bangkai.
anak anjing menggonggong tulang
Apakan daya tangan tak sampai.
jauh di awan seribu bintang
Tempat raja menanam pala.
tempat puteri mandi bersiram
Sebanyak rambut atas kepala
rasa cinta penuh mendalam
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
Baru kini bertemu muka.
boleh kita berkenalan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
Baru sekarang disampaikan.
sudah lama hati menanah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
Kumbang merindu bunga di taman.
aku juga menahan rindu
Singgah hinggap diatas karang.
tiup di angin llalu melayang
Dari dahulu sampai sekarang.
hati aku tak penah tenang
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
Bintang merindu cenderawasih
entah entah rindu si mambang
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
Baru kini bertemu muka.
boleh kita berkenalan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
Baru sekarang disampaikan.
sudah lama hati menanah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
Kumbang merindu bunga di taman.
aku juga menahan rindu
Singgah hinggap diatas karang.
tiup di angin llalu melayang
Dari dahulu sampai sekarang.
hati aku tak penah tenang
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
Bintang merindu cenderawasih
entah entah rindu si mambang
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
salam perkenalan pembuka kata
eratkan siratulrahim tanda persahabatan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
hati yg nanah jangan disimpan
kelak nanti luka lama berdarah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat. (dapat bf hehehehe)
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
wahai izanan gadis idaman
siapakah teruna yg dikau rindu
Singgah hinggap diatas karang
tiup di angin lalu melayang
kenapa hatimu tak penah tenang
sedangkan dirimu ada segala2nya
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
hati merindu teringat kekasih
membuatkan izanan smp gila bayang
Pantun Merisik
Sudah lama kami ke tasik,
Tali perahu terap belaka.
Sudah lama kami merisik,
Baru kini bertemu muka.
Sudah lama langsatnya condong,
Dahannya rebah ke ampaian.
Sudah lama niat dikandung,
Baru sekarang disampaikan.
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Raja Hindu raja di Sailan,
Singgah berenang di persiraman.
Bagai pungguk rindukan bulan,
Kumbang merindu bunga di taman.
Cenderawasih burung yang sakti,
Singgah hinggap diatas karang.
Kasih berputik didalam hati,
Dari dahulu sampai sekarang.
Singgah berenang di persiraman,
Mayang terdedah didalam tasik.
Kumbang merindu bunga di taman,
Bintang merindu cenderawasih.
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
Baru kini bertemu muka.
boleh kita berkenalan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
Baru sekarang disampaikan.
sudah lama hati menanah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
Sekian lama kami mencari,
Baru sekarang kami mendapat.
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
Kumbang merindu bunga di taman.
aku juga menahan rindu
Singgah hinggap diatas karang.
tiup di angin llalu melayang
Dari dahulu sampai sekarang.
hati aku tak penah tenang
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
Bintang merindu cenderawasih
entah entah rindu si mambang
Tali perahu terap belaka.
tali kuah mengayuh sampan
salam perkenalan pembuka kata
eratkan siratulrahim tanda persahabatan
Dahannya rebah ke ampaian.
baju disidai jatuh ke tanah
hati yg nanah jangan disimpan
kelak nanti luka lama berdarah
Tinggi-tinggi si matahari,
Anak kerbau mati tertambat.
sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat. (dapat bf hehehehe)
Singgah berenang di persiraman.
banyak ketam di atas batu
wahai izanan gadis idaman
siapakah teruna yg dikau rindu
Singgah hinggap diatas karang
tiup di angin lalu melayang
kenapa hatimu tak penah tenang
sedangkan dirimu ada segala2nya
Mayang terdedah didalam tasik.
lama juga sampaikan kembang
hati merindu teringat kekasih
membuatkan izanan smp gila bayang
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
batang pegaga rang patahkan
boleh kita jadikan ulam
pusaka kata dipersembahkan
jgn diubah cerita silam
lebah bersarang di pohon nangka
jangan dijolok nahas bahaya
sembah dengan adat pusaka
itu sudah menjadi budaya
belokkan perahu mencari selat
selat letak jauh ke muara
eloklah balik kepada adat
kerana ia pusaka bangsa
rasanya manis di makan sedap
dipotong-potong letak di pinggan
adat pusaka berpedoman kitab
dalam kita menjalani kehidupan
tidak berbunga masa berbuah
sudah habis diserang ulat
adat berpunca kitab Allah
jgn kita melanggar adat
cubalah cari dalam tengkolek
tengkolek ada di atas para
luahkan bahasa yang molek-molek
sudahlah manis di pandang mata
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
itulah asal pembuka kata
pilihan hati biarlah satu
rumahnya datuk permaisuri
jadi tumpuan para pedagang
tidakkan hamba sampai ke mari
hajat untuk datang meminang
tinggi lagi asapnya api
bau asap masuk ke hidung
tinggi lagi harapnya hati
sudah lama menahan mendung
harum semerbak di dalam taman
dipetik sekuntum selit di rambut
hendak menyunting bunga di taman
harap tangan tuan menyambut
pungguk merindu dengan berangan
bulan juga ternanti-nanti
tapak tangan satu perjuangan
biarlah kekal bersatu hati
dicantum dengan paku belanda
kuat cantuman tiada terlerai
adat berdiri dengan tanda
hantaran tinggi kaca berderai
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
bila sampai masa dijanji
kekasih ditunggu tak kunjung tiba
banyak perahu di tepi pantai
tunggu nelayan membawa jala
asal hajat dapat disampai
biarlah kekal aman bahagia
Menerima Pinangan
Ambilkan saya buah delima,
Masak sebiji dibalik daun.
Budi tuan saya terima,
Jadi kenangan bertahun-tahun.
Yang datang berulang alik,
Yang pergi terbayang-bayang.
Yang bulat datang menggolek,
Yang pipih datang melayang.
Kalau berakit guna galah,
Cepat tuan tiba ke pantai.
Kalau sudah kehendak Allah,
Niat terkabul hajat pun sampai.
Tak cukup tapak tangan,
Nyiru kami tadahkan.
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
itulah asal pembuka kata
pilihan hati biarlah satu
rumahnya datuk permaisuri
jadi tumpuan para pedagang
tidakkan hamba sampai ke mari
hajat untuk datang meminang
tinggi lagi asapnya api
bau asap masuk ke hidung
tinggi lagi harapnya hati
sudah lama menahan mendung
harum semerbak di dalam taman
dipetik sekuntum selit di rambut
hendak menyunting bunga di taman
harap tangan tuan menyambut
pungguk merindu dengan berangan
bulan juga ternanti-nanti
tapak tangan satu perjuangan
biarlah kekal bersatu hati
dicantum dengan paku belanda
kuat cantuman tiada terlerai
adat berdiri dengan tanda
hantaran tinggi kaca berderai
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
bila sampai masa dijanji
kekasih ditunggu tak kunjung tiba
banyak perahu di tepi pantai
tunggu nelayan membawa jala
asal hajat dapat disampai
biarlah kekal aman bahagia
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
kita berpantun pembuka kata
bagi membalas pantunmu itu
tidakkan hamba sampai ke mari
untuk meminang si puteri
alangkah sedihnya rasa dihati
bila cincin merisik tidak diberi
pergi kenduri di sg tengi
lalu singgah dikedai pak aguh
disebabkan hantaran terlalu tinggi
pinangan merisik terpaksa ditangguh
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
adinda disini menangis sendiri
bila kekasih pulang tanpa berita
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
benih padi ditabur semai
tiba tengkujuh hilang sampan
dari jauh kami mengintai
sekuntum bunga mekar ditaman
andai kuah tumpah kenasi
ikan pula mencecah budu
andai kiranya tuan sudi
boleh kita menimang cucu
kalau pantun nak tolak pinangan pulak camner
tapi cara baik aaaa
tepak di bawa berisi kapur
hajat meminang si anak dara
sidara belum pandai di dapur
dengan si emak masih bermanja
Menerima Pinangan
Ambilkan saya buah delima,
Masak sebiji dibalik daun.
Budi tuan saya terima,
Jadi kenangan bertahun-tahun.
Yang datang berulang alik,
Yang pergi terbayang-bayang.
Yang bulat datang menggolek,
Yang pipih datang melayang.
Kalau berakit guna galah,
Cepat tuan tiba ke pantai.
Kalau sudah kehendak Allah,
Niat terkabul hajat pun sampai.
Tak cukup tapak tangan,
Nyiru kami tadahkan.
Masak sebiji dibalik daun.
mata tak nampak sudah terlindung
Jadi kenangan bertahun-tahun.
budi luhurmu tetap disanjung
Yang pergi terbayang-bayang.
yang tinggal tidak peduli
Yang pipih datang melayang.
yang gemuk tegak berdiri
Cepat tuan tiba ke pantai.
datang dengan bot laju
Niat terkabul hajat pun sampai
sudah ada hala tuju
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai</span>
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
itulah asal pembuka kata
pilihan hati biarlah satu
rumahnya datuk permaisuri
jadi tumpuan para pedagang
tidakkan hamba sampai ke mari
hajat untuk datang meminang
tinggi lagi asapnya api
bau asap masuk ke hidung
tinggi lagi harapnya hati
sudah lama menahan mendung
harum semerbak di dalam taman
dipetik sekuntum selit di rambut
hendak menyunting bunga di taman
harap tangan tuan menyambut
pungguk merindu dengan berangan
bulan juga ternanti-nanti
tapak tangan satu perjuangan
biarlah kekal bersatu hati
dicantum dengan paku belanda
kuat cantuman tiada terlerai
adat berdiri dengan tanda
hantaran tinggi kaca berderai
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
bila sampai masa dijanji
kekasih ditunggu tak kunjung tiba
banyak perahu di tepi pantai
tunggu nelayan membawa jala
asal hajat dapat disampai
biarlah kekal aman bahagia
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
kita berpantun pembuka kata
bagi membalas pantunmu itu
tidakkan hamba sampai ke mari
untuk meminang si puteri
alangkah sedihnya rasa dihati
bila cincin merisik tidak diberi
pergi kenduri di sg tengi
lalu singgah dikedai pak aguh
disebabkan hantaran terlalu tinggi
pinangan merisik terpaksa ditangguh
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
adinda disini menangis sendiri
bila kekasih pulang tanpa berita
enggang juga jadi keliru
pipit tidak memberi jawapan
bagi membalas pantunmu itu
saban hari tiada keputusan
untuk meminang si puteri
puteri ini tiada berteman
bila cincin merisik tidak diberi
sudah lupa tidak keruan
lalu singgah dikedai pak aguh
minum minum dan makan-makan
pinangan merisik terpaksa ditangguh
mak juga yang punya jalan
tuan puteri nampak jelita
manis sungguh kebaya biru
bila kekasih pulang tanpa berita
bagai terbang di langit biru
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut</span>
<span style=’color:red’>dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima</span>
meniti tebing aur mengikut
ombak juga menuju pantai
harap tuan sudi bersambut
agar hajat secara dicapai
bunga disanggul seri wajahnya
wajah pula umpama ratu
penuh adab kami terima
dua jiwa dapat bersatu
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
>dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima</span>
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
untuk dipakai majlis keramaian
baju pula dijahit labuci
untuk memetik bunga di taman
agar tercapai hajat di hati
benih padi ditabur semai
tiba tengkujuh hilang sampan
dari jauh kami mengintai
sekuntum bunga mekar ditaman
andai kuah tumpah kenasi
ikan pula mencecah budu
andai kiranya tuan sudi
boleh kita menimang cucu
ikan pula mencecah budu
sedap sungguh tidak terhingga
boleh kita menimang cucu
cepat lah cepat kahwin saja
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
untuk dipakai majlis keramaian
baju pula dijahit labuci
untuk memetik bunga di taman
agar tercapai hajat di hati
pagi2 makan tapai
makan bersama dgn puteri mega
walaupun hajat dihati telah tercapai
hati emak tidak ikhlas juga
kaitkan baju dengan jarum
untuk dipakai di hari raya
sang gadis mengukir senyum
tanda hati menyatu jiwa
Menerima Pinangan
Ambilkan saya buah delima,
Masak sebiji dibalik daun.
Budi tuan saya terima,
Jadi kenangan bertahun-tahun.
Yang datang berulang alik,
Yang pergi terbayang-bayang.
Yang bulat datang menggolek,
Yang pipih datang melayang.
Kalau berakit guna galah,
Cepat tuan tiba ke pantai.
Kalau sudah kehendak Allah,
Niat terkabul hajat pun sampai.
Tak cukup tapak tangan,
Nyiru kami tadahkan.
masak sebijik di balik daun
tiada dipetik, menjadi berulat
jadi kenangan bertahun-tahun
tidaklah aku menjadi ralat
yang pergi terbayang-bayang
tidak ada di depan mata
yang pipih datang melayang
yang ada biarkan pula
cepat tuan tiba ke pantai
arus deras menolong saya
niat terkabul hajat pun sampai
gembira rasa tidak terkira
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
untuk dipakai majlis keramaian
baju pula dijahit labuci
untuk memetik bunga di taman
agar tercapai hajat di hati
pagi2 makan tapai
makan bersama dgn puteri mega
walaupun hajat dihati telah tercapai
hati emak tidak ikhlas juga
makan bersama denan puteri mega
siapa puteri mega?
hati emak tidak ikhlas juga
nampaknya kau kenalah berjaga-jaga
kaitkan baju dengan jarum
untuk dipakai di hari raya
sang gadis mengukir senyum
tanda hati menyatu jiwa
untuk di pakai di hari raya
sudah sebulan buat persiapan
tanda hati menyatu jiwa
tak sabar tunggu bulan depan
kaitkan baju dengan jarum
untuk dipakai di hari raya
sang gadis mengukir senyum
tanda hati menyatu jiwa
untuk di pakai di hari raya
sudah sebulan buat persiapan
tanda hati menyatu jiwa
tak sabar tunggu bulan depan
hehehehe
bila hati sudah bersatu
bersulam kasih jiwa dan raga
detik bersama ku hitung waktu
untuk sehidup semati jua
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
benih padi ditabur semai
tiba tengkujuh hilang sampan
dari jauh kami mengintai
sekuntum bunga mekar ditaman
andai kuah tumpah kenasi
ikan pula mencecah budu
andai kiranya tuan sudi
boleh kita menimang cucu alt=happy.gif emoid=”^_^” border=0>
tepak di bawa berisi kapur
hajat meminang si anak dara
sidara belum pandai di dapur
dengan si emak masih bermanja
Ambilkan saya buah delima,
Masak sebiji dibalik daun.
Budi tuan saya terima,
Jadi kenangan bertahun-tahun.
Yang datang berulang alik,
Yang pergi terbayang-bayang.
Yang bulat datang menggolek,
Yang pipih datang melayang.
Kalau berakit guna galah,
Cepat tuan tiba ke pantai.
Kalau sudah kehendak Allah,
Niat terkabul hajat pun sampai.
Tak cukup tapak tangan,
Nyiru kami tadahkan.
alt=biggrin.gif emoid=”:D” border=0>
Masak sebiji dibalik daun.
mata tak nampak sudah terlindung
Jadi kenangan bertahun-tahun.
budi luhurmu tetap disanjung
Yang pergi terbayang-bayang.
yang tinggal tidak peduli
Yang pipih datang melayang.
yang gemuk tegak berdiri
Cepat tuan tiba ke pantai.
datang dengan bot laju
Niat terkabul hajat pun sampai
sudah ada hala tuju
Pantun Adat-Merisik/Meminang
Besarlah air di Sungai Petai
Batang Pegaga rang patahkan
Bukannya hamba cerdik dan pandai
Pusaka kata di persembahkan
Bukan lebah sebarang lebah
Lebah bersarang di pohon nangka
Bukan sembah sebarang sembah
Sembah dengan adat pusaka
Bila sampai ke laut gading
Belokkan perahu mencari selat
Jika bertikai dalam berunding
Eloklah balik kepada adat
Berbuah lebat pohon mempelam
Rasanya manis di makan sedap
Bersebarlah adat seluruh alam
Adat pusaka berpedoman kitab
Kalau jagung kulitnya putih
Tidak berbunga masa berbuah
Di laut Temenggung di darat Pepatih
Adat berpunca kitab Allah
Kalau tak ada dalam pukat
Cubalah cari dalam tengkolek
Kalau tak ada dalam adat
Cubalah cari dalam syarak
Burung enggang silang-bersilang
Nampak pipit sama rata
Sudilah sirih sekapur seorang
Itulah asal pembuka kata
Rumah besar alang pun besar
Rumahnya datuk permaisuri
Alang2 kerja besar
Tidakkan hamba sampai ke mari
Rasa tinggi Gunung Ledang
Tinggi lagi asapnya api
Berapa tinggi mata memandang
Tinggi lagi harapnya hati
Bunga Ros bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting bunga di taman
Bulan mengambang di celah awan
Pungguk merindu dengan berangan
Sewajar memilih jodoh pertemuan
Tapak tangan satu perjuangan
Timah pateri dengan besi
Di cantum dengan paku Belanda
Hukum berdiri dengan saksi
Adat berdiri dengan tanda
Bunga Cina tanaman Cina
Mari di pakai tuan puteri
Kerja kita akan sempurna
Bila sampai masa di janji
Si Pitang Kuala Tuhur
Banyak perahu di tepi pantai
Minta maaf kata terlanjur
Asal hajat dapat di sampai</span>
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
itulah asal pembuka kata
pilihan hati biarlah satu
rumahnya datuk permaisuri
jadi tumpuan para pedagang
tidakkan hamba sampai ke mari
hajat untuk datang meminang
tinggi lagi asapnya api
bau asap masuk ke hidung
tinggi lagi harapnya hati
sudah lama menahan mendung
harum semerbak di dalam taman
dipetik sekuntum selit di rambut
hendak menyunting bunga di taman
harap tangan tuan menyambut
pungguk merindu dengan berangan
bulan juga ternanti-nanti
tapak tangan satu perjuangan
biarlah kekal bersatu hati
dicantum dengan paku belanda
kuat cantuman tiada terlerai
adat berdiri dengan tanda
hantaran tinggi kaca berderai
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
bila sampai masa dijanji
kekasih ditunggu tak kunjung tiba
banyak perahu di tepi pantai
tunggu nelayan membawa jala
asal hajat dapat disampai
biarlah kekal aman bahagia
nampak pipit sama rata
enggang juga jadi keliru
kita berpantun pembuka kata
bagi membalas pantunmu itu
tidakkan hamba sampai ke mari
untuk meminang si puteri
alangkah sedihnya rasa dihati
bila cincin merisik tidak diberi
pergi kenduri di sg tengi
lalu singgah dikedai pak aguh
disebabkan hantaran terlalu tinggi
pinangan merisik terpaksa ditangguh
mari di pakai tuan puteri
tuan puteri nampak jelita
adinda disini menangis sendiri
bila kekasih pulang tanpa berita
enggang juga jadi keliru
pipit tidak memberi jawapan
bagi membalas pantunmu itu
saban hari tiada keputusan
untuk meminang si puteri
puteri ini tiada berteman
bila cincin merisik tidak diberi
sudah lupa tidak keruan
lalu singgah dikedai pak aguh
minum minum dan makan-makan
pinangan merisik terpaksa ditangguh
mak juga yang punya jalan
tuan puteri nampak jelita
manis sungguh kebaya biru
bila kekasih pulang tanpa berita
bagai terbang di langit biru
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
meniti tebing aur mengikut
ombak juga menuju pantai
harap tuan sudi bersambut
agar hajat secara dicapai
bunga disanggul seri wajahnya
wajah pula umpama ratu
penuh adab kami terima
dua jiwa dapat bersatu
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
untuk dipakai majlis keramaian
baju pula dijahit labuci
untuk memetik bunga di taman
agar tercapai hajat di hati
benih padi ditabur semai
tiba tengkujuh hilang sampan
dari jauh kami mengintai
sekuntum bunga mekar ditaman
andai kuah tumpah kenasi
ikan pula mencecah budu
andai kiranya tuan sudi
boleh kita menimang cucu
ikan pula mencecah budu
sedap sungguh tidak terhingga
boleh kita menimang cucu
cepat lah cepat kahwin saja
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
untuk dipakai majlis keramaian
baju pula dijahit labuci
untuk memetik bunga di taman
agar tercapai hajat di hati
pagi2 makan tapai
makan bersama dgn puteri mega
walaupun hajat dihati telah tercapai
hati emak tidak ikhlas juga
kaitkan baju dengan jarum
untuk dipakai di hari raya
sang gadis mengukir senyum
tanda hati menyatu jiwa
Menerima Pinangan
Ambilkan saya buah delima,
Masak sebiji dibalik daun.
Budi tuan saya terima,
Jadi kenangan bertahun-tahun.
Yang datang berulang alik,
Yang pergi terbayang-bayang.
Yang bulat datang menggolek,
Yang pipih datang melayang.
Kalau berakit guna galah,
Cepat tuan tiba ke pantai.
Kalau sudah kehendak Allah,
Niat terkabul hajat pun sampai.
Tak cukup tapak tangan,
Nyiru kami tadahkan.
masak sebijik di balik daun
tiada dipetik, menjadi berulat
jadi kenangan bertahun-tahun
tidaklah aku menjadi ralat
yang pergi terbayang-bayang
tidak ada di depan mata
yang pipih datang melayang
yang ada biarkan pula
cepat tuan tiba ke pantai
arus deras menolong saya
niat terkabul hajat pun sampai
gembira rasa tidak terkira
susur lukah dalam jurangnya
meniti tebing aur mengikut
kami datang apa hajatnya..
harap tuan sudi bersambut
dara sunti memetik bunga
bunga disanggul seri wajahnya..
hajat tuan tinggi santunnya
penuh adab kami terima
kebaya moden kebaya nyonya
untuk dipakai majlis keramaian
kami datang besar hajatnya
untuk memetik bunga di taman
untuk dipakai majlis keramaian
baju pula dijahit labuci
untuk memetik bunga di taman
agar tercapai hajat di hati
pagi2 makan tapai
makan bersama dgn puteri mega
walaupun hajat dihati telah tercapai
hati emak tidak ikhlas juga
makan bersama denan puteri mega
siapa puteri mega?
hati emak tidak ikhlas juga
nampaknya kau kenalah berjaga-jaga
kaitkan baju dengan jarum
untuk dipakai di hari raya
sang gadis mengukir senyum
tanda hati menyatu jiwa
untuk di pakai di hari raya
sudah sebulan buat persiapan
tanda hati menyatu jiwa
tak sabar tunggu bulan depan
kaitkan baju dengan jarum
untuk dipakai di hari raya
sang gadis mengukir senyum
tanda hati menyatu jiwa
untuk di pakai di hari raya
sudah sebulan buat persiapan
tanda hati menyatu jiwa
tak sabar tunggu bulan depan
hehehehe
bila hati sudah bersatu
bersulam kasih jiwa dan raga
detik bersama ku hitung waktu
untuk sehidup semati jua
PANTUN 8 KERAT
03 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
Korek perigi di parit seberang
Tepi parit tumbuh mengkudu
Berselang dengan pohon puding
Hidup subur kanan dan kiri
Tuan pergi dagang seorang
Tiada saudara tempat mengadu
Tiada saudara tempat berunding
Pandai-pandai membawa diri
Sudah penat berjalan kaki
Seluruh badan terasa uzur
Tak tahan lagi diuji
Tempatnya jauh dihujung lembah
Pantang saya anak lelaki
Kalau melangkah kembali undur
Tidak gentar sebarang diuji
Kental, azam, yakin dan tabah
Dini hari melawat pusara
Bawa merbah bersama emas
Nenas terletak tepi belana
Belanga China bersalut arang
Benihku cari disemai mesra
Semaian bercambah menjelma tunas
Kemudian subur indah berbunga
Malangnya bunga di getu orang
Sarang merbah di celah dahan
Tempat punai bermain di situ
Berkejar-kejaran anak rusa
Tampak dari tanah seberang
Bersyukur aku kepada Tuhan
Kalau nasib memang begitu
Akan merana sepanjang masa
Harap pada kasihan orang
Tajak-tajak perdu serai
Habis tertajak lalang-lalang
Lebar kawasan cuma sedepa
Tempat bertanam pokok kacang
Sejak mula hamba sampai
Tidak putus dirundung malang
Fitnah datang bertimpa-timpa
Namun iman tak pernah goncang
Bagus rupanya bunga melur
Putih rupanya bunga pinang
Berukir bertangkai perak
Permainan raja perempuan
Cawan, cerek sudah teratur
Pinggan, mangkuk sudah terhidang
Penganan mulia sudah terletak
Samalah duduk kita makan
Buat bangsal di tengah hutan
Tebas hutan jadikan taman
Tengah halaman tanam kandis
Di selang dengan asam paya
Biar sabar dengan perlahan
Itu tanda orang beriman
Tidak takut digoda iblis
Akhirnya kamu akan berjaya
Orang belayar dalam perahu
Haluan menuju ke Batu Bara
Sarat bermuat kain kapas
Kapas dibawa dari barat
Kasih tuan hambalah tahu
Bagai orang menggenggam bara
Rasa hangat hendak dilepas
Begitu benar kias ibarat
Siapa berlangir di tepian
Biarlah sama-sama pulang
Ikut jalan ke lembah
Melalui tanah yang rata
Kekanda berlayar ke lautan
Tak gentar mara yang datang
Adinda tinggal di rumah
Tidur bertilam air mata
Naik gunung Rimba Kelibut
Ke rimba berkayu jati
Kayu sedang banyak berbuah
Bercampur dengan kayu kamat
Gagap gentar hamba menyebut
Penghulu banyak yang sakti
Tuanku banyak yang bertuah
Alim ulama banyak yang keramat
PANTUN SELOKA
03 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
Huruf A, B, dan C
Jambu atas batu
Kenapa tidak kasi
Sombong macam hantu
Undang-undang papan
Surat dalam buluh
Tunang ada lapan
Gundik tujuh puluh
Jalan-jalan sepanjang jalan
Singgah-menyinggah di pagar orang
Pura-pura mencari ayam
Ekor mata di anak orang
Orang perempuan hendak bersegak
Lalu diasah kulit awak
Jerawat penuh muka berkerak
Lihat cantik dilumur bedak
Gigi bertatah dengan gewang
Kelip kilau nampak berjahang
Rumah buruk lantai jarang
Kalau terperlus malu kat orang
Asah gigi delima merkah
Kilat cahaya bagai ditatah
Kepala dogol kena belah
Kain direndak kenapa tak basah?
Terketak bagai udang ditangguk
Terlompat-lompat tertepuk-tepuk
Tiada sedar kaki cabuk
Dihurung bebari habis merobok
Cantik manis putih kuning
Bagai tanduk bersending gading
Salah pandang akal dirunding
Perangai pula laksana anjing
Tergesa-gesa balik ke kampung
Pelanduk seekor tidak terkepung
Encik bukan kera dan lontong
Ranting yang buruk hendak bergantung
Ada seekor burung belatuk
Cari makan di kayu buruk
Tuan umpama ayam pungguk
Segan mencakar rajin mematuk
GURINDAM JIWA
03 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
Pantun Gurindam Jiwa
Tuailah padi antara masak
Esok jangan layu-layuan
Intailah kami antara nampak
Esok jangan rindu-rinduan
Anak Cina memasang lukah
Lukah dipasang di Tanjung Jati
Di dalam hati tidak ku lupa
Bagai rambut bersimpul mati
Batang selasih permainan budak
Daun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Burung merpati terbang seribu
Hinggap seekor di tengah laman
Hendak mati di hujung kuku
Hendak berkubur di tapak tangan
Kalau tuan mudik ke hulu
Carikan saya bunga kemboja
Kalau tuan mati dahulu
Nantikan saya di pintu syurga
Sumber: Lagu Gurindam Jiwa
PANTUN AGAMA
03 Des 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in PANTUN
Sungguh indah pintu dipahat
Burung puyuh di atas dahan
Kalau hidup hendak selamat
Taat selalu perintah Tuhan
Halia ini tanam-tanaman
Ke barat juga akan rebahnya
Dunia ini pinjam-pinjaman
Ke akhirat juga akan sudahnya
Redup bulan nampak nak hujan
Pasang pelita sampai berjelaga
Hidup mati di tangan Tuhan
Tiada siapa dapat menduga
Belatuk di atas dahan
Terbang pergi ke lain pokok
Hidup mati ditangan Tuhan
Kepada Allah kita bermohon
Daun tetap di atas dulang
Anak udang mati dituba
Dalam kitab ada terlarang
Perbuatan haram jangan dicuba
Terang bulan terang bercahaya
Cahaya memancar ke Tanjung Jati
Jikalau hendak hidup bahagia
Beramal ibadat sebelum mati
Asam kandis asam gelugur
Ketiga asam si riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat jasad tidak sembahyang
Kulit lembu celup samak
Mari buat tapak kasut
Harta dunia janganlah tamak
Kalau mati tidak diikut
Banyaklah masa antara masa
Tidak seelok masa bersuka
Meninggalkan sembahyang jadi biasa
Tidak takut api neraka?
Dua tiga empat lima
Enam tujuh lapan sembilan
Kita hidup takkan lama
Jangan lupa siapkan bekalan
Kalau Tuan pergi ke Kedah
Singgah semalam di Kuala Muda
Sembahyang itu perintah Tuhan
Jika ingkar masuk neraka
Ramai orang menggali perigi
Ambil buluh lalu diikat
Ilmu dicari tak akan rugi
Buat bekalan dunia akhirat
Pak Kulup anak juragan
Mati diracun muntahkan darah
Hidup di dunia banyak dugaan
Kepada Allah kita berserah
Letak bunga di atas dulang
Sisipkan daun hiasan tepinya
Banyak berdoa selepas sembahyang
Mohon diampun dosa di dunia
Encik Borhan seorang kerani
Terkemut-kemut bila meniti
Tinggalkan sembahyang terlalu berani
Sepertii tubuhnya takkan mati
Sayang-sayang buah kepayang
Buah kepayang hendak dimakan
Manusia hanya boleh merancang
Kuasa Allah menentukan
Masa berada di Pulau Jawa
Rakan diajak pergi menjala
Maha Berkuasa jangan dilupa
Kuasa Allah tidak terhingga
Nyiur mudah luruh setandan
Diambil sebiji lalu dibelah
Sudah nasib permintaan badan
Kita di bawah kehendak Allah
Kemuning di dalam semak
Jatuh melayang ke dalam paya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya?
Harimau belang turun sekawan
Mati ditikam si janda balu
Ilmu akhirat tuntutlah tuan
Barulah sempurna segala fardu
Kera di hutan terlompat-lompat
Si pemburu memasang jerat
Hina sungguh sifat mengumpat
Dilaknat Allah dunia akhirat
Anak ayam turun sepuluh
Mati seekor tinggal sembilan
Bangun pagi sembahyang subuh
Minta doa kepada Tuhan
Anak ayam turun sembilan
Mati seekor tinggal lapan
Duduk berdoa kepada Tuhan
Minta Allah jalan ketetapan
Anak ayam turun lapan
Mati seekor tinggal tujuh
Duduk berdoa kepada Tuhan
Supaya terang jalan bersuluh
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Turut mengikut alim ulama
Supaya betul jalan makrifat
Anak ayam turunnya lima
Mati seekor tinggal empat
Kita hidup mesti beragama
Supaya hidup tidaklah sesat
Tuan Haji memakai jubah
Singgah sembahyang di tengah lorong
Kalau sudah kehendak Allah
Rezeki segenggam jadi sekarung
Bulu merak cantik berkaca
Gugur sehelai ke dalam baldi
Jika tak banyak kitab dibaca
Jangan mengaku khatib dan kadi
Inderagiri pasirnya lumat
Kepah bercampur dengan lokan
Sedangkan nabi kasihkan umat
Inikan pula seorang insan
Sang puteri pergi berenang
Sambil berenang berdondang sayang
Jika hidup dikurnia senang
Jangan lupa tikar sembahyang



