7 Air Terjun Terindah DiDunia


SANTOSO JEPARA JANUARY 29, 2013 0
7 Air Terjun Terindah DiDunia

Air Terjun adalah penampakan alam yang sangat indah. Melalui pemandangan yang dihasilkannya sehingga banyak orang senang kalau melihat air terjun. Bukan hanya air terjunnya tetapi pemandangan sekitar air terjun pun menarik. Sehingga, para wisatawan sangat senang jika melihat air terjun. Dan juga air terjun merupakan tempat yang romantis untuk para kaum pemuda untuk berpacaran. Didunia ini ada banyak sekali air terjun, dan juga menawarkan keindahan yang luar biasa indah. Tetapi, seperti yang dilansir oleh Listphobia, ada 7 Air Terjun Terindah Didunia.

Berikut 7 Air Terjun Terindah Didunia:

1. Steinsdalsfossen waterfall

7 air terjun terindah didunia 7 Air Terjun Terindah DiDunia

ini merupakan air terjun yang indah. Dan terletak di bukit sehingga biasanya para wisatawan melihat dari depan dan bawah bukit.

2. Alamere Falls

7 air terjun terindah didunia1 7 Air Terjun Terindah DiDunia

 

Air terjun ini terletak di pegunungan. Dan Warna dari air terjun ini bisa berupah kemerah-merahan jika sore hari.

3. Burney Falls

7 air terjun terindah didunia2 7 Air Terjun Terindah DiDunia

 

4. Beaver Falls 

7 air terjun terindah didunia3 7 Air Terjun Terindah DiDunia

 

5. High Force

7 air terjun terindah didunia 7 Air Terjun Terindah DiDunia

Warna air terjun ini kadang-kadang berwarna kuning kemerahan. Karena itu membuat air terjun termasuk dalam air terjun terindah didunia

6. Fulmer Falls

7 air terjun terindah didunia4 7 Air Terjun Terindah DiDunia

Air terjun kali ini mempunyai keindahan yang luar biasa. Air terjun ini juga menawarkan pemandangan yang indah di lingkungan sekitar.

7. Umpang Thee Lor Sue Waterfall

7 air terjun terindah didunia5 7 Air Terjun Terindah DiDunia

 

Fakta Tentang Sperma


SUBHANALLOH….

Mungkin Anda juga sering mendengar mitos-mitos tentang khasiat sperma. Sperma memang dalam penelitian mengandung komposisi kimia yang sangat berguna bagi tubuh. Bahkan mitos dikalangan wanita bahwa dengan menelan sperma dapat menghaluskan kulit dan bikin awet muda. Untuk menguji kebenaran mitos tersebut marilah kita lihat komposisi kimia yang terdapat dalam sperma. Para ahli dibidang ini tidak pernah membenarkan tapi juga tidak pernah menyalahkan mitos tersebut secara ilmiah. Mereka hanya mengatakan tidak apa tertelan asal dari sperma yang sehat dan tidak tertular penyakit.

Komposisi kimia sperma adalah sebagai berikut :
Komposisi kimia …………..( Dalam mg/100 ml )
Ammonia ……………………………2
Ascoric Acid ……………………..12,8
Ash …………………………………..9,9 %
Calcium ……………………………25
Carbon Dioxide …………..54 ml/100 ml
Chloride …………………………155
Cholesterol ………………………80
Citric Acid ……………………….376
Creatine …………………………..20
Ergothioneine ………………..Trace
Fructose ………………………..224
Glutathione ………………………30
Glycerylphorylcholine ………54-90
Inositol ……………………………..50,57
Lactic Acid ………………………..35
Magnesium ……………………….14
Nitrogen, nonprotein(total) …913
Phosphorus,acid-soluble …….57
Inorganic ………………………….11
Lipid ………………………………….6
Total (lipid) ………………………112
Phosphorylcholine ………….250-380
Potassium …………………………89
Pyruvic Acid ………………………29
Sodium ……………………………281
Sorbitol ……………………………..10
Vitamin B 12 ……………….300-600 ppg
Sulfur …………………………3 % (of ash)
Urea …………………………………72
Uric Acid ……………………………..6
Zinc ………………………………….14
Copper ………………………0,006-0,024

Komposisi yang bermanfaat bagi tubuh diantaranya adalah :

1. Calcium
Komposisi ini sangat berguna untuk tulang dan gigi bahkan untuk menjaga fungsi otot dan syaraf.

2. Citric Acid
Berguna untuk mencegah penggumpalan darah dalam tubuh

3. Creatine
Berguna untuk menambah tenaga dan pembentukan otot dan juga dapat berfungsi sebagai pembakar lemak dalam tubuh

4. Ergothioneine
Berfungsi sebagai pelindungan kulit dari kerusakan DNA

5. Fructose
Dapat berfungsi sebagai pencerna gula dalam tubuh yang sangat bermanfaat sebagai pencegah penyakit diabetes.
Kebanyakan Fructose juga berbahaya karena bisa menyebabkan penyakit asam urat.

6. Glutathione
Komposisi kimia ini sangat berguna sebagai obat pencegah kanker, mencegah penggumpalan darah selama operasi
dan menambah kemanjuran obat kemoterapi.

7. Inositol
Berfungsi mencegah kerontokan pada rambut

8. Lactic Acid
Berfungsi sebagai bahan untuk luka bakar dan luka pembedahan

9. Lipid
Berfungsi sebagai pembakar lemak

10.Pyruvic Acid
Berfungsi sebagai penyubur

11.Sorbitol
Dipergunakan oleh ahli farmasi sebagai bahan untuk mengatasi sembelit

12.Urea
Berfungsi untuk mengeluarkan nitrogen yang berlebih dalam tubuh

13.Uric Acid
Berguna sebagai pencegah penyakit diabetes tetapi kebanyakan Uric Acid akan menyebakan penyakit encok, dll

14.Sulfur
Berguna untuk menghaluskan kulit.

15.Vitamin B12
Sebagai penambah stamina

16.Zinc
Berguna sebagai obat jerawat.

Semoga informasinya berguna!

SUMBER : KAPANLAGI.FORUM

7 Tanda Kalbu Yang Sehat


Ramadhan telah berlalu dan momentum introspeksi diri pun –insya Allah- telah dilakukan. Apakah kita telah puas dengan keadaan kalbu kita ataukah merasakan kekurangan dan melakukan perbaikan di bulan mulia tersebut? Mudah-mudahan kita termasuk yang kedua.

Setelah kita bersusah payah mengeluarkan dan mengorbankan waktu, tenaga dan harta milik kita untuk merubah keadaan menjadi lebih baik dan sempurna. Perlu sekali kita mengecek hasilnya, apakah kalbu kita telah sehat kembali ataukah masih sakit atau malahan semakin keras –Wal’iyadzubillah-?

Unttuk itu marilah kita kenali kesehatan kalbu kita dengan melihat kadar rasa takutnya kepada Allah, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati (kalbu) mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. Al-Anfaal: 2)

Bagaimana Menggetahui kalbu memiliki rasa takut kepada Allah?

Tentunya hal ini dengan melihat tanda-tandanya, diantaranya adalah:

  1. Rasa gemetar pada tubuh dan rasa tenang pada kulit dan hati ketika mendengar Al-Qur’an, sebagaimana Allah berfirman:اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَا

    Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu Al-Qur’an) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az-Zumar: 23)

  2. Kekhusyu’an hati ketika berdzikir kepada Allah, sebagaimana Allah berfirman:أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

    Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadiid: 16)

  3. Mendengarkan kebenaran dan tunduk terhadapnya, sebagaimana Allah berfirman:وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

    Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati (kalbu) mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Hajj: 54)

  4. Selalu kembali bertobat kepada Allah, Sebagaimana Allah berfirman:مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

    Yaitu orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati (kalbu) yang bertaubat.” (QS. Qaaf: 33)

  5. Ketenangan dan kewibawaan, sebagaimana Allah berfirman:هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

    Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati (kalbu) orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4)

  6. Berdebarnya kalbu karena cinta kaum mukminin, sebagaimana Allah berfirman:وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

    Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr: 10)

  7. Selamatnya hati dari iri dan dengki, sebagaimana Allah berfirman:وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

    Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imraan: 103)

Apabila hati kita telah demikian maka bersyukurlah kepada Allah dengan mempertahankannya dan memeliharanya agar dapat istiqamah. Namun sebaliknya bila tanda-tanda ini belum ada maka hendaknya banyak lagi bertaubat dan ingat dengan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam :

رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ

Celakalah seorang yang menjumpai Ramadhan kemudian selesai (bulan tersebut) belum juga diampuni” (HR at-Tirmidzi).

Mari obati kalbu kita agar selamat didunia dan akherat.

Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.

Muhammad bin Wasi’ : Panutan Dalam Pelajaran Ikhla


Melihat ke belakang, menoleh sejarah. Ada kisah-kisah menakjubkan yang telah tertoreh. Manusia-manusia pilihan, tokoh besar sepanjang masa. Membaca dan mempelajari tentang kehidupan mereka seakan membaca dan mempelajari sebuah keajaiban. Kadang muncul takjub, bahagia, heran, dan bertanya,”Mampukah kita seperti mereka?”. Namun, tetap saja kita diperintahkan untuk mencontoh mereka. Meniru orang mulia agar menjadi mulia.

Dari kalangan tabi’in murid-murid sahabat Nabi, ada sebuah nama yang sangat dikenal dengan ketekunan dalam beribadah. Beliau adalah Abu Bakar Muhammad bin Wasi’ bin Jabir Al Akhnas.Al Imam Rabbani Al Qudwah. Ada yang mengatakan ; Abu Abdillah Al Azdi Al Bashri. Salah seorang tokoh besar di masanya. Haditsnya diriwayatkan oleh Muslim,Abu Dawud,Tirmidzi dan An Nasa’i.

Beliau berguru ilmu hadits  kepada Anas bin Malik, Ubaid bin Umair, Mutharrif bin As Syikhir, Abdullah bin As Shamit, Abu Shalih As Samman, Muhammad bin Sirin dan lainnya. Beliau sedikit meriwayatkan hadits.

Dengan kedudukan beliau, banyak ulama’ yang berguru dan mengambil ilmu dari beliau. Diantara murid-murid beliau ; Hisyam bin Hassan, Azhar bin Sinan, Ismail bin Muslim Al Abdi, Sufyan At Tsauru, Ma’mar, Hammad bin Salamah, Sallam bin Abi Muthi’, Shalih Al Murri, Hammad bin Zaid, Ja’far bin Sulaiman Ad Dhuba’i, Nuh bin Qais, Sallam Al Qari, Muhammad bin Al Fadhl bin Athiyyah.

Ali Al Madini berkata : “Muhammad bin Wasi’ memiliki lima belas riwayat hadits”

Pujian Ulama’

Seorang hamba yang beriman dan senang beribadah,disegerakan pahalanya dengan adanya pujian dan sanjungan dari orang-orang yang baik. Begitupula Muhammad bin Wasi, dengan kemuliaan dan kehormatan yang beliau miliki, mengalirlah pujian dari para ulama’ kepada beliau.

Ibnu Syaudzab berkata,”Muhammad bin Wasi’ tidak memiliki ibadah yang menonjol bila dibandingkan dengan yang lain. Namun jika ditanyakan,”Siapakah penduduk Basrah yang paling mulia?” Jawabannya pasti : ”Muhammad bin Wasi’”.

Musa bin Harun menjelaskan,”Muhammad bin Wasi’ adalah seorang ahli ibadah, senang beramal, wara’, memiliki kedudukan tinggi, mulia, tsiqah, berilmu dan semua kebaikan ia kumpulkan”

Ibnu Hibban bercerita,”Beliau termasuk ahli ibadah yang teliti, ahli zuhud yang senang beramal. Beliau pernah berangkat berjihad di Khurasan. Keutamaan dan kelebihan yang beliau miliki sangat banyak”.

Malik bin Dinar mengatakan,”Muhammad bin Wasi’ termasuk ahli membaca Al Qur’an Ar Rahman.Keutamaannya sangat banyak”.

Pandangan Terhadap Dunia

Kaum alim ulama’ memiliki pandangan yang berbeda dengan keumuman manusia dalam menilai dunia. Dunia bukanlah tujuan sesungguhnya. Namun, dunia hanya tempat mempersiapkan bekal untk menggapai kehidupan di kampung abadi nanti dan dunia adalah tempat persinggahan.

Hammad bin Zaid berkata,”Ada orang berkata kepada Muhammad bin Wasi’,”Berikanlah wasiat untukku!”. Beliau menjawab ; ”Aku wasiatkan kepadamu agar engkau menjadi raja di dunia dan akhirat”. Orang itu bertanya,”Bagaimanakah caranya?”.Muhammad bin Wasi’ menjelaskan,”Bersikaplah zuhud terhadap dunia”.

Muhammad bin Wasi’ berkata ; ”Sungguh, aku iri kepada orang yang kuat beragama sementara ia tetap ridha dengan dunia yang sedikit padanya”.

Dalam pertempuran Jurjan,Yazid bin Al Muhallab memperoleh rampasan perang dalam bentuk mahkota yang dihiasi permata.Yazid bertanya kepada pasukannya,”Apakah kalian percaya, masih ada orang yang tidak menginginkan benda ini?”. Mereka menjawab,”Tidak!”. Yazid lalu memanggil Muhammad bin Wasi’ Al Azdi dan berkata,”Terimalah mahkota ini!”. Muhammad bin Wasi’ berkata,”Aku tidak memerlukannya”.Yazid memaksa,”Aku mengharuskan kamu untuk mau menerimanya!”.

Mahkota itu lalu diterima oleh Muhammad bin Wasi’. Yazid lalu memerintahkan satu orang untuk menguntitnya,apa yang akan diperbuat oleh Muhammad bin Wasi’. Ternyata,di tengah jalan Muhammad bin Wasi’ bertemu dengan seorang pengemis, kemudian Muhammad bin Wasi’ menyerahkan mahkota tersebut kepada si pengemis. Utusan dari Yazid tadi segera membawa si pengemis untuk menghadap kepada Yazid sehingga dapat menceritakan peristiwa itu.Yazid kemudian mengambil kembali mahkota itu dan memberi ganti kepada si pengemis uang dalam jumlah yang banyak.

Subhanallah! Masih adakah manusia semacam beliau? Yang tidak lagi memerlukan bertumpuknya harta dan berlebihnya materi? Manusia-manusia pilihan yang mengambil bagian dari dunia secukupnya saja.Semoga Allah merahmati Anda,wahai Muhammad bin Wasi’. Anda telah mewariskan sesuatu yang sulit bagi kami

Pandangan Terhadap Akhirat

Hazm Al Qath’i berkata,”Muhammad bin Wasi’ berkata menjelang wafatnya,”Wahai saudara-saudara,tahukah kalian kemana aku akan dibawa pergi? Demi Allah, ke neraka kecuali Allah memberikan ampunan untukku”

Sulaiman At Taimi berkata : “Aku tidak pernah melihat orang yang khusyu’nya melebihi Muhammad bin Wasi’”

Kedudukan Beliau Dalam Doa

Dalam berperang, kaum muslimin membutuhkan orang-orang yang dekat dengan Allah Ta’ala. Dengan sebab keberadaan dan keikutsertaan mereka di tengah pasukan, pertolangan Allah menjadi sangat dekat. Keimanan dan doa-doa mereka sangat dibutuhkan. Demikian juga Muhammad bin Wasi’.

Al Ashma’i berkata,”Pada saat Qutaibah bin Muslim menghadapi pasukan Turki dan merasa kewalahan, beliau menanyakan tentang Muhammad binWasi’. Ada yang menjawab,”Dia ada di sayap kanan sedang meletakkan busur dan mengibaskan jari-jarinya ke arah langit (berdoa) ”.Qutaibah mengatakan,”Jar-jari itu lebih aku suka daripada seratus ribu bilah pedang tajam yang dipegang oleh anak-anak muda.

Nasehat-nasehat Beliau

Berikut ini beberapa nasehat dari Muhammad bin Wasi’ untuk kita.Nasehat yang sangat berharga.

Muhammad bin Wasi’ berkata,”Apabila seorang hamba menghadapkan sepenuh hatinya kepada Allah, pasti Allah akan menghadapkan hati hamba-hamba kepada orang tersebut”

Muhammad bin Wasi’ jika ditanya,”Apa kabar anda pagi ini?”. Beliau menjawab,”Ajalku dekat, angan-anganku masih panjang sementara amalanku buruk

Seorang pemberi nasehat mendekati Muhammad binWasi’ dan bertanya,”Mengapa aku temukan kenyataan hati yang tidak khusyu’, mata yang tidak menangis, kulit yang tidak bergetar?”. Muhammad menjawab,”Wahai fulan,aku tidak melihat kesalahan ini dari mereka, Tapi dari dirimu. Jika nasehat disampaikan dari hati tentu akan mengena di hati”.

Ada orang memperhatikan luka di tangan Muhammad bin Wasi’ dan ia merasa kasihan. Muhammad bin Wasi’ berkata,”Tahukah engkau, kenikmatan apa yang aku rasakan dari luka di tanganku ini? Karena,luka ini tidak diletakkan di biji mataku,atau di ujung lidahku atau di ujung kemaluanku”.

Ibnu Uyainah berkata , Muhammad bin Wasi’ pernah mengatakan,”Seandainya dosa-dosa yang diperbuat mempunyai bau tersendiri, tidak akan satu orang pun yang mau duduk bersamaku”

Ibadah dan Ajaran Keikhlasan

Musa bin Yasar berkata,”Aku pernah menemani Muhammad bin Wasi’ dalam perjalanan ke Makah. Sepanjang malam ia sholat di atas kendaraan,dalam keadaan duduk sambil berisyarat”

Muhammad bin Wasi’ berkata ,”Sungguh, ada seseorang sering menangis selama duapuluh tahun dan istrinya yang selalu didekatnya tidak pernah tahu”.

Muhammad bin Wasi’ berkata,”Sungguh,aku telah menemui beberapa orang, diantara mereka ada yang kepalanya berdampingan dengan kepala istrinya,diatas satu bantal. Air matanya membasahi bantal dibawah pipinya, namun istrinya tidak pernah mengetahui. Aku juga menemui beberapa orang,diantara mereka ada yang berdiri dalam shof shalat, air matanya mengalir di pipi dan tidak ada seorang pun disampingnya yang mengetahui”.

Muhammad bin Wasi’ selalu berpuasa namun tidak pernah menampakkannya.

Tidak Berambisi Terhadap Kedudukan

Seorang pembesar bernama Malik bin Al Mundzir pernah mengundangnya.”Terimalah jabatan sebagai Qadhi!”. Tetapi Muhammad bin Wasi’ menolak, tapi Malik tetap membujuknya dan berkata,”Kamu harus mau menjabat sebagai Qadhi, jika tidak aku akan mencambukmu sebanyak tigaratus kali!”. Muhammad bin Wasi’ mengatakan,”Jika engkau lakukan, engkau orang yang semena-mena. Sungguh,hina di dunia lebih baik daripada hina di akhirat”

Muhammad bin Wasi’ meninggal pada tahun 123 H .Rahimahullah

Sesuai Persangkaan Hamba pada Allah…


Sesuai persangkaan hamba pada Allah. Artinya, jika seorang hamba bertaubat dengan taubatan nashuha (yang tulus), maka Allah akan menerima taubatnya. Jika dia yakin do’anya akan dikabulkan, maka Allah akan mudah mengabulkan. Berbeda jika kondisinya sudah putus asa dan sudah berburuk sangka pada Allah sejak awal.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih).

Mengenai makna hadits di atas, Al Qodhi ‘Iyadh berkata, “Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya” (Syarh Muslim, 17: 2).

Inilah bentuk husnuzhon atau berprasangka baik pada Allah yang diajarkan pada seorang muslim. Jabir berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnu zhon pada Allah” (HR. Muslim no. 2877).

Husnuzhon pada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam do’a. Ketika kita berdo’a pada Allah kita harus yakin bahwa do’a kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya do’a dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi terkabulnya do’a. Karena ingatlah bahwasanya do’a itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhon pada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60)

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ

Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala selain do’a.” (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829, dan Ahmad 2: 362, hasan)

Jika seseorang berdo’a dalam keadaan yakin do’anya akan terkabul, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479, hasan)

Jika do’a tak kunjung terkabul, maka yakinlah bahwa ada yang terbaik di balik itu. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاَثٍ إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِى الآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا. قَالُوا إِذاً نُكْثِرُ. قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.” (HR. Ahmad 3: 18, sanad jayyid).

Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam berkata,

فالإلحاحُ بالدعاء بالمغفرة مع رجاء الله تعالى موجبٌ للمغفرة

“Terus meminta dengan do’a dan memohon ampunan Allah disertai rasa penuh harap pada-Nya, adalah jalan mudah mendapatkan maghfiroh (ampunan).”

Maka yakinlah terus pada janji Allah, husnuzhon-lah pada-Nya. Janganlah berprasangka kecuali yang baik pada Allah. Dan jangan putus asa dari rahmat Allah dan teruslah berdo’a serta memohon pada-Nya.
Ya Allah, kabulkanlah dan perkenankanlah setiap do’a kami.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel Muslim.Or.Id

Memahami dan Menyikapi Alam Ghaib (Alam Jin)


Ditulis oleh Ahmad Mudzoffar Jufri, MA
Iman kepada yang ghaib merupakan pilar dan prinsip utama aqidah Islam (QS Al-Baqarah: 3), yang semestinya menempati prioritas pertama dan utama dalam bangunan pemikiran ummat dan manhaj (sistem dan pola baku) para juru dakwah. Namun dalam kenyataannya, permasalahan alam ghaib ini sangat kurang mendapatkan perhatian dan sangat jarang diangkat  ke permukaan. Kalaupun diangkat, hal itu seringkali dilakukan dengan cara yang salah dan menyimpang.

Terminologi ghaib selama ini bahkan telah dipersempit cakupan pengertiannya, sehingga dibatasi hanya pada masalah jin semata. Dan fatalnya lagi, masalah alam jinpun ternyata telah dipahami dengan pemahaman yang menyimpang, sesat dan menyesatkan. Sebabnya karena tidak didasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, melainkan justru disandarkan pada sumber-sumber yang tidak benar seperti para dukun dan paranormal, baik yang terang-terangan maupun yang terselubung.  Maka berbagai fenomena penyimpangan pun merebak di tengah-tengah masyarakat sebagai akibat dari pemahaman dan persepsi yang salah dan menyimpang  tentang alam jin dan alam ghaib.

Fenomena-fenomena tersebut terkait dengan persepsi-persepsi dan keyakinan-keyakinan menyimpang  dan bahkan “jungkir balik” yang hampir baku di masyarakat seputar sebutan-sebutan dan istilah-istilah tertentu seperti misalnya: wali, ”orang pintar”, ”orang ngerti”, ”orang tua”, ilmu karamah, ilmu kasyaf, ilmu ladunni, ilham, wangsit, mimpi, alam ruh, alam jin, bantuan jin, khadam jin, khadam malaikat, tenaga dalam, olah pernafasan tenaga dalam, meditasi, yoga, aura, bio-energi diri, “energi alam”, alam supranatural, tenaga supranatural, pengobatan alternatif supranatural,  hipnotis, sulap, mentalis, ilusionis, isi-isian, bekal-bekalan, amalan-amalan, rajah, jimat, keris, benda bertuah, benda keramat, tempat keramat, orang keramat dan dunia mistik – misteri – klenik pada umumnya, yang memang sangat lekat dan kental di masyarakat kita. Sementara, hal-hal tersebut umumnya tidak terlepas dari campur tangan jin dalam kehidupan manusia, yang tidak dipahami dan disadari oleh banyak orang.

Karena masalah-masalah tersebut sangat terkait dengan aqidah, yang merupakan pondasi ajaran Islam, maka kita harus memberikan perhatian yang besar dan serius dalam upaya pelurusan dan perbaikan. Oleh karena itu, berikut ini akan dikemukakan beberapa prinsip dalam memahami dan menyikapi alam ghaib, yang disini dibatasi pada alam jin, sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Kewajiban Beriman pada Adanya Jin

Kita wajib beriman terhadap adanya satu jenis makhluq Allah yang disebut jin, yang hidup di alam khusus untuk mereka, yang berbeda dengan alam malaikat, alam ruh maupun alam manusia. Karena, keberadaan alam jin ini sudah merupakan ijma’ (kesepakatan) seluruh ulama sepanjang zaman. Didalam Al-Qur’an, kita mendapati banyak sekali ayat yang menegaskan hal tersebut. Bahkan terdapat satu surat yang seluruh ayat-ayatnya berbicara tentang jin, sehingga dinamai Surat Al-Jinn (Surat ke-72).

Karena alam jin termasuk alam ghaib (meskipun sifat dan tingkat keghaibannya berbeda dengan keghaiban malaikat, ruh, dan alam-alam ghaib yang lainnya) maka kita hanya bisa dan boleh mengambil informasi yang benar tentangnya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah saja.

Karakteristik dan Sifat-sifat Jin

1.       Jin diciptakan sebelum manusia dari api, sedangkan malaikat dari cahaya dan manusia dari tanah (QS Al-Hijr [15] : 26 – 27,  QS Ar-Rahman [55] : 15, HR Muslim).

2.       Jin makan dan minum (berdasarkan hadits-hadits riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, dan yang lainnya).

3.       Jin berketurunan (QS Al-A’raf  [7] : 27, QS. Al-Kahfi [18]: 50).

4.       Jin mengalami kematian (QS Ar-Rahman [55] : 26 – 28, HR Bukhari) kecuali Iblis (dan juga syetan-syetan asli keturunan Iblis menurut pendapat sebagian ulama) yang memang telah diberi masa tangguh untuk hidup sampai Hari Kiamat (QS Al-A’raf {7} : 14 – 15).

5.       Jin diberi kemampuan-kemampuan tertentu yang tidak diberikan kepada manusia, seperti kecepatan bergerak dan berpindah (QS An-Naml [27] : 39 – 40), terbang menembus langit untuk mencuri berita ghaib (QS Al-Jinn [72] : 8 – 9, HR Bukhari), kemampuan untuk berubah bentuk menyerupai manusia dan  binatang, khususnya ular, kalajengking, dan anjing (lihat sebab turunnya QS Al-Anfal [8] : 48, juga HR Bukhari yang mengisahkan jin yang datang untuk mencuri harta zakat dan shadaqah yang ditunggui oleh Abu Hurairah, HR Muslim tentang seorang sahabat yang bertarung dengan jin yang menjelma dalam bentuk ular di rumahnya sampai keduanya terbunuh, dan riwayat-riwayat yang lainnya), kemampuan luar biasa untuk membuat bangunan-bangunan besar dan hebat, menyelam ke dasar lautan yang paling dalam, dan sebagainya (QS Saba’ [34] : 13, QS Shaad [38] : 35 – 38), masuk dan merasuki diri manusia (QS Al-Baqarah [2] : 275, QS An-Naas [114] : 4 – 6, HR Bukhari – Muslim, dan dalil-dalil yang lainnya), dan kemampuan-kemampuan yang lainnya.

Jin, Iblis, dan Syetan

Firman Allah dalam QS Al-Kahfi [18] : 50 menegaskan bahwa, Iblis berasal dari golongan jin. Namun sejak pembangkangannya atas perintah Allah untuk bersujud kepada Adam ‘alaihissalam, Iblis ditetapkan oleh Allah menjadi makhluq terlaknat yang tidak akan pernah lagi beriman. Begitu pula keturunannya, yang disebut sebagai syetan (syetan asli). Sehingga dengan demikian, mereka (Iblis dan syetan-syetan asli keturunannya) seakan-akan menjadi jenis makhluq tersendiri, padahal sebenarnya semula juga berasal dari golongan jin. Nah sangat boleh jadi bahwa, syetan pendamping manusia yang disebut qarin, adalah dari jenis syetan-syetan asli keturunan Iblis ini (QS Fushshilat [41] : 25, QS Az-Zukhruf [43] : 36), dimana setiap manusia memang telah ditetapkan baginya pendamping dari golongan jin (syetan) dan pendamping dari golongan malaikat. Karena syetan qarin merupakan sebagian dari syetan asli, maka mereka pun tidak akan pernah beriman. Mungkin satu-satunya syetan yang menjadi muslim, menurut pendapat sebagian ulama,  hanyalah qarin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR Muslim).

Sementara itu, istilah syetan juga dipakai untuk mensifati mereka yang kafir dan jahat dari golongan jin dan manusia (QS Al-An’am [6] : 112, QS An-Naas [114] : 4 – 6) , karena keserupaannya dengan syetan (yang asli keturunan Iblis). Namun, sebutan syetan disini hanya merupakan sifat, yang tidak permanen dan akan terlepas sewaktu-waktu ketika mereka kembali beriman dan taat. Oleh karena itu, jika misalnya selama bulan Ramadhan terdapat syetan yang masuk dan merasuki seseorang hingga kesurupan – dan ini sering terjadi – padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa pada bulan itu syetan-syetan dibelenggu (HR Bukhari – Muslim), maka syetan yang masuk dan merasuki itu adalah jin-jin yang disifati dan disebut sebagai syetan, dan bukan syetan yang asli. Adapun syetan-syetan yang dibelenggu – sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam - hanyalah syetan-syetan yang asli keturunan Iblis.

Jin Adalah Makhluq yang Mukallaf

Sebagaimana manusia, jin merupakan makhluq mukallaf (mendapat beban syariat) yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT (QS Adz-Dzariyat [51] : 56). Mereka diwajibkan untuk mengikuti syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam karena beliau memang diutus untuk manusia dan jin sekaligus, sebagaimana ijma’ para ulama (lihat juga QS Al-Ahqaf [46] : 29 – 30 dan QS Al-Jinn [72] : 1 – 2).  Adapun bagaimana cara mereka melaksanakan syariat Islam adalah sesuai dengan sifat dan kondisi mereka, yang tidak kita ketahui secara rinci.

Diantara para jin ada yang beriman dan ada yang kafir, ada yang taat dan ada yang durhaka (QS Al-Jinn [72] : 11, 14-17). Mereka juga akan di-hisab untuk mendapatkan balasan baik ataupun buruk sesuai dengan amal mereka di dunia. Yang beriman dan taat diantara mereka akan mendapatkan kenikmatan di Surga, sedangkan yang kafir dan durhaka akan menerima siksa di Neraka (QS Al-An’am [6] : 130, QS Al-A’raf [7] : 38, 179, QS As-Sajdah [32] : 13, QS Ar-Rahman [55] : 46-47).

Pola Hubungan antara Manusia dan Jin

1.       Jin dan manusia yang sama-sama merupakan makhluq mukallaf memiliki alam, kehidupan, tugas dan kewajibannya sendiri-sendiri yang harus dijalani dan ditunaikan sesuai dengan sifat dan kondisi mereka masing-masing, di alam mereka masing-masing. Oleh karena itu, pada prinsip dan dasarnya, tidaklah diperbolehkan saling mencampuri antara satu dan yang lainnya. Sehingga jin yang melakukan campur tangan terhadap manusia ,pada pada prinsipnya, adalah merupakan bentuk penyimpangan, sebagaimana manusia yang melakukan campur tangan terhadap jin, pada dasarnya, adalah sebuah penyimpangan juga. Kewajiban dakwah atas manusia dan jin misalnya, hanyalah untuk dilakukan di alam mereka masing-masing dan oleh golongan mereka masing-masing. Kecuali dalam kondisi-kondisi sangat khusus dan dalam ”wilayah” yang terbatas sekali, seperti misalnya seruan dakwah yang ditujukan oleh peruqyah kepada jin yang berada dalam diri pasien kerasukan pada saat proses ruqyah sedang berlangsung.

2.       Manusia tidak boleh meminta pertolongan dan perlindungan kepada jin karena jin tidak akan pernah menjadikannya sebagai sesuatu yang gratis dan cuma-cuma (QS Al-An’am [6] : 128, QS Al-Jinn [72] : 6).

3.       Tidaklah benar jika dikatakan bahwa seorang manusia mampu menguasai dan menundukkan jin tanpa kompensasi apapun, karena kemampuan untuk itu hanya Allah berikan kepada Nabi Sulaiman‘alaihissalam (QS Saba’ [34] :   12 – 14, QS Shaad [38] : 35 – 39). Maka, ketika seseorang merasa telah mampu menguasai dan menundukkan jin maka jin itulah yang sebenarnya telah lebih dulu menguasai orang tersebut. Hanya saja, yang bersangkutan tidak menyadarinya, karena memang pengelabuan dan tipu daya mereka amatlah halus dan menipu.

4.       Manusia tidak bisa melihat jin (dalam wujudnya yang asli) sedangkan jin bisa melihat manusia (QS Al-A’raf [7] : 27). Adapun tentang klaim yang sering kita dengar bahwa seseorang bisa melihat jin, maka terdapat beberapa kemungkinan sebagai berikut. Pertama, yang bersangkutan berbohong dan berdusta. Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa mengaku bisa melihat jin, maka kami gugurkan kesaksiannya (karena dianggap telah berdusta sehingga tidak layak dipercaya lagi) berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya) ‘Sesungguhnya ia (Iblis) dan keturunannya bisa melihat kalian sementara kalian tidak bisa melihat mereka (QS Al-A’raf [7] : 27)” (Asy-Syibli dalam Aakaamul Marjaan hal. 23-24) . Kedua, jin telah menampakkan dirinya dalam wujud tertentu yang memungkinkan untuk dilihat oleh orang tersebut. Ketiga, yang bersangkutan ketempelan tetapi tidak menyadarinya. Dalam hal ini, “kemampuan lebih” tersebut tidaklah murni kemampuan yang bersangkutan, akan tetapi atas bantuan jin, namun tidak disadari. Kasus seperti inilah yang biasanya dipahami oleh orang-orang bahwa seseorang memiliki indera keenam. Keempat, yang bersangkutan memang memiliki prewangan ataukhadam dari golongan jin, baik yang bersangkutan mengaku ataupun tidak mengaku.

5.       Prinsip dasar sikap manusia terhadap jin adalah sikap menghindar dan berlindung kepada Allah dari mereka. Jika ada yang mengatakan, ”Mengapa sikap dasar kita menghindar dan berlindung? Bukankah diantara mereka ada yang beriman dan taat?” Jawabannya : Pertama, kemampuan kita untuk menjangkau mereka sangatlah terbatas, sehingga kita tidak bisa membedakan antara yang taat dan yang durhaka diantara mereka. Kedua, kita tidak bisa dan tidak boleh percaya begitu saja kepada pengakuan mereka, bahwa mereka beriman dan taat misalnya. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan bahwa, mereka adalah makhluq pendusta (HR Bukhari yang mengisahkan jin yang datang untuk mencuri harta zakat dan shadaqah yang ditunggui oleh Abu Hurairah). Ketiga, alam jin yang diperkenalkan kepada kita oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits lebih didominasi oleh pensifatan mereka sebagai syetan, yang tentu harus membuat kita bersikap waspada. Keempat, dalam realitas sejarah, jin-jin yang tampil dan hadir dalam kehidupan manusia kebanyakannya adalah jin-jin yang kafir dan durhaka, yang datang untuk hal-hal yang negatif dan merugikan, namun seringkali tidak disadari oleh manusia. Hal ini dikuatkan oleh penegasan Al-Qur’an ( QS Al-Ahqaf [46] : 29 – 32) bahwa, jin-jin yang shaleh yang mungkin sewaktu-waktu hadir dengan sendirinya dalam majlis-majlis ilmu, dzikir dan tilawah yang diadakan oleh manusia mukmin, begitu usai akan segera kembali kepada kaumnya untuk menyampaikan yang telah mereka dapatkan, dan tidak malah tetap tinggal bersama manusia tersebut.

“Ya Rabbi, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan syetan-syetan, dan aku berlindung kepada-Mu, ya Rabbi, dari kedatangan mereka kepadaku”. (QS Al-Mukminun [23] : 97 – 98)

Wallahu a’lamu bish shawaab.

Memahami Syirik, Kufur, dan Nifaq


Ditulis oleh Ahmad Mudzoffar Jufri, MA
Syirik, kufur dan nifaq adalah tiga hal yang bisa membatalkan tauhid seseorang atau setidak-tidaknya mengurangi kesempurnaannya. Oleh karena itu, kita harus memiliki pemahaman yang betul-betul baik tentang tiga perkara ini. Dan yang paling penting adalah, kita senantiasa berusaha agar tidak terjatuh dan terjerumus kedalam tiga perkara tersebut.

Sebelum kita membahas satu persatu ketiga perkara ini, marilah terlebih dulu kita perhatikan dan kita renungkan beberapa firman Allah berikut ini:

”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);  sesungguhnya telah jelas jalan yang lurus daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka berarti ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS Al-Baqarah : 256).

”Dan sungguh Kami telah mengutus seorang rasul pada tiap-tiap ummat (untuk menyerukan), ’Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah thaghut” (QS An-Nahl : 36).

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka menegakkan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS Al-Bayyinah : 5).

Selanjutnya, berikut ini adalah pembahasan singkat mengenai ketiga perkara tersebut, dimulai dari syirik, lalu kufur dan terakhir nifaq.

 

Pertama : Syirik (Kesyirikan) [QS An-Nisa’ : 48 & 116, QS. Al-An’am : 82, QS Luqman : 13, QS Az-Zumar : 65]

Syirik Akbar (Kesyirikan Besar)

  1. Syirik dalam rububiyah, seperti keyakinan bahwa arwah orang yang sudah meninggal mampu memberikan manfaat atau mudharat, memenuhi kebutuhan orang yang hidup, atau keyakinan bahwa ada orang yang ikut mengatur alam raya ini bersama Allah, dan seterusnya.
  2. Syirik dalam asma’ wa shifat, seperti keyakinan bahwa ada orang yang mengetahui hal ghaib selain Allah, misalnya dukun, peramal dan semacamnya, syirik dengan menyerupakan shifat Allah dengan shifat makhluq, dan lain-lain.
  3. Syirik dalam uluhiyah (ibadah), seperti syirik dalam ibadah, doa, takut, cinta, harap, taat, dan sebagainya.

Syirik Ashghar (Kesyirikan Kecil)

  1. Qauli (berupa ucapan), seperti bersumpah dengan menyebut selain nama Allah, dan sebagainya.
  2. Fi’li (berupa perilaku dan perbuatan), seperti tathayyur, datang ke dukun, memakai jimat dan rajah (yang bukan berupa ayat Al-Qur’an atau doa yang dibenarkan), dan sebagainya.
  3. Qalbi (berupa amal hati / batin), seperti riya’, sum’ah, dan sebagainya.

Beberapa Sarana yang Mengantarkan kepada Kesyirikan

  1. Ghuluw (berlebih-lebihan) dalam tawassul yang diperselisihkan.
  2. Memfungsikan kuburan seperti fungsi masjid.
  3. Sikap ghuluw terhadap orang shalih (baik yang masih hidup maupun khususnya yang sudah wafat).
  4. Kultus individu, benda, dan tempat.
  5. Penghormatan, pemuliaan, dan pengagungan terhadap patung-patung dan gambar-gambar.
  6. Hari-hari raya dan peringatan-peringatan bid’ah.
  7. Amal-amal bid’ah pada umumnya.

 

Kedua : Kufur (Kekufuran) [QS Al-Baqarah : 6 – 7, QS Al-Kafirun]

Kufur Akbar (Kekufuran Besar) :

  1. Kufur pengingkaran dan pendustaan (kufr al-inkaar wat takdziib). Lihat QS Al-An’am : 66, QS Al-’Ankabut : 68
  2. Kufur keragu-raguan (kufr asy-syakk). Lihat QS Al-Kahfi : 35 – 38
  3. Kufur keengganan dalam mematuhi hukum Allah karena faktor kesombongan (kufr al-imtinaa’ wal istikbaar). Lihat QS Al-Baqarah : 34, QS Asy-Syu’araa’ : 111, QS Al-A’raf : 12, QS Al-Israa’ : 61.
  4. Kufur pelecehan dan pengolok-olokan terhadap ajaran Islam (kufr as-sabb wal istihzaa’). Lihat QS At-Taubah : 65 – 66.
  5. Kufur kebencian terhadap bagian ajaran Islam (kufr al-bughdh). Lihat QS Muhammad : 9.
  6. Kufur perpalingan (berpaling) dari hukum Allah (kufr al-i’raadh). Lihat QS Al-Ahqaf : 3, QS Ali ’Imran : 32, QS As-Sajdah : 22.
  7. Kufur nifaq (kemunafikan). Lihat QS Al-Munafiqun : 3.
  8. Kufur loyalitas terhadap orang-orang kafir (kufr al-walaa’). Lihat QS Ali ’Imran : 28.

Kufur Ashghar (Kekufuran Kecil) :

Adalah setiap jenis kemaksiatan yang disifati dengan kekufuran dan tidak termasuk kategori kufur akbar, seperti :

  1. Kufur nikmat (QS An-Nahl : 83 & 112)
  2. Meninggalkan sholat (HR At-Turmudzi)
  3. Mendatangi dukun dan peramal (HR Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Bazzar)
  4. Memerangi atau membunuh sesama muslim (HR Muttafaq ’Alaih)
  5. Melecehkan dan memperolok-olokkan suatu keturunan, marga, etnis, dan semacamnya (HR Muslim)
  6. Meratapi orang yang meninggal (HR Muslim)
  7. Larinya budak dari tuannya (HR Muslim)
  8. Menisbatkan diri seseorang kepada selain orangtuanya yang sebenarnya (HR Muttafaq ’Alaih)

Ketiga : Nifaq (Kemunafikan) [QS Al-Baqarah : 8 – 20, QS An-Nisa’ : 142 – 146, QS Al-Munafiqun)

Nifaq Akbar (Kemunafikan Besar) :

Adalah nifaq i’tiqadi (kemunafikan yang berupa keyakinan hati). Karena dasarnya adalah keyakinan hati, maka tidak mudah diketahui. Namun ada beberapa bentuk amal lahir mereka yang termasuk jenis kufur akbar, yang diungkapkan dalam Al-Qur’an, seperti :

  1. Melecehkan dan memperolok-olokkan Allah, Rasul-Nya saw, dan Al-Qur’an (QS At-Taubah : 65 – 66).
  2. Mencaci Allah dan Rasul-Nya atau mendustakan keduanya (QS At-Taubah : 158).
  3. Berpaling dari hukum Allah dan menghalang-halangi orang dari jalan Allah (QS An-Nisa’ : 61).
  4. Berhukum dengan hukum dan undang-undang orang-orang kafir (QS An-Nisa’ : 66).
  5. Meyakini isme-isme jahiliyah yang bertentangan dengan Islam : sekularisme, nasionalisme, dan lain-lain.
  6. Berpihak dan memberikan loyalitas serta dukungan kepada orang-orang kafir dalam memerangi kaum muslimin.
  7. Bergembira atas kemenangan dan kaunggulan orang-orang kafir atau kealahan dan keterpurukan ummat Islam (QS Ali ’Imran : 119 – 120)
  8. Mencela dan melecehkan para ulama, pejuang atau tokoh Islam, dan kaum mukminin militan pada umumnya (QS Al-Baqarah : 13, QS At-Taubah : 79).
  9. Memuji-muji kaum kafir, mengung-agungkan tokoh-tokoh mereka, dan mempublikasikan pemikiran-pemikiran mereka yang bertentangan dengan Islam (QS Al-Mujadalah : 14).

Nifaq Ashghar (Kemunafikan Kecil) :

Juga disebut dengan Nifaq ’Amali (Kemunafikan Amal Perbuatan).

Definisinya : bahwa seseorang menampakkan amal lahiriyah yang baik dan terpuji, namun pada saat yang sama ia menyembunyikan didalam hatinya sesuatu yang buruk dan tercela, yang bertentangan dengan yang ditampakkan.

Dan diantara contoh-contoh nifaq ashghar adalah :

  1. Berdusta dengan sengaja saat berbicara (HR Muttafaq ’Alaih)
  2. Berjanji, namun dalam hatinya telah berniat untuk tidak menepatinya (HR Muttafaq ’Alaih)
  3. Sengaja melakukan pelanggaran saat berperkara, seperti menolak kebenaran, berdalih dengan kebatilan dan kedustaan, padahal dia tahu hakikat masalahnya (HR Muttafaq ’Alaih)
  4. Mengambil dan menerima amanat dengan menyimpan niat sejak awal untuk berkhianat (HR Muttafaq ’Alaih)
  5. Riya’ dalam melakukan amal-amal  shalih (HR Ahmad)
  6. Tidak memiliki dan menyimpan niat jihad (HR Muslim)
  7. Menampakkan kecintaan pada seseorang, padahal sebenarnya ia menyimpan kebencian terhadapnya (HR Bukhari dan Ahmad)
  8. Membenci sahabat Anshar secara khusus (HR Muttafaq ’Alaih) dan para shahabat seluruhnya secara umum.
  9. Dan sebagainya.

 

Perbedaan-perbedaan antara yang Akbar (Besar) dan yang Ashghar (Kecil) dari Syirik, Kufur, dan Nifaq :

  1. Yang akbar menyebabkan pelakunya dihukumi kafir, murtad, dan keluar dari Islam dengan segala konsekuensinya. Dan tidak demikian dengan pelaku yang ashghar (QS Al-Baqarah : 221).
  2. Pelaku yang akbar jika tidak bertaubat sampai meninggal, maka tertutuplah peluang ampunan baginya. Dan tidak demikian dengan pelaku yang ashghar (QS An-Nisa’ : 48, 116, & 145).
  3. Yang akbar menggugurkan seluruh amal pelakunya dan menjadikannya sia-sia belaka (QS Al-Furqan : 23, QS Az-Zumar : 65). Dan tidak demikian dengan yang ashghar.
  4. Pelaku yang akbar diharamkan masuk Surga dan akan kekal di Neraka selama-lamanya. Dan tidak demikian dengan pelaku yang ashghar (QS Al-Maidah : 72).
  5. Yang akbar mewajibkan terjadinya bara’ (permusuhan) penuh secara mutlak terhadap pelakunya. Dan tidak demikian dengan pelaku yang ashghar (QS Al-Mumtahanah : 4).

 

Catatan : Jangan pernah menganggap remeh dan kecil hal-hal yang masuk dalam kategori syirik, kufur, dan nifaq ashghar, karena terpengaruh oleh sebutan kecil (ashghar) tersebut. Karena, sekecil-kecilnya syirik kecil, kufur kecil, dan nifaq kecil, tetap termasuk kategori dosa-dosa besar.

SUBHANALLOH KEINDAHAN BAWAH LAUT….


Stunning Photos of the Underwater Life

Urticina eques (sea anemone)

14Stunning Photos of the Underwater Life

Cyanea capillata (lion mane’s jellyfish)

15Stunning Photos of the Underwater Life

Coral

16Stunning Photos of the Underwater Life

Asterina pectinifera (starfish)

17Stunning Photos of the Underwater Life

Aurelia aurita sun (jellyfish)

18Stunning Photos of the Underwater Life

Apostichopus japonicus (sea cucumber)

19Stunning Photos of the Underwater Life

Cyanea (jellyfish)

20Stunning Photos of the Underwater Life

Taeniura lymma (bluespotted ribbontail ray)

21Stunning Photos of the Underwater Life

Cyanea capillata with Navaga

22Stunning Photos of the Underwater Life

Arothron hispidus (White-spotted puffer)

23Stunning Photos of the Underwater Life

Lysastrosoma anthosticta

24Stunning Photos of the Underwater Life

Octopus

25Stunning Photos of the Underwater Life

Cyanea capillata (lion’s mane jellyfish)

26Stunning Photos of the Underwater Life

Risbecia pulchella (sea slug)

27Stunning Photos of the Underwater Life

Aurelia noir

28Stunning Photos of the Underwater Life

Cyanea capillata (lion’s mane jellyfish)

29Stunning Photos of the Underwater Life

Reef

30Stunning Photos of the Underwater Life
31Stunning Photos of the Underwater Life



These underwater sea creatures are both unusual and beautiful. It is hard to imagine that something so incredible could live and thrive underwater. Some have names you won’t be able to pronounce and some are very common.

 

Jellyfish

1Life Underwater

This Christmas tree worm

2Life Underwater

Weddell seal

3Life Underwater

Chrysaora fuscescens

4Life Underwater

The vampire squid

5Life Underwater

Coral

6Life Underwater

This physonect siphonophore

7Life Underwater

Crab

8Life Underwater

Anemone

9Life Underwater
10Life Underwater

Snail

11Life Underwater

Snail

12Life Underwater

Squidworm

13Life Underwater

Star

14Life Underwater

Nereocystis

15Life Underwater

Hyperoche

16Life Underwater

Venus flytrap anemone

17Life Underwater

Jellyfish

18Life Underwater

Phycodurus eque

19Life Underwater

Enypniastes

20Life Underwater

Halgerda terramtuentis

21Life Underwater

Jellyfish

22Life Underwater


SIAPA KITA?APA TUJUAN KITA DICIPTAKAN?


“Siapakah kita? Dan Apa Tugas dan Tujuan Hidup kita di Dunia ini???”

(Prolog) : Aaah gag usah sok muslim dech km, baru anak kemarin sudah sok menasehati!!!
Urus diri km sendiri gak usah dech km campurin hidup ku deng…an sok menasehati Hidupku. Hidup, hidup ku , Diri, diri ku sendiri, jadi urusin dech hidupmu sendiri. Hay hidup ini mudah dan indah. Kecil dimanja, Muda foya-foya. Tua,kaya raya. Mati, masuk surga…

***
weeww jLebb Deggg !!! sedih rasanya ketika aku mendengar semua kata-kata itu, hmmm mungkin itulah bahan candaan anak muda jaman sekarang, yaa aku tahu mungkin itu hanya sebuah candaan, tapi terkadang ada juga yang mempunyai prinsip seperti itu.
Hmm tahu kah kalian sahabatku yang aku sayangi hidup ini memang indah namun dibalik semua keindahan tak ada yang abadi kita semua tahu itu, namun hanya keindahan alam akhirat sajalah yang akan abadi, …
sekarang mari aku beritahu
Siapakah kita? Serta Tugas dan Tujuan Hidup kita di Dunia ini..!!!
“Dia Telah menciptakan manusia dari mani, tiba-tiba ia menjadi pembantah yang nyata” (QS.16:4)
“Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim)”. (QS.23:13)
Dia menciptakan kamu dari seorang diri Kemudian dia jadikan daripadanya isterinya dan dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. tidak ada Tuhan selain Dia; Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?
“ Tiga kegelapanitu ialah kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim.” (QS.39:6)
“Kemudian kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim)“. (QS.77:21)
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.3:6)
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS.16:78)
”Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS.32:9)

“Katakanlah: “Dia-lah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”(QS.67:23)
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat.” (QS.76:2)
Tahukah kalian, berapa lama kita dikandung ibunda kita?? Sampai kita dilahirkan? Masihkah kita durhaka pada ibunda dan ayahanda kita??
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadakudengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS.46:15)

Sehingga memang benarlah jika Allah mewajibkan kita berbuat baik(birrul walidain) pada kedua orang tua kita, berkata ‘ah’ saja pada keduanya, kita tidak dibenarkan, apalagi sampai melebihi itu?? Sungguh itu perbuatan durhaka.

Lalu, masihkan kita tidak tahu siapakah kita ini sebenarnya??? Siapakah Tuhan kita?? Masihkah kita tidak tahu akan semua ini?? Dimana mata, hati dan pendengaranmu wahai manusia??

Baiklah kita lanjutkan kalau begitu,

Sungguh Dialah yang menciptakan kita dari tanah, sebagaimana dalam firmanNya:
“Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah Dia”. (QS.3:59)
Dialah Tuhan yang telah menciptakan kita dari tanah dan Dia pulalalah yang telah menetapkan ajal (kematian) kita hidup didunia ini, sebagaimana dalam firmanNya:
“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang dia sendirilah mengetahuinya), Kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (QS.6:2)
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,” (QS.15:28)

Oleh karena itu, sepatutnya kita tunduk dan patuh kepadaNya
“Maka apabila Aku Telah menyempurnakan kejadiannya, dan Telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS.15:29)

Masihkah kita akan berpaling dariNya, Tuhan yang telah menciptakan kita??
Kawannya (yang mukmin) Berkata kepadanya – sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes air mani, lalu dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? (QS.18:37)

Yaa ayyuhal ikhwah, masihkah kita meragukan kekuasaanNya? Ingatlah akan hari berbangkit kelak, dimana kita dikumpulkan dipadang mahsyar, tanpa alas kaki, tanpa selembar kainpun yang menempel pada tubuh kita, matahari berada sejengkal diatas ubun-ubun kita, wajah-wajah penuh kebingungan pada waktu itu, tiada yang sempat memikirkan seorang pada yang lainnya, semuanya saling mencemaskan akan dirinya sendiri, lalu diberikanlah kitab amal kita, ada yang diberikan dari tangan kanan dan adapula yang dari tangan kiri, berbahagialah yang mendapatkannya dengan tangan kanan, dan sungguh celakalah orang yang mendapatkannya dari tangan kiri, tak terpikirkankah kita akan semua itu???
“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), Maka (ketahuilah) Sesungguhnya kami Telah menjadikan kamu dari tanah, Kemudian dari setetes mani, Kemudian dari segumpal darah, Kemudian dari segumpal daging yang Sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, Kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, Kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya Telah diketahuinya. dan kamu lihat bumi Ini kering, Kemudian apabila Telah kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS.22:5)

Renungkanlah semua ini wahai saudaraku, kekuasaan Allah, yang telah menciptkan kita itu nyata, renungkanlah ayat ini:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, Kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak.” (QS.30:20)

Tidakkah kita memahami semua ini? Memahami akan kuasaNya atas penciptaan kita??
subhanaKa…yaa Rabb.
“Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, Kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, Kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), Kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya)”. (QS.40:67)

Tidak ada yang pantas untuk kita sombongkan akan diri ini, kita hanyalah dari tanah, tak lebih seperti sebuah termbikar…lalu apa yang membuat kita menyombongkan diri wahai saudaraku…?
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,” (QS.55:14)
Sudah pahamkah siapa diri kita ini sebenarnya? Siapa yang telah menciptakan kita wahai saudaraku?

Kalau sudah paham, sekarang kita bahas untuk apa kita diciptakanNya? Apa tugas kita? Apa tujuan kita hidup didunia ini?
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang Telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,”(QS.2:21)
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.2:30)

Apakah kalian mengira disamping Allah ada Tuhan lain??? Siapakah yang memperkenankan doa kita saat kesulitan? Yang menghilangkan kesusahan kita? Adakah Tuhan yang lain selain Allaah?
“Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).” (QS.27:62)

Sahabatku Ibnu Jauzi, Said Al-Khatiri berkata : “Nasehat itu bagaikan cambukan, cambukan tidak lagi terasa sakit ketika telah berlalu, sakitnya cambukan terasa, ketika sedang dicambuk (dinasehati)”.
Sahabatku Namun nasehat haruslah terus disampaikan karena setiap muslim pasti menginginkan kebaikan bagi saudaranya sebagaimana dia pun telah mendapatkan kebaikan.
Sahabatku Rasulullah kita pernah memberi nasihat pada seorang pemuda yaitu Ibnu ‘Umar. “Hiduplah engkau di dunia seakan-akan engkau adalah orang asing atau bahkan seorang pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416).
Sahabatku, negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan di sini adalah dunia, sedangkan negeri tujuannya adalah akhirat. yang namanya orang asing adalah orang yang tidak memiliki tempat tinggal dan tempat berbaring, namun dia dapat mampir sementara di negeri asing tersebut. Lalu dalam hadits di atas dimisalkan lagi dengan pengembara. Seorang pengembara tidaklah mampir untuk istirahat di suatu tempat kecuali hanya sekejap mata. Di kanan kirinya juga akan dijumpai banyak rintangan, akan melewati lembah, akan melewati tempat yang membahayakan, akan melewati teriknya padang pasir dan mungkin akan bertemu dengan banyak perampok. Itulah permisalan yang dibuat oleh nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hidup di dunia itu hanya sementara sekali, bahkan akan terasa hanya sekejap mata. Renungkanlah hadist ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidaklah mencintai dunia dan tidak pula mengharap-harap darinya. Adapun aku tinggal di dunia hanyalah seperti pengendara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud).
Hidup di dunia sungguh sangat singkat. Semoga kita bisa merenungkan hal ini.
Sahabatku… ingatlah akhirat di hadapanmu Semoga hatimu terenyuh dengan nasehat Ali bin Abi Tholib berikut. Ali berkata, “(Ketahuilah) dunia itu akan ditinggalkan di belakang. Sedangkan akhirat akan ditemui di depan. Dunia dan akhirat tersebut memiliki bawahan. Jadilah budak akhirat dan janganlah jadi budak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan. Sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan dan bukanlah hari beramal lagi.” ingatlah akhiratmu. Ingatlah kematian dapat menghampirimu setiap saat dan engkau tidak dapat menghindarinya. Janganlah terlalu panjang angan-angan. Siapkanlah bekalmu dengan amal sholeh di dunia sebagai bekalmu nanti di negeri akhirat. Perbaikilah aqidahmu, jauhilah syirik, jagalah shalatmu janganlah sampai bolong, tutuplah auratmu dengan sempurna janganlah sampai mengumbarnya, dan berbaktilah pada kedua orang tuamu dengan baik. Semoga Allah memberi taufik padamu. Semoga kita dapat dikumpulkan bersama para Nabi, Shidiqin, Syuhada, dan Sholihin.

Sekarang siapakah Tuhan kita itu? Sudah kah kita mengenalNya dengan baik? Apa sifat-sifatNya? Apa nama-nama baikNya (Asmaul Husna).

“Katakanlah: Dia-lah Allah, yang Maha Esa.” (QS.112:1)
“Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”. (QS.112:2)
“Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,” (QS.112:3)
”Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS.112:4)

Dan Dialah Allah, Rabbuna, yang telah menciptkan kita semua, tiada lain hanya agar kita mengabdi kepadaNya,
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS.51:56)

Tak sepatutnya atas semua nikmat Allah yang telah diberi ini, kita lupa akan hakikat penciptaan kita, apalagi kita kufur kepadaNya, semoga kita semua termasuk dalam hambaNya yang pandai bersyukur, hamba yang takwa padaNya, hamba yang selalu dalam keridhaanNya. Allaahumma aamiin..
Jika ada salah kata itu dari diri Azzam sendiri, dan kebenaran itu datangnya dari Allah swt.
Apa yang ada pada kita hari ini, haruslah kita syukuri, banyak diantara saudara kita yang lebih dibawah kita keadaannya, janganlah menjadi hamba yang tidak pandai bersyukur, sekecil apapun,sebentuk apapun itu pemberianNya, syukurilah, dengan begitu semoga Allah akan menambah dengan pemberian yang jauh lebih baik lagi yaa ikhwah.

Satu hal, hidup didunia ini jangan pernah merasa aman dan selamat dari murka Allah, meski kita saat ini bersama-sama para ulama, lingkungan kita sangat mendukung keimanan kita, saudara-saudara kita shalih, kita sering mengaji, banyak sedekah, sering infaq, melakukan kenbaikan yang banyak, tapi siapa yang menjamin semua itu akan bisa menyelamatkan kita? Siapa yang menjamin amal-amal kita pada hari ini diterima semua olehNya? Janganlah lena akan keadaan hidup kita saat ini.

Semoga kita semua selamat dari hidup didunia ini, dan kelak dikembalikan disurgaNya. Allahumma aaamiin..

Cinta kepada Alloh (MAHABATULLOH)


Sewaktu masih kecil Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertaya kepada ayahnya, Sayidina Ali ra: “Apakah engkau mencintai Allah?” Ali ra menjawab, “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” Ali ra kembali menjawab, “Ya”. Husain bertanya lagi: “Apakah engkau mencintai Ibuku?” Lagi-lagi Ali menjawab,”Ya”. Husain kecil kembali bertanya: “Apakah engkau mencintaiku?” Ali menjawab, “Ya”. Terakhir Si Husain yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku, pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kekek dari ibumu (Nabi Saw.), ibumu (Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah kerena cinta kepada Allah”. Karena sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah Swt. Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu Husain jadi tersenyum mengerti.
Seorang sufi wanita terkenal dari Bahsrah, Rabi’ah Al- Adawiyah (w. 165H) ketika berziarah ke makam Rasul Saw. pernah mengatakan: “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah Swt”. Tentang cinta itu sendiri Rabiah mengajarkan bahwa cinta itu harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabiah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasulullah Saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah Swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai apa apa yang di cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa: “Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin.”
Selanjutnya Rabiah -yang sangat terpandang sebagai wali Allah karena kesalehannya- mengembangkan konsep cinta yang menurut hematnya harus mengikuti aspek kerelaan (ridha), kerinduan (syauq), dan keakraban (uns). Selain itu ia mengajarkan bahwa cinta kepada Tuhan harus mengesampingkan dari cinta-cinta yang lain dan harus bersih dari kepentingan pribadi (dis-interested). Cinta kepada Allah tidak boleh mengharapkan pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha melaksanakan kehendak Allah, dan melakukan apa yang bisa menyenangkan-Nya, sehingga Ia kita agungkan. Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahannya yang sempurna. Rumusan cinta Rabiah dapat di simak dalam doa mistiknya: “Oh Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut akan api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu karena berharap surga, maka campakanlah aku dari sana; Tapi jika aku menyembahmu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.”
Dalam kitab Al-Mahabbah, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa cinta kepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki derajad/level yang tinggi. “(Allah) mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” (QS. 5: 54). Dalam tasawuf, setelah di raihnya maqam mahabbah ini tidak ada lagi maqam yang lain kecuali buah dari mahabbah itu sendiri. Pengantar-pengantar spiritual seperti sabar, taubat, zuhud, dan lain lain nantinya akan berujung pada mahabatullah (cinta kepada Allah).
Menurut Sang Hujjatul Islam ini kata mahabbah berasal dari kata hubb yang sebenarnya mempunyai asal kata habb yang mengandung arti biji atau inti. Sebagian sufi mengatakan bahwa hubb adalah awal sekaligus akhir dari sebuah perjalanan keberagamaan kita. Kadang kadang kita berbeda dalam menjalankan syariat karena mazhab/aliran. Cinta kepada Allah -yang merupakan inti ajaran tasawuf- adalah kekuatan yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan itu.
Bayazid Bustami sering mengatakan: “Cinta adalah melepaskan apa yang dimiliki seseorang kepada Kekasih (Allah) meskipun ia besar; dan menganggap besar apa yang di peroleh kekasih, meskipun itu sedikit.” Kata-kata arif dari sufi pencetus doktrin fana’ ini dapat kita artikan bahwa ciri-ciri seorang yang mencintai Allah pertama adalah rela berkorban sebesar apapun demi kekasih. Cinta memang identik dengan pengorbanan, bahkan dengan mengorbankan jiwa dan raga sekalipun. Hal ini sudah di buktikan oleh Nabi Muhammad Saw., waktu ditawari kedudukan mulia oleh pemuka Quraisy asalkan mau berhenti berdakwah. Dengan kobaran cintanya yang menyala-nyala pada Allah Swt., Rasulullah mengatakan kepada pamannya: “Wahai pamanku, demi Allah seandainya matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku supaya aku berhenti meninggalkan tugasku ini, maka aku tidak mungkin meninggalkannya sampai agama Allah menang atau aku yang binasa”. Ciri kedua dari pecinta adalah selalu bersyukur dan menerima terhadap apa- apa yang di berikan Allah. Bahkan ia akan selalu ridha terhadap Allah walaupun cobaan berat menimpanya.
Jiwa para pecinta rindu untuk berjumpa dan memandang wajah Allah yang Maha Agung.. “Orang orang yang yakin bahwa mereka akan bertemu dengan Tuhan mereka “‘(QS. 2: 46). Tentang kerinduan para pecinta terhadap Allah Swt., sufi besar Jalaluddin Rumi menggambarkan dalam matsnawi sebagai kerinduan manusia pada pengalaman mistikal primordial di hari “alastu” sebagai kerinduan seruling untuk bersatu kembali pada rumpun bambu yang merupakan asal muasal ia tercipta. Hidup di dunia merupakan perpisahan yang sangat pilu bagi para pecinta, mereka rindu sekali kepada Rabbnya seperti seseorang yang merindukan kampung halamannya sendiri, yang merupakan asal-usulnya. Jiwa para pecinta selalu dipenuhi keinginan untuk melihat Allah Swt. dan itu merupakan cita-cita hidupnya. Menurut Al-Ghazali makhluk yang paling bahagia di akhirat adalah yang paling kuat kecintaannya kepada Allah Swt. Menurutnya, ar-ru’yah (melihat Allah).merupakan puncak kebaikan dan kesenangan. Bahkan kenikmatan surga tidak ada artinya dengan kenikmatan kenikmatan perjumpaan dengan Allah Swt. Meminta surga tanpa mengharap perjumpaan dengan-Nya merupakan tindakan “bodoh” dalam terminologi sufi dan mukmin pecinta.
“Shalat adalah mi’rajnya orang beriman” begitulah bunyi sabda Nabi Saw. untuk menisbatkan kualitas shalat bagi para pecinta. Shalat merupakan puncak pengalaman ruhani di mana ruh para pecinta akan naik ke sidratul muntaha, tempat tertinggi di mana Rasulullah di undang langsung untuk bertemu dengan-Nya. Seorang Aqwiya (orang-orang yang kuat kecintaannya pada Tuhan) akan menjalankan shalat sebagai media untuk melepaskan rindu mereka kepada Rabbnya, sehingga mereka senang sekali menjalankannya dan menanti-nanti saat shalat untuk waktu berikutnya, bukannya sebagai tugas atau kewajiban yang sifatnya memaksa. Ali bin Abi Thalib ra pernah berkata: “Ada hamba yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya budak, dan ada sekelompok hamba yang beribadah karena cinta kepada Allah Swt, itulah ibadahnya orang mukmin”. Seorang pecinta akan berhias wangi dan rapi dalam shalatnya, melebihi saat pertemuan dengan orang yang paling ia sukai sekalipun. Bahkan mereka kerap kali menangis dalam shalatnya. Kucuran air mata para pecinta itu merupakan bentuk ungkapan kerinduan dan kebahagiaan saat berjumpa dengan-Nya dalam sholatnya.
Mencintai Allah Swt. bisa di pelajari lewat tanda-tanda-Nya yang tersebar di seluruh ufuk alam semesta. Pada saat yang sama, pemahaman dan kecintaan kepada Allah ini kita manifestasikan ke bentuk yang lebih nyata dengan amal saleh dan akhlakul karimah yang berorientasi dalam segenap aspek kehidupan.
Ada sebuah cerita, seorang sufi besar bernama Abu Bein Azim terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang Malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu Bein bertanya: “Apa yang sedang anda kerjakan?” Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan. Abu Bein ingin sekali namanya tercantum. Dengan cemas ia melongok daftar itu, tapi kemudian ia gigit jari, namanya tidak tercantum di situ. Ia pun bergumam: “Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia”. Esok harinya ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi. Abu Bein terkejut karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun protes: “Aku bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia”. Malaikat itu berkata: “Baru saja Tuhan berkata kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia”.
Mencintai Allah bukan sebatas ibadah vertikal saja (mahdhah), tapi lebih dari itu ia meliputi segala hal termasuk muamalah. Keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas ini pernah di tekankan oleh Nabi Saw. dalam sebuah hadits qudsi: “Aku tidak menjadikan Ibrahim sebagai kekasih (khalil), melainkan karena ia memberi makan fakir miskin dan shalat ketika orang-orang terlelap tidur”. Jadi cinta kepada Allah pun bisa diterjemahkan ke dalam cinta kemanusiaan yang lebih konkrit, misalnya bersikap dermawan dan memberi makan fakir miskin. Sikap dermawan inilah yang dalam sejarah telah di contohkan oleh Abu bakar, Abdurahman bin Auf, dan sebagainya. Bahkan karena cintanya yang besar kepada Allah mereka memberikan sebagian besar hartanya dan hanya menyisakan sedikit saja untuk dirinya. Mencintai Allah berarti menyayangi anak-anak yatim, membantu saudara saudara kita yang di timpa bencana, serta memberi sumbangan kepada kaum dhuafa dan orang lemah yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw. pernah bersabda ketika ditanya sahabatnya tentang kekasih Allah (waliyullah). Jawab beliau: “Mereka adalah kaum yang saling mencintai karena Allah, dengan ruh Allah, bukan atas dasar pertalian kerluarga antara sesama mereka dan tidak pula karena harta yang mereka saling beri.” Menurut Nurcholish Madjid, yang di tekankan dalam sabda Nabi tersebut adalah perasaan cinta kasih antar sesama atas dasar ketulusan, semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

sumber :

http://www.uii.ac.id

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 114 pengikut lainnya.