KEWAJIBAN SUAMI ATAS ISTRI



1. Kewajiban Materiil

a. Mahar ( QS. 4 : 4 )

Artinya : Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS. An-Nisa’ : 4

b. Nafkah ( QS. 2 : 233 )

Artinya : Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 233)

2. Kewajiban Immateriil

a. Memberikan pelayanan dan menggaulinya dengan baik, Allah berfirman :

Artinya : “ Bergaullah dengan mereka ( istri-istrimu ) dengan baik, kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, ( maka bersabarlah ) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak “ ( QS. 4 : 19 )

Rasulullah saw bersabda :

أكمل المؤمنين ايمانا أحسنهم خلقا و خياركم خياركم لنسائهم

Artinya : “ Mukmin yang paling sempurna imanya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap istrinya “ ( HR. Ahmad dan Tirmidzi )

Dengan senantiasa berupaya membuat suasana yang menyenangkan istri, diantaranya dengan cara :

1). Memperhatikan penampilan diri

2). Bermuka manis

3). Lemah lembut

4). Membantu pekerjaan rumah

5). Bersenda gurau

6). Menghargai hasil kerja istri, dll.

b. Menjaga kemuliaan dan kehormatannya

Dengan melarangnya untuk berhias bila keluar dan melarangnya untuk keluar rumah kecuali untuk keperluan yang syar’i.

Sabda Rasulullah saw :

أيما امرأة استعطرت فخرجت فمرت علي قوم ليجدوا ريحها فهي زانية

Artinya : “ Kalau ada seorang wanita yang memakai minyak wangi, kemudian keluar rumah dan melewati kaum laki-laki agar mereka mencium baunya, maka wanita tersebut adalah pezina “ ( HR. Hakim )

b. Mencampurinya disaat suci, firman Allah swt :

Artinya : “ Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu “ ( QS. 2 : 222

c. Menjaganya dari siksa api neraka, dengan mengajarinya hukum-hukum agamanya, firman Allah swt :

Artinya : “ Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu “ ( QS. 66 : 6 )

d. Mengizikannya keluar rumah untuk keperluan-keperluan yang syar’i, sabda Rasulullah saw :

اذا استأذنكم نساؤكم بالليل الي المسجد فأذنوا لهن

Artinya : “ Apabila istri-istri kalian meminta izin dimalam hari untuk pergi ke masjid, maka izinkanlah “ ( HR. Bukhori dan Muslim )

e. Adil terhadap istri-istrinya, firman Allah :

Artinya : “ Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka nikahilah seorang saja “ ( QS. 4 : 3 )

f. Tidak membuka rahasianya dan celanya, bersabda Rasulullah saw :

ان شر الناس عند الله منزلة يوم القيامة الرجل يفضي الي المرأة و تفضي

اليه ثم ينشر سرها

Artinya : “ Sejahat-jahat manusia di sisi Allah nanti di hari kiamat ialah seorang laki-laki yang berhubungan dengan istri kemudian menceriterakan tentang rahasianya “ ( HR. Ahmad )

Ditulis Oleh : Ust. H. Agung Cahyadi, MA. (Materi dalam program Islamic Short Course Menengah, Pusda YDSF 2008)

DOA-DOA HARIAN


Doa Sebelum Tidur Doa Ketika Bangun Tidur
Doa Ketika Memakai Pakaian Doa Ketika Membuka Pakaian
Doa Keluar Rumah Doa Ketika Masuk Rumah
Doa Ketika Masuk Tandas Doa Ketika Keluar Tandas
Doa Apabila Mendapat Berita Gembira Doa Untuk Menghilangkan Rasa Marah
Doa Ketika Melihat Diri Di Cermin Doa Ketika Melihat Barang Yang Disukai
Doa Ketika Menghadapi Kesusahan Tidur Doa Ketika Berasa Takut Atau Terkejut
Doa Ketika Menghadapi Kecelakaan Doa Ketika Sukar Menyelesaikan Sesuatu Masalah
Doa Ketika Mendengar Kematian Atau Kemalangan Doa Ketika Hendak Makan
Doa Ketika Terlupa Membaca Doa Makan Doa Selepas Makan
Doa Ketika Mengambil Wuduk Doa Ketika MenuntutI lmu
Doa Menghindar Dari Azab Api Neraka Doa Para Rasul dan Mukmin
Doa Penerang Hati Doa Ketika Kehilangan Barang
Doa Menghindari Sifat Malas Doa Memohon Kesabaran
Doa Orang Yang Sedang Sakit Doa Mohon Ketetapkan Iman
Doa Taubat Doa Apabila Melihat Hujan
Doa Apabila Mendengar Guruh Doa Di Waktu Pagi Dan Petang

Doa Sebelum Tidur
Doa Ketika Bangun Tidur
Doa Ketika Memakai Pakaian
Doa Ketika Membuka Pakaian
Doa Keluar Rumah
Doa Ketika Masuk Rumah
Doa Ketika Masuk Tandas
Doa Ketika Keluar Tandas
Doa Apabila Mendapat Berita Gembira
Doa Untuk Menghilangkan Rasa Marah
Doa Ketika Melihat Diri Di Cermin
Doa Ketika Melihat Barang Yang Disukai
Doa Ketika Menghadapi Kesusahan Tidur
Doa Ketika Berasa Takut Atau Terkejut
Doa Ketika Menghadapi Kecelakaan
Doa Ketika Sukar Menyelesaikan Sesuatu Masalah
Doa Ketika Mendengar Kematian Atau Kemalangan
Doa Ketika Hendak Makan
Doa Ketika Terlupa Membaca Doa Makan
Doa Selepas Makan
Doa Ketika Mengambil Wuduk
Doa Ketika Menuntut Ilmu
Doa Menghindar Dari Azab Api Neraka
Doa Para Rasul dan Mukmin
Doa Penerang Hati
Doa Ketika Kehilangan Barang
Doa Menghindari Sifat Malas
Doa Memohon Kesabaran
Doa Orang Yang Sedang Sakit
Doa Mohon Ketetapkan Iman
Doa Taubat
Doa Apabila Melihat Hujan
Doa Apabila Mendengar Guruh
Doa Di Waktu Pagi Dan Petang


DOA HAMBA


للهــــم آميـــــن

للهــــم آميـــــن by ukhti27.

بسم الله الرحمان الرحيم والحمد لله رب العالمين
والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه و من ولاه

” Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah Cahaya kami, dan ampuni kami dan Engkau Maha Berkuasa atas Segala Sesuatu, Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah Cahaya kami, dan ampuni kami dan Engkau Maha Berkuasa atas Segala Sesuatu, Wahai Tuhan kami, sempurnakanlah Cahaya kami, dan ampuni kami dan Engkau Maha Berkuasa atas Segala Sesuatu…

Demi KekasihMU Muhammad, aku bersumpah padaMU, agar Engkau jadikan kami dari golongan yang beriman dan beramal Shalih, dan yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, dan agar Engkau angkat musibah dari penduduk wilayah ini dan seluruh wilayah Muslimin, dan agar Engkau pindahkan keadaan Muslimin pada keadaan yang seindah-indah nya…

Dan agar Engkau berikan bagi kami Husnul Khatimah saat kematian, dan agar Engkau jadikan akhir dari ucapan kami di dunia ini adalah لا إله إلا الله, dan agar Engkau masukkan kami pada kubur kami dengan Cahaya لا إله إلا الله, dan agar Engkau kumpulkan kami di hari Kiamat dengan golongan yang sempurna dalam لا إله إلا الله, dan agar Engkau benamkan kami dan Engkau penuhi kami dengan Cahaya dan Hakikat لا إله إلا الله, dan pada segala permohonan ini dan segala yang tidak kami ketahui dan dalam tirai selubung PengetahuanMU Ya الله..

Maka kami semua berMunajat kepadaMU, dan kami semua Mengemis kepadaMU, agar Engkau muliakan kami dengan itu semua Ya الله, Maka kami semua berucap :

– Munajat al-`Allamah al-Hafiz al-Musnid al-Habib Umar ibn Hafiz حفظه الله تعالى

اللهم اصلح احوال المسلمين فى فلسطين و فى كل مكان يا ذا الجلال و الاكرام

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار
وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين

بارك الله فيكم والله تعالى أعلم بالصواب يا الله يا الله … Janganlah seorang pun meninggalkan majlis ini kecuali sudah terampuni dosa nya, tertutup segala `aib nya, Shalih hati nya, terlimpahkan permintaan nya, terjaga sisa usia nya, berakhir dengan keBaikan, Wahai Yang Maha Lebih Mengasihani dari semua pemilik sifat kasih sayang…”


Ma, Tuhan Berada dimana Sich?


Ma, Tuhan Berada dimana Sich?

[WHERE-IS-GOD-FRONT.jpg]

(Mengenalkan Esensi Tuhan kepada Anak)

Dan Dia bersama Kalian dimanapun kalian berada” (QS al-Hadid : 4)

Katakan (wahai Muhamad): Tuhan itu Esa.” (QS al-Ikhlas : 1)

http://dasmit.files.wordpress.com/2008/03/allah-swt.jpg

Rasa ingin tahu (hubbul istithla’) adalah merupakan salah satu fitrah manusia. Artinya manusia terlahir dengan memiliki salah satu ciri khas fitrah tersebut. Rasa ingin tahu akan sekelilinganya dan segala sesuatu yang dilihatnya. Rasa ingin tahu tersebut akan mencapai puncaknya sewaktu masa kanak-kanak. Hal ini wajar dikarenakan rasa ingin tahu mereka akan hal-hal yang baru bagi mereka. Kadang orang tua merasa capek mengahadapi pertanyaan yang dilontarkan anak-anak kepadanya. Sebaiknya dan hendaknya orang tua tidak memarahi ataupun melarang anaknya untuk bertanya, karena jika demikian sama artinya dengan membunuh potensi dan kreatifitas yang terdapat pada anak-anak yang harus terus dikembangkan.

Anak-anak pada usia ini kadang-kadang menanyakan hal-hal yang tidak diduga oleh orang tuanya. Lantas apa yang harus dilakukan oleh orang tua ketika menghadapi berbagai pertanyaan anak-anaknya, apakah anak harus dimarahi ataukah memberikan jawaban asal-asalan kepadanya, ataukah dibiarkan saja begitu saja? Kalau kita merujuk akal pikiran kita maka ketiga langkah tersebut semuanya adalah salah. Kita biasa melihat sebagian orang tua yang ketika anak bertanya ia langsung berkata: “Huss, jangan banyak tanya, diam kamu!”.

Orang tua hendaknya berusaha menjawab pertanyaan anak dengan bahasa yang dipahami mereka. Sebagaimana yang dijelaskan dalam ilmu psikologi pada usia kanak-kanak mereka lebih cepat memahami hal-hal yang bersifat inderawi. Berdasarkan hal ini, ketika anak kami bertanya: “Mama Allah ada di mana?”, kami jawab: “Ada di mana-mana”. Ketika ia mendengar jawaban kami secara spontan ia bertanya kembali: “Berarti kalau gitu Tuhan itu banyak dong, khan katanya ada di mana-mana?!”, ujarnya dengan penuh percaya diri. Kembali saya menjawab: “Benar Tuhan ada di mana-mana, akan tetapi tetap satu”, jelas saya.

Anak kami masih bingung ketika mendengar jawaban yang kami berikan kepadanya. Dan dari raut wajahnya masih terlihat rasa penasaran, ia masih berpikir bagaimana bisa, ‘ada di mana-mana tapi satu’.  Sewaktu kami melihatnya dalam keadaan termenung dan masih belum puas dengan jawaban kami, dengan penuh kasih sayang dan dengan bahasa yang semudah mungkin kami kembali melontarkan pertanyaan; “Wahai putriku sayang, kamu tahu matahari ada berapa? “Ya, ada satu”, jawabnya. Kami kembali bertanya: “Apakah matahari hanya ada di tempat kamu saja, atau di tempat temanmu (yang ada di negara) lainpun ada? “Tidak, di tempat lain pun ada”. “Wahai putriku, tadi kamu katakan matahari itu hanya ada satu, tapi di manapun kamu berada iapun ada. Nah Tuhan pun seperti itu, satu tapi ada di mana-mana”.[ED]

Catatan:

Tentu, kami tidak ingin mengatakan bahwa Tuhan persis seperti matahari, ini hanya untuk pendekatan saja. Dan kita menggunakan contoh (analogi) seperti ini hanya melihat dari segi ungkapan ‘satu tapi ada di mana-mana’ sehingga anak dapat memahaminya atau dalam terminologi ilmu logika disebut dengan “Pendekatan (pemahaman) hal yang non materi (Tuhan) dengan melalui hal yang materi atau inderawi” (taqribul ma’qul bil mahsus). Yang dalam kasus ini adalah matahari. Adapun untuk pendekatan yang lain kita bisa menggunakan analogi yang lain, seperti Allah tidak bertempat, Allah meliputi semuanya…dst.

selanjutnya…….

DALIL DIMANA ALLOH?

// <![CDATA[//

allahclouds.jpg image by houten1

Mudah-mudahan penjelasan yang ringkas ini dapat memberi manfaat,sehingga merasa cukup dengan semua yang diajarkan oleh Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam dan tidak butuh kepada yang selain itu.

“…Allah bersemayam di Arsy…”

A. Dalil Sifat Istiwa’

Sifat istiwa’ adalah salah satu sifat Allah yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk diriNya dalam tujuh ayat Al-Quran, yaitu Surat Al-A’raf: 54, Yunus: 3, Ar-Ra’d: 2, Al-Furqan: 59, As-Sajdah: 4 dan Al-Hadid: 4, semuanya dengan lafazh:

ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

Artinya:

“Kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).”

Dan dalam Surat Thaha 5 dengan lafazh:

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

Artinya:

“Yang Maha Penyayang di atas ‘Arsy (singgasana) berada.”

Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam juga telah menetapkan sifat ini untuk Allah dalam beberapa hadits, diantaranya:

1. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda:

لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ -فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ- إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي

“Ketika Allah menciptakan makhluk (maksudnya menciptakan jenis makhluk), Dia menuliskan di kitab-Nya (Al-Lauh Al-Mahfuzh) – dan kitab itu bersama-Nya di atas ‘Arsy (singgasana) – : “Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Hadits Abu Hurairah rodiallahu’anhu bahwa Nabi shollallahu’alaihiwasallam memegang tangannya (Abu Hurairah) dan berkata:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، إِنَّ اللهَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرَضِيْنَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ، ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ

“Wahai Abu Hurairah, sesungguhnya Allah menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, kemudian Dia berada di atas ‘Arsy (singgasana).” (HR. An-Nasai dalam As-Sunan Al-Kubra, dishahihkan Al-Albani dalam Mukhtasharul ‘Uluw)

3. Hadits Qatadah bin An-Nu’man rodiallahu’anhu bahwa ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

لَمَّا فَرَغَ اللهُ مِنْ خَلْقِهِ اسْتَوَى عَلَى عَرْشِهِ.

“Ketika Allah selesai mencipta, Dia berada di atas ‘Arsy singgasana-Nya.” (Diriwayatkan oleh Al-Khallal dalam As-Sunnah, dishahihkan oleh Ibnul Qayyim dan Adz-Dzahabi berkata: Para perawinya tsiqah)

B. Arti Istiwa’

Lafazh istawa ‘ala (اِسْتَوَى عَلَى) dalam bahasa Arab – yang dengannya Allah menurunkan wahyu – berarti (عَلاَ وَارْتَفَعَ), yaitu berada di atas (tinggi/di ketinggian). Hal ini adalah kesepakatan salaf dan ahli bahasa. Tidak ada yang memahaminya dengan arti lain di kalangan salaf dan ahli bahasa.

Adapun ‘Arsy, secara bahasa artinya Singgasana kekuasaan. ‘Arsy adalah makhluk tertinggi. Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam bersabda:

فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Maka jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Al-Firdaus, karena sungguh ia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya singgasana Sang Maha Pengasih, dan darinya sungai-sungai surga mengalir.” (HR. Al-Bukhari)

‘Arsy juga termasuk makhluk paling besar. Allah menyifatinya dengan ‘adhim (besar) dalam Surat An-Nahl: 26. Ibnu Abbas rodiallahu’anhu berkata:

الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ ، وَالْعَرْشُ لاَ يَقْدِرُ قَدْرَهُ إِلاَّ اللهُ تعالى.

“Kursi adalah tempat kedua kaki (Allah), dan ‘Arsy (singgasana) tidak ada yang mengetahui ukurannya selain Allah Ta’ala.” (Hadits mauquf riwayat Al-Hakim dan dishahihkan Adz-Dzahabi dan Al-Albani)

Allah juga menyifatinya dengan Karim (mulia) dalam Surat Al-Mukminun: 116 dan Majid (agung) dalam Surat Al-Buruj: 15.

Dalam suatu hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dijelaskan bahwa ‘Arsy memiliki kaki, dan dalam surat Ghafir: 7 dan Al-Haaqqah: 17 disebutkan bahwa ‘Arsy dibawa oleh malaikat-malaikat Allah.

Ayat dan hadits yang menjelaskan tentang istiwa’ di atas ‘Arsy menunjukkan hal-hal berikut:

1. Penetapan sifat istiwa di atas ‘Arsy bagi Allah, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya.
2. Bahwa Dzat Allah berada di atas.

C. Beberapa Peringatan Penting

Pertama:

Istiwa’ adalah hakikat dan bukan majas. Kita bisa memahaminya dengan bahasa Arab yang dengannya wahyu diturunkan. Yang tidak kita ketahui adalah kaifiyyah (cara/bentuk) istiwa’ Allah, karena Dia tidak menjelaskannya. Ketika ditanya tentang ayat 5 Surat Thaha (الرحمن على العرش استوى), Rabi’ah bin Abdurrahman dan Malik bin Anas mengatakan:

الاِسْتِوَاءُ مَعْلُوْمٌ، وَاْلكَيْفُ مَجْهُوْلٌ، وَالإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ.

“Istiwa’ itu diketahui, kaifiyyahnya tidak diketahui, dan mengimaninya wajib.” (Al-Iqtishad fil I’tiqad, Al-Ghazali)

Kedua:

Wajib mengimani dan menetapkan sifat istiwa’ tanpa merubah (ta’wil/tahrif) pengertiannya, juga tanpa menyerupakan (tasybih/tamtsil) sifat ini dengan sifat istiwa’ makhluk.

Ketiga:

Menafsirkan istawa (اِسْتَوَى) dengan istawla (اِسْتَوْلَى) yang artinya menguasai adalah salah satu bentuk ta’wil yang bathil. Penafsiran ini tidak dikenal di kalangan generasi awal umat Islam, tidak juga di kalangan ahli bahasa Arab. Abul Hasan Al-Asy’ari menyebutkan bahwa penafsiran ini pertama kali dimunculkan oleh orang-orang Jahmiyyah dan Mu’tazilah. Mereka ingin menafikan sifat keberadaan Allah di atas langit dengan penafsiran ini. Kita tidak menafikan sifat kekuasaan bagi Allah, tapi bukan itu arti istiwa’.

Keempat:

Penerjemahan kata istawa (اِسْتَوَى) dengan “bersemayam” perlu di tinjau ulang, karena dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa bersemayam berarti duduk, tinggal, berkediaman. Padahal arti istawa bukanlah ini, sebagaimana telah dijelaskan.

Kelima:

Istiwa’ Allah di atas ‘Arsy tidak berarti bahwa Allah membutuhkannya, tapi justru ‘arsy yang membutuhkan Allah seperti makhluk-makhluk yang lain. Dengan hikmah-Nya Allah menciptakan ‘Arsy untuk istiwa’ diatasnya, dan Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun. Wallahu a’lam.

D. Faedah Mempelajari Asma dan Sifat Allah

Semoga Allah merahmati Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi yang berkata: “……Ilmu ushuluddin (pokok-pokok agama) adalah ilmu paling mulia, karena kemulian suatu ilmu tergantung pada apa yang dipelajarinya. Ia adalah Fiqih Akbar dibandingkan dengan Ilmu Fiqih furu’ (cabang-cabang agama). Karenanya Imam Abu Hanifah menamakan apa yang telah beliau ucapkan dan beliau kumpulkan dalam lembaran-lembaran berisi pokok-pokok agama sebagai “Al-Fiqhul Akbar“. Kebutuhan para hamba kepadanya melebihi semua kebutuhan, dan keterdesakan mereka kepadanya di atas semua keterdesakan, karena tiada kehidupan untuk hati, juga tidak ada kesenangan dan ketenangan, kecuali dengan mengenal Rabbnya, Sesembahan dan Penciptanya, dengan Asma’, Sifat dan Af’al (perbuatan)-Nya, dan seiring dengan itu mencintaiNya lebih dari yang lain, dan berusaha mendekatkan diri kepadaNya tanpa yang lain……”

Referensi:

1. Al-Mausu’ah Asy-Syamilah, dikeluarkan oleh Divisi Rekaman Masjid Nabawi.
2. Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafi.
3. Mudzakkirah Tauhid, Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaili.

Tambahan dari Al-Akh Abu Mushlih:

Allah Ta’ala bersemayam di atas Arsy. Di dalam ayat disebutkan Ar-Rahmaanu ‘alal ‘arsyistawaa. Secara bahasa istiwa’ itu memiliki empat makna yaitu:

1. ‘ala (tinggi)
2. Irtafa’a (terangkat)
3. Sho’uda (naik)
4. Istaqarra (menetap)

Sehingga makna Allah istiwa’ di atas ‘Arsy ialah menetap tinggi di atas ‘Arsy.

Sedangkan makna ‘Arsy secara bahasa ialah: Singgasana Raja. Adapun ‘Arsy yang dimaksud oleh ayat ialah sebuah singgasana khusus milik Allah yang memiliki pilar-pilar yang dipikul oleh para malaikat. Sebagaimana disebutkan di dalam ayat yang artinya, “Dan pada hari itu delapan malaikat memikul arsy.” Dan Allah sama sekali tidak membutuhkan ‘Arsy, tidak sebagaimana halnya seorang raja yang membutuhkan singgasananya sebagai tempat duduk.

Demikianlah yang diterangkan oleh para ulama. Satu hal yang perlu diingat pula bahwa bersemayamnya Allah tidak sama dengan bersemayamnya makhluk. Sebab Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa persis dengan Allah, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11). Oleh sebab itu, tidak sama bersemayamnya seorang raja di atas singgasananya dengan bersemayamnya Allah di atas arsy-Nya. Inilah keyakinan yang senantiasa dipegang oleh para ulama terdahulu yang shalih serta para pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat. Wallahu a’lam bish showaab (silakan baca kitab-kitab Syarah Aqidah Wasithiyah dan kitab-kitab aqidah lainnya).

***

Penulis: Ustadz Abu Bakr Anas Burhanuddin, Lc.
Artikel http://www.muslim.or.id

INGATLAH ALLOH DIMANAPUN


Berjuanglah, Mengingat Allah Dimanapun, Kapanpun dan Dalam Keadaan Bagai


Para Pencari Tuhan Sejati, Mengingat Allah dimana saja…


16 Nasehat Imam Khomeini untuk Membina Pribadi Muslim


https://i0.wp.com/www.alwilayah.net/malamai/imam/Imam.jpg

  1. Sedapat-dapatnya berpuasalah setiap hari Senin dan Kamis.
  2. Shalat lima waktu tepat pada waktunya, dan berusahalah shalat Tahajjud.
  3. Kurangilah waktu tidur, dan perbanyaklah membaca Al-Qur’an.
  4. Perhatikan dan tepatilah sungguh-sungguh janji Anda.
  5. Berinfaklah kepada fakir-miskin.
  6. Hindarilah tempat-tempat maksiat.
  7. Hindarilah tempat-tempat pesta pora, dan janganlah mengadakannya.
  8. Berpakaianlah secara sederhana.
  9. Janganlah banyak bicara dan seringlah berdo’a, khususnya hari Selasa.
  10. Berolahragalah (senam, marathon, mendaki gunung dan lain-lain).
  11. Banyak-banyaklah menelaah berbagai buku (agama, sosial, politik, sains, falsafah, sejarah, sastra dan lain-lain).
  12. Pelajarilah ilmu-ilmu tehnik yang dibutuhkan negara Islam.
  13. Pelajarilah ilmu Tajwid dan Bahasa Arab, serta perdalamlah.
  14. Lupakan pekerjaan-pekerjaan baik Anda, dan ingatlah dosa-dosa Anda yang lalu.
  15. Pandanglah fakir-miskin dari segi material, dan ulama dari segi spiritual.
  16. Ikuti perkembangan umat Islam.

Doa untuk Ibu Bapak / Orang Tua


DOA UNTUK KEDUA ORANG TUA TERCINTA by ahmadfajarqomarudin.

Sesungguhnya jasa orang tua kita tidak terhitung banyaknya. Ibu kita mengandung selama 9 bulan kemudian melahirkan kita dengan resiko nyawa melayang. Ketika kita masih bayi tak berdaya, mereka beri kita minum dan makanan. Ketika kita buang air, tanpa jijik mereka membersihkan kita dengan penuh cinta. Kita diberi pakaian dan juga pendidikan.

Mereka sabar menghadapi kemarahan kita, rengekan, kenakalan, bahkan mungkin ketika kita masih kecil/balita pernah memukul mereka. Mereka tetap mencintai kita. Jadi jika kita merasa kesal dengan mereka, apalagi jika mereka begitu tua sehingga kelakuannya kembali seperti anak-anak, ingatlah kesabaran mereka dulu ketika menghadapi kita. Bagi yang sudah memiliki anak tentu paham tentang kerewelan anak-anak yang butuh kesabaran yang sangat dari orang tua.

Adakah kita mampu membalasnya? Bahkan seandainya orang tua kita tak berdaya sehingga untuk buang air kita yang membersihkannya, itu tidak akan sama. Orang tua membersihkan kita dengan penuh cinta dan harapan agar kita selamat dan panjang umur. Sementara si anak ketika melakukan hal yang sama mungkin akan merengut dan bertanya kapan “ujian” itu akan berakhir.

Begitulah. Seperti kata pepatah, “Kasih anak sepanjang badan, kasih ibu sepanjang jalan” Tidak bisa dibandingkan.

Oleh karena itu hendaknya kita berbakti pada orang tua kita. Minimal kita mendoakan mereka:

Apabila anak Adam wafat putuslah amalnya kecuali tiga yaitu sodaqoh jariyah, pengajaran dan penyebaran ilmu yang dimanfaatkannya untuk orang lain, dan anak yang mendoakannya. (HR. Muslim)

Jika kita tidak berdoa untuk orang tua kita, maka putuslah rezeki kita:

Apabila seorang meninggalkan do’a bagi kedua orang tuanya maka akan terputus rezekinya. (HR. Ad-Dailami)

Oleh karena itu sebagai anak yang berbakti hendaknya kita senantiasa berdoa untuk ibu bapak kita. Di antara doa-doa untuk orang tua yang tercantum dalam Al Qur’an adalah sebagai berikut:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:

http://syiarislam.files.wordpress.com/2008/03/doa4.jpg

Robbirhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” [Al Israa’:24]

http://syiarislam.files.wordpress.com/2008/03/doa1.jpg

Robbanaghfir lii wa lii waalidayya wa lilmu’miniina yawma yaquumul hisaab

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” [Ibrahim:14]

http://syiarislam.files.wordpress.com/2008/03/doa5.jpg

Robbighfir lii wa li waalidayya wa li man dakhola baytiya mu’minan wa lilmu’miniina wal mu’minaati wa laa tazidizh zhoolimiina illa tabaaro

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kebinasaan.” [Nuh:28]

http://syiarislam.files.wordpress.com/2008/03/doa6.jpg

Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”

Mudah-mudahan kita bisa mengambil manfaat dari ilmu yang kita dapat dengan mengamalkannya setiap hari. Amiin.

http://media-islam.or.id/2008/03/06/doa-untuk-ibu-bapak-orang-tua

Previous Older Entries Next Newer Entries

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 126 pengikut lainnya.